Peran Pers Sebagai Alat Pendidikan dan Kontrol Sosial
Cari Berita

Advertisement

Peran Pers Sebagai Alat Pendidikan dan Kontrol Sosial

7 Feb 2017

Pers adalah Kontrol Sosial @kitapunya.net

Sesuai dengan Undang-undang pers pasal 3 ayat 1 mengatakan bahwa, Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Dengan disahkannya UU Pers tersebut berarti pers dalam hal ini sudah menjadi lembaga yang disahkan oleh negara dan bertanggungjawab atas terciptanya masyarakat Indonesia yang sejahtera.

Jadi, tujuan  utama kita mngkonsumsi media pers sebenarnya adalah untuk mendapat informasi dan pengetahuan yang luas dengan cepat dan aktual. Kita tidak perlu lagi keluar negeri untuk mengetahui bagaimana kabar pemilu Amerika yang berjalan disana atau keluar kota untuk melihat keindahan-keindahan alamnya. Cukup dengan mengkonsumsi media kita sudah tahu segalanya.

Media pers, baik itu media visual, media cetak, dan media elektronik sangat mempengaruhi tatanan-tatanan sosial yang ada di masyarakat. Kita bisa melihat fenomena-fenomena sosial yang ada di Indonesia bahwa pers bisa dikatakan adalah obat yang paling ampuh untuk dijadikan sebagai alat doktrinisasi. Seperti contoh, belum lama ini ada satu siaran di salah satu stasiun TV swasta yang menayangkan acara sahur pada bulan puasa. Kemudian untuk menarik traffic atau penonton untuk menyaksikan acara tersebut, maka mereka merekayasa acara tersebut dengan membagi-bagikan uang disetiap episodenya. Nah, setelah mendapat banyak penonton dan menjadikan tayangan tersebut sebagai acara dengan rating tertinggi, mereka kemudian mengubah konsep acara dengan berjoget bersama. Yang kemudian diikuti oleh orang yang menonton acara tersebut. Akhirnya dengan modal para penikmat goyangan dan penonton yang terus menyaksikan acara tersebut semakin besar dan membuat penikmat tayangan TV tersebut semakin luas jangkauannya, mulai dari orang dewasa sampai adikku pun ikut menirukan goyangan yang ada di acara tersebut.

Dengan modal sudah berhasil mempengaruhi banyak masyarakat membuat media pers sudah melenceng jauh dari tujuan utamanya yaitu mendidik rakyat Indonesia dengan berita-berita aktualnya dan sebagai media yang informatif.

Saya kebetulan sudah menonton film “Dibalik Frekuensi”, dimana ternyata sudah banyak terjadi kebohongan-kebohongan media yang dinikmati masyarakat Indonesia belakangan ini. Acara-acara di TV di setting sedemikian rupa untuk menarik minat penonton dan bertolak belakang sebagai sumber informasi masyarakat.

Contoh lain yang menunjukkan Pers hari ini tidak lagi Independen atau memberikan informasi sesuai pesanan dan tidak lagi mengatakan kebenaran adalah saat dimana berita seorang bapak tua yang menjadi korban lumpur lapindo di daerah Jawa Timur. Saat itu sang bapak telah kehilangan rumah serta harta benda lainnya yang dimakan lumpur. Bapak ini pun kemudian meminta sang orang-orang atau petinggi-petinggi negara yang bertanggungjawab atas musibah yang dihadapinya untuk memperhatikan masyarakat-masyarakat yang terkena lumpur seperti dirinya.

Lain daripada yang lain, bentuk protes bapak ini dengan berjalan kaki dari daerah asalnya, Jawa Timur, ke Jakarta. Semua orang kemudian tergugah hatinya karena melihat perjuangan seseorang untuk didengar aspirasinya oleh pejabat-pejabat negara yang secara langsung bertanggungjawab atas kejadian itu.

Tetapi beda pohon semangka dan pohon melon. Setelah membaca beberapa artikel dan sumber referensi terkait aksi seorang bapak yang berjalan dari Jawa Timur ke Jakarta untuk mengadu tentang permasalahan yang dideritanya dan didengar aspