Balada Sartain si Anak Nelayan
Cari Berita

Advertisement

Balada Sartain si Anak Nelayan

11 Mar 2017


"Anakku, kamu boleh jadi polisi atau pengacara, bahkan jadi guru pun juga tidak apa-apa. Asal jangan jadi nelayan lagi seperti bapak. Bapak yakin kamu bisa jadi apapun yang kamu inginkan."

Kalimat itu sangat berkesan di lubuk hati Sartain. Si anak nelayan kecil di pesisir Bima. Sebuah kota kecil di sisi Timur Nusa Tenggara Barat. Itulah kata-kata bapaknya yang mengantarkan tidurnya di sampan kecil. Terayun-ayun, bersama ikan-ikan yang berhasil ditangkap Sanafi, sang nelayan.
**
Ya itulah Sanafi, sang nelayan kecil, julukan warga setempat atas pekerjaan sehar-hari yang ditekuninya. Sanafi, hidup damai bersama istrinya, Latifa dan anak tunggalnya Sartain Gaffar, Mereka tinggal di sebuah desa pesisir, tepatnya di desa Sangiang di sebuah rumah kecil beratapkan alang-alang.  Mereka hanya tinggal bertiga. Rumah itu lebih tepat disebut gubuk. Sangat sederhana namun mengayomi keluarga yang bahagia. Keluarga nelayan.

Sartain, anak lelaki Sanafi dan Latifa memang anak tunggal. Terlahir di sebuah pulau yang belum memiliki rumah sakit, atau tenaga medis modern seperti yang lazim dijumpai di kota-kota besar. Dukun beranak adalah dokter terbaik pada saat itu. Sartain tumbuh menjadi anak desa nelayan yang kuat, sehat dan lebih cerdas dari anak-anak sebayanya. Mungkin karena ia suka makan ikan hasil bapaknya melaut setiap hari.

Meskipun Sanafi hanya sebagai nelayan, dan mencintai pekerjaannya hingga kini,  pergaulannya cukup luas. Dirinya memang tak pernah tamat sekolah, namun pandai menjalin hubungan persahabatan, dengan semua orang.  Rasa percaya dirinya, membawa ia berteman dengan orang-orang besar. Banyak teman Sanafi,  berprofesi sebagai wakil rakyat, polisi bahkan pengacara.

Sebuah desa yang kecil memang memudahkan orang untuk kenal dengan seisi warganya. Tak heran pula, jika ia tahu banyak perihal pekerjaan sahabat-sahabatnya itu.  Banyak sahabat Sanafi, mengenal sosoknya sebagai nelayan yang berhati mulia. "Ia rela membantu orang lain meski dirinya dalam keadaan susah payah," ungkap salah seorang sahabatnya pada suatu hari saat berbincang ringan di warung kopi di desa. Ia pun dikenal tak mau merepotkan orang lain dalam hidupnya.

Sanafi memang menghidupi keluarganya dari hasil melaut. Menangkap ikan dan udang. Tak ada pekerjaan lain selain sebagai nelayan. Tapi cita-citanya tak sekecil pekerjaannya. Ia punya cita-cita besar.  Bagi kebanyakan orang di desa nelayan, cita-cita tersebut sungguh tak sebanding dengan kesehariannya sebagai nelayan.  Sanafi ingin menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi daripada dirinya. Ia sangat mengerti betapa pentingnya pendidikan untuk masa depan sang anak, Sartain.

**

Bagi keluarga nelayan ini, laut yang luas adalah sumber rezeki yang tiada habisnya. Hampir setiap hari, sang bapak berangkat melaut pada malam hari dan pulang pada pagi-pagi, esok harinya. Terkadang sebaliknya, Sanafi berangkat pagi dan pulang di malam hari.

