Pendidikan Karakter, Membangun Mahasiswa yang Berakhlak Baik
Cari Berita

Advertisement

Pendidikan Karakter, Membangun Mahasiswa yang Berakhlak Baik

Ivan soekar
15 Mar 2017


Foto: fathin najla

DUA BELAS tahun lebih sejak reformasi bergulir, tak ada perubahan yang signifikan atas kondisi bangsa ini. Kemiskinan masih menimpa sebagian masyarakat Indonesia. Angka pengangguran menunjukkan jumlah yang meningkat tiap tahunnya. Di sana sini masih sering kita dengar berita tentang kelaparan dan balita kurang gizi.

Sementara itu, kebobrokan moral juga menimpa banyak pejabat negara kita, dari tingkat pusat hingga daerah. Dari lembaga eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Berita tentang ketidakjujuran, KKN, dan suap-menyuap di kalangan pejabat Negara tak henti-hentinya menghiasi media massa. Tiap hari kejahatan kerah putih tak kian berkurang, tetapi malah makin bertambah dengan modus-modus baru. Seakan ada saja cara dan jalan untuk mengorupsi uang Negara, menggelapkan uang rakyat.

Melihat karut-marut kondisi politik, ekonomi, dan sosial bangsa Indonesia saat ini, kita patut mempertanyakan efektivitas pendidikan yang diselenggarakan di perguruan tinggi. Kampus yang diharapakann menjadi kawah candradimuka untuk menempa calon-calon pemimpin sejati di masa depan, kini malah menjadi pabrik penghasil calon-calon koruptor.

Kampus yang sejatinya menjadi tempat pendidikan bagi calon pejuang nasib rakyat kini malah menjadi agen kapitalisme yang hanya menghamba pada pasar. Kampus pun kini hanya mengajarkan mahasiswanya bagaimana mendapatkan nilai akademik setinggi-tingginya, agar jika lulus nanti mudah terserap pasar tenaga kerja. Masalah kejujuran dipikir belakangan.

Sudah saatnya kampus menggalakkan pendidikan karakter secara kongkrit bagi mahasiswanya. Pencapaian intelektualitas dan nilai-nilai akademik harus dibarengi dengan penanaman moral dan akhlak yang bagus. Kemampuan manajerial dan sosial mahasiswa harus disertai dengan sifat-sifat jujur, ikhlas, orientasi pengabdian, dan rendah hati. Ini ditujukan agar mahasiswa tak hanya pintar secara intelektual dan sosial, namun juga memiliki integritas moral yang bagus, serta mempunyai empati dan solidaritas yang tinggi terhadap lingkungan sekelilingnya.

Pendidikan karakter yang idealnya ditanamkan sejak dini di lembaga pendidikan dasar dan menengah, seharusnya lebih ditingkatkan pada jenjang pendidikan tinggi. Sebab peserta didik di lingkungan kampus mempunyai kepentingan langsung dan praktis terhadap karakter-karakter positif, serta lebih dekat untk terjun dalam kehidupan riil di masyarakat. Dengan demikian karakter-karakter positif bagi mahasiswa merupakan keniscayaan dan kebutuhan yang mendesak.

Secara teknis, penanaman karakter positif akan lebih efektif dan mengena apabila dilakukan melalui keteladanan. Dalam hal ini pihak-pihak yang tekait dengan penyelenggaraan pedidikan di kampus harus turut ambil bagian dalam memberikan keteladanan yang baik kepada mahasiswa. Dosen, pegawai, dan mahasiswa senior harus memberikan contoh perilaku jujur, disiplin, kreatif, kritis. kepada mahasiswa junior. Dengan lingkungan yang kondusif, penyemaian karakter positif akan lebih mudah diterima dan diteladani mahasiswa baru.

Selain melalui keteladanan para sivitas akademika, pendidikan karakter bagi mahasiswa juga bisa dilakukan melalui pembangunan kultur akademik yang baik di lingkungan kampus. Dengan membiasakan diri menghindari plagiasi dalam pembuatan karya ilmiah, serta mengerjakan tugas-tugas kuliah secara jujur, berarti mahasiswa telah menanamkan karakter positif dalam dirinya.

Satu hal lagi yang merupakan media pendidikan karakter bagi mahasiswa adalah melalui integrasi pendidikan karakter tersebut ke dalam mata kuliah-mata kuliah yang diajarkan. Penanaman karakter positif seyogianya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dari bidang keilmuan yang dipelajari. Sebab sikap moral yang baik akan menjadi fondasi yang bagus atas segala bidang keahlian. Dengan demikian, apapun profesi yang ditekuni mahasiswa nantinya, jika dia memiliki integritas moral yang tangguh, dia akan memberikan dampak positif bagi diri dan masyarakatnya kelak.

Penulis : Fathin Najla
Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang