Ternyata Empu Topeng Malangan Adalah Anak Sunan Bonang
Cari Berita

Advertisement

Ternyata Empu Topeng Malangan Adalah Anak Sunan Bonang

20 Feb 2017

Topeng Malangan/KD

Indikatormalang.com - Di Indonesia kesenian atau tarian yang mengunakan topeng sebagai aksesoris dalam seni pertunjukan tidak banyak. Hanya daerah tertentu saja yang masih tercatat hingga sekarang masih menggunakan topeng sebagai identitas dalam berkesenian.

Cirebon, Jogjakarta, Surakarta dan Bali adalah salah satu contoh yang menjadikan topeng sebai identitas yang tak terpisahkan dalam berkesenian. Mereka menampilkan ciri khas dan karakteristik tersendiri, biasanya berkaitan dengan kearifan lokal yang berkembang di daearahnya masing-masing. Bisa dikatakan topeng merupakan bentuk proyektif khasanah lokal.

Topeng Malangan misalnya, mempunyai cirikhas dan karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kesenian topeng di daerah lain. Seni Topeng Malangan mempunyai 76 karakter. Akan tetapi yang dikenal orang hanyalah sebagian karakter, dimana mereka merupakan karakter dari tokoh utama dari Topeng Malang. Antara lain : R. Panji Asmoro Bangun, Dewi Sekar Taji, R. Gunung Sari, Dewi Ragil Kuning, Bapang, dan Klono Sewandono.

Ciri khas lainnya ada pada topeng. Bentuk topeng Malangan adalah gabungan antara bentuk manusia dan bentuk wayang. Selain itu pada tari topeng Malangan adalah arah gerakan yang cenderung tidak pada satu bidang frontal, walaupun kedua kaki terbuka ke luar akan terjadi persilangan garis arah, di mana kaki kanan agak ke depan sementara kaki kiri lebih banyak menumpu beban berat tubuh.

Dalam sejarahnya tari Topeng Malangan pernah mengalami masa kejayaan di era Bupati R.A.A Soeriohadiningrat (I889-1928). Hal ini lantaran sang bupati yang mencintai kesenian dan mengharuskan semua perangkat pemerintahan kala itu untuk dapat menari topeng. Dimasa kepemimpinan Raden Suryo ini seni topeng berkembang pesat.

Hal tersebut dituturkan oleh Kepala Desa Jabung Anik Sri Hartatik (15/2/17) yang tak lain merupakan salah satu canggah Buyut Reni cucu dari Mbah Kangsen yang saat itu juga pernah menjadi Lurah Jabung. ”Dulu atas anjuran sang Bupati Suryo maka setiap Wedono (lurah) punya grup topeng sendiri hingga se Malang raya ini hampir ada 220 grup topeng yang tersebar” ungkapnya saat menerima rombongan Studi Banding dari warga Kampung Budaya Polowijen.

Warga kampung Budaya Polowijen sendiri saat itu mengadakan studi banding ke pengrajin dan sanggar tari Topeng Malangan. Dimotori oleh Isa Wahyudi atau biasa di panggil Ki Demang sebagai penggerak Kampung Budaya Polowijen, rombongan ini mencoba menyusuri dan menggali khazanah budaya Topeng Malangan.

Dalam diskusi yang dilakukan dengan para pelaku Topeng Malangan diketahui bahwa Tari Topeng Malangan sangat erat kaitannya dengan daerah bernama Polowijen Kota Malang.

Berawal dari Polowijen muncul ketenaran seorang sungging dan guru tari pada awal abad 20 yang konon sangat ahli dalam hal kriya ukir, beliau bernama Tjondro suwono yang popular dengan sebutan Mbah Kyai Reni (wafat, thn 1938). Beliau adalah abdi dalem kesayangan bupati Malang saat itu. Popularitas Reni sebagai penyungging sangat terkenal, dan pada saat itu telah mengangkat nama Polowijen sebagai sentra pembuatan mebel dan ukiran yang terkenal seantero Malang, hingga Polowijen juga disebut sebagai Desa Reni.

Sebagai abdi kepercayaan sang Bupati, Kyai Reni mencurahkan pengabdiannya kepada seni Topeng. Pengabdian Kyai Reni mendapat dukungan dari keluarga dan anak-anaknya dengan ikut menjadi penyebar kesenian topeng di Malang Raya.

Berdasarkan keterangan Silsilah dari keluarga Tjondro Suwono atau Mbah Reni yang disampaikan oleh Ibu Anik dan di konfirmasi ke Mbah Suparjo Jabung selaku anak dari Pak Kansen yang merupakan cucunya mbah Reni, disebutkan bahwa silsilah Buyut Reni adalah anak kedua dari Sunan Bonang, mempunyai dua keturunan yaitu Buyut Min dan Buyut Kas. Dari pernikahan kedua anaknya yaitu Buyut Min dan Buyut Kas, Buyut Reni mempunyai banyak cucu. Buyut Min mempunyai lima anak yaitu Yai Jogo (Sumber Pulus), Yai Ali (Sumber Ngringin), Yai Ati (Lowok Mojo, Malang), Yai Misri (Pandean, Malang) dan Mbah Pandam”.

Sedangkan menurut penuturan pak Parjo, Buyut Reni mempunyai dua Istri, dan yang diingat istri Keduanya yang bernama Sriwahyuni di Polowijen. pernikahan itu melahirkan Kunto, Gondo, Sekar, Arum, Gunawan, Gunarso. Keterangan tersebut dikuatkan oleh Muhammad Nasai, seorang peneliti dan pecinta Topeng Malang yang juga turut dalam rombongan Studi Banding.

Menurut Nasai, dari istri pertama Mbah Reni mempunyai 9 anak yaitu, Beji atau Ruminten (Jabung), pak Amar (njeruk), Yai Nor, Yai Suco ,Mbah Seno (Senggreng), Goendari (Polowijen), Yai Soyi, Pak Sarlan dan Yai Surti.

Makam Kyai Reni sendiri, sang punden Topeng Malangan baru ditemukan pada tahun 2012 silam, tepatnya berada di Polowijen, Kota Malang.

Diakhir kunjungan Ki Demang berharap kunjungan tersebut berdampak positif pafa pelestarian seni budaya Topeng Malangan. "Dari kunjungan ini setidaknya dapat menguatkan bahwa Polowijen harus bangkit dan mampu melestarikan seni tradisi, kebudayaan dan kesenian Topeng Malangan" harap Ki Demang.

Pewarta : Ki Demang
Editor : Dim