Tentu saja, hasil melaut tidak menentu. Terkadang jika beruntung, hasil tangkapan ikan cukup banyak. Tetapi terkadang hanya cukup untuk sekedar makan. "Buk, Hari ini lumayan buat makan sampai besok" tuturnya pada sang istri pada suatu pagi,  sepulang melaut. Istrinya, seperti biasanya, dengan senyum kecil, menjawab, "Syukurlah pak, dari pada tak ada hasil sama sekali," sambil menerima ikan-ikan dari tangan suaminya. "Sana pak sarapan dulu, ibu bangunkan Sartain," suruh Latifa pada suaminya. Latifa pun bergegas membangunkan putranya yang masih tertidur lelap. Sartain memang harus bangun pagi untuk berangkat sekolah. Ia masih berumur 11 tahun,  sudah kelas 5 SD. Sekolahnya tak jauh dari rumahnya.

Seperti biasanya, sebelum sekolah, Sartain bergegas menuju tempat sarapan, duduk bersila di depan bapaknya. Sambil makan, ia berujar pada sang bapak. Keluarga kecil ini memang sering berbincang sambil sarapan. Meskipun mereka tak punya meja makan.

"Pak, Sartain mau ikut bapak melaut. Sartain males sekolah terus,"  kata sang anak dengan wajah serius mengutarakan keinginannya.  Sanafi sedikit menghela nafas, ia tahu anaknya memang cerdas. Pasti ada sesuatu yang membuat galau pikirannya, meski ia masih kecil. Seraya bercanda, Sanafi menimpali, "Bapak malah nggak mau melaut kalau kamu tak mau sekolah, Kalau Sartain ngomong gitu lagi, nanti ikan-ikan nggak mau makan pancingan bapak. Terus bapak pulang nggak bawa ikan, hayooo.."

"Sudah makan dulu, nanti terlambat ke sekolah. besok hari minggu baru ikut melaut sama bapak," ujar Sanafi sembari menyendokkan tambahan nasi ke piring Sartain. "Janji ya pak, besok aku ikut melaut," sergah Sartain. Sangat senang, dengan mata berbinar-binar.  "Ya, ya, makanlah," pungkas Sanafi terkekeh. Usai menyantap makan paginya, Sartain melompat, bergegas mandi dan berangkat sekolah.

Tak seperti anak desa yang lain, Sartain sudah terbiasa berangkat sendiri ke sekolah. Ia mandiri,  tanpa di antar oleh ibu ataupun bapaknya ke sekolah. Sementara itu, Latifa, sang ibu, bersiap-siap dengan loyang kecilnya yang sudah di isi oleh beberapa ekor ikan laut hasil pancingan sang suami.

Sartain dan Latifa berangkat meninggalkan rumah secara bersamaan. Sartain berjalan kaki menuju sekolah. Sedangkan Latifa berangkat mengelilingi hampir separuh kampung, menawarkan kepada tetangga dan warga desa yang ingin membeli ikan-ikan tersebut. Biasanya ikan-ikan itu laku dengan harga dua sampai empat ribu rupiah per ekor. Tak perlu waktu lama, seloyang ikan-ikan yang di bawa Latifa habis terjual. Sedikit uang pun bisa di bawa pulang. "Maafkan saya, hanya seorang nelayan kecil," kata Sanafi dalam hatinya trenyuh, memandangi istri dan anaknya dari rumahnya, ketika anak dan istrinya berjalan terpisah di antara gang kecil.

Selepas itu, Sanafi mengerjakan rutinitasnya. Ia menyiapkan peralatan dan perlengkapan melautnya nanti malam. Setelah yakin semua perlengkapannya beres, ia pun tidur. Beristirahat hingga waktu shalat Ashar. Saat terbangun itu, Sanafi agak kaget melihat anaknya tertidur pulas di sampingnya dengan keadaan Masih memakai seragam sekolah.

"Buk...buk. Sartain kok tidur pakai seragam ini bagaimana?" tanya Sanafi pada istrinya yang sedang memasak. Rupanya Sanafi lupa, bahwa ia akan melaut bersama Sartain seperti janjinya tadi pagi. "Tadi sepulang sekolah tak mau ganti baju, katanya takut di tinggal melaut sama bapak" jawab Latifa sambil mengaduk sayur yang sedang di masak.  "Oh iya, yah. Nggak apa-apa nanti malam Sartain ikut sama bapak dulu," pungkas Sanafi teringat pada janjinya mengajak anak lelakinya melaut.  Ia tersenyum, mengelus rambut ikal anaknya.

Selepas isya, Sanafi melirik jam di ruang tamu. Jam dinding bergambar masjid di ruang tamu itu menjadi saksi keberangkatan dan kedatangan sang nelayan mencari ikan. "Waktunya untuk melaut." batinnya, sambil melirik anak semata wayangnya. Sartain yang penuh semangat pun sudah tampak siap menemani bapaknya. Bak nelayan yang berpengalaman, berani dan tangguh menyongong ganasnya ombak samudera. Sartain tak sabar lagi. Sanafi membawa perlengkapan alat memancingnya. Sanafi memang memancing, bukan menjala ikan laut. Sementara Sartain membantu membawakan nasi bekal yang sudah di bungkus oleh ibunya untuk makan malam di laut.

Mereka berdua melangkah dengan penuh do'a dan harapan, agar malam ini mendapat tangkapan ikan yang banyak dan laku mahal. Sanafi mulai mendorong sampannya menuju tepian laut. Setelah sampai ke tepi laut, ia menyuruh anaknya naik terlebih dahulu ke atas sampan. "Sartain naik duluan," teriaknya ditengah gemuruh ombak pantai. Mendengar perintah bapaknya sartain segera bergegas naik ke atas sampan. Setelah keduanya berada di atas sampan, Sanafi mulai mendayung menuju ke tengah laut. 

Ditemani oleh bias terang dari sinar bulan purnama, laut yang tenang dan angin yang berhembus sepoi-sepoi, Sanafi terus mendayung. Ia terus mendayung dan mendayung, hingga sampai pada lokasi yang di tuju. "Pak lautnya tenang sekali, nggak ada ombaknya," tanya sartain penuh kagum melihat cuaca yang bersahabat dengan mereka. "Memang lagi musimnya, kalau di Bulan desember begini laut di wilayah desa kita tenang dan bersahabat" jawab Sanafi memenuhi rasa kagum sartain.

Tak lama kemudian, Sanafi menjatuhkan jangkar sampannya. Aksi memancing pun di mulai. sementara Sartain hanya duduk memperhatikan Sanafi. Melihat Bapaknya yang sedang memancing Sartain merasa penasaran, dengan penuh semangat keingintahuannya Sartain ingin mencoba, bagaimana rasanya memancing ikan. "Pak, Sartain mau ikut memancing. Boleh ya" mendengar permintaan Sartain, Sanafi sejenak berhenti mengayuh alat pancingnya lalu dengan nada sedikit haru menolak permintaan sartain "Nak, Hanya bapak yang boleh memancing ikan. Kamu jangan pernah merasakannya. Nanti kamu akan terbiasa. Tangan kamu hanya boleh untuk menulis, kamu harus terbiasa untuk menulis jangan pernah menggunakannya untuk memancing"

Mendengar penolakan halus dari bapaknya tak membuat sartain berhenti bicara, ia terus menumpahkan isi hatinya. "Pak, Sartain nggak mau jadi polisi, Kata orang-orang polisi itu jahat, suka menangkap orang miskin" ungkap Sartain.  Kepada bapaknya, dulu Sartain pernah menyampaikan cita-citanya ingin jadi polisi. "Sartain nggak mau menangkap orang-orang miskin, kan kasian pak, " lanjut Sartain mengutarakan ketidaksukaannya sosok seorang polisi.

Seolah tak mendengar, Sanafi terus mengayuh alat pancingnya, ia terus menarik ikan yang sudah tersangkut pada kail pancingnya. Tak peduli melihat sikap bapaknya,  Sartain terus mengalirkan kalimat demi kalimat.  Kali ini, ia mengutarakan tentang cita-cita barunya. "Kalau aku sudah besar nanti, aku mau jadi pengacara, biar bisa bela orang miskin, biar bisa bela bapak sama ibu."

Setelah beberapa ekor ikan berhasil di angkat dari laut, Sanafi berhenti sejenak. Menoleh dan tersenyum, sebelum kemudian menanggapi pembicaraan anaknya. "Nak, Kamu berhak jadi apapun, termasuk jadi polisi. Tugasnya memang menangkap orang yang salah, tak perduli ia miskin atau kaya. Kalau kamu jadi polisi nanti kamu nggak boleh pilih Kasih. Kalau bapak salah, kamu wajib menangkap bapak, itu sudah tugasmu sebagai polisi."

Sembari memasang lagi umpan pada kailnya, Sanafi melanjutkan penuturannya. "Kalau jadi pengacara memang tugasnya membela, tapi bukan membela yang salah. Kamu harus membela yang benar. Nanti kalau ibu sama bapak salah jangan dibela. Justru kamu harus membuktikan kesalahan ibu sama bapak."

Penuturan halus sang bapak membuat Sartain terdiam. Dalam diamnya, ia berpikir.  Hatinya mencoba memahami apa yang dimaksud bapaknya. Benaknya dipenuhi tanda tanya, "Mengapa aku menangkap bapak, mengapa aku harus membuktikan kesalahan ibu sama bapak?" Ia cuma bisa termenung. Matanya menatap lekat wajah bapaknya yang ditimpa sinar bulan.

"Hai, kok diam, tadi ngomong terus. Sekarang diam, gimana toh" tanya Sanafi melirik anaknya termenung seperti kebingungan. "Kalau begitu aku nggak mau jadi polisi atau jadi pengacara pak," jawab sartain,  keras dan spontan. "Loh, kenapa begitu?" tanya Sanafi, menampakkan raut muka heran.

"Keduanya nggak baik buat ibu sama bapak, Sartain mau jadi guru saja," ungkap Sartain menjawab pertanyaan pendek bapaknya. Sanafi menarik nafas, dan sambil menarik kailnya, ia bertutur lagi, "Anakku, kamu boleh jadi polisi atau pengacara, bahkan jadi guru pun juga tidak apa-apa. Asal jangan jadi nelayan lagi seperti bapak. Bapak yakin kamu bisa jadi apapun yang kamu inginkan."

Sanafi berusaha meyakinkan Sartain.  "Kalau sudah besar nanti, kamu harus jadi anak yang pemberani. Berani membela kebenaran kapan pun dan dimana pun kamu berada. Katakan salah adalah kesalahan dan benar adalah kebenaran" lanjut Sanafi menasehati.

Mereka terus berbincang, berdiskusi, saling bertanya dan menjawab antara satu sama lain. Sampai akhirnya Sartain tertidur di atas perut sampan yang berayun-ayun dihempas gelombang laut malam.

Tak terasa bulan mulai tenggelam, namun enggan hilang dari peraduan malam, seolah tak rela meninggalkan Sanafi dan anaknya yang terlelap dalam mimpi. Ikan-ikan yang berhasil di tangkap secara pelan mati dalam keadaan bahagia, mereka seperti beruntung ketika di tangkap oleh Sanafi. Sebab Harapan dan cita-cita Sartain yang mereka dengar sebelum mati, seolah menjadi pengantar menuju surga. Ikan-ikan sepertinya rela mati demi kelanjutan kehidupan Sanafi dan keluarganya. Entahlah apakah Sartain akan berjumpa lagi dengan ikan-ikan itu di surga kelak.

Melihat sinar fajar yang mulai menerangi sudut-sudut bumi, Sanafi segera mengangkat jangkar sampannya dan bergegas untuk pulang. tanpa membangunkan Sartain yang tertidur lelap, Sanafi mulai mendayung Sampannya menuju tepian pantai, ia terus mendayung, mendayung dan mendayung. Ia tahu istrinya Latifa sedang menunggu, Ia merasa malam ini sangat berarti, ikan-ikan hasil melautnya dirasa cukup untuk beberapa hari kedepan.  (Bersambung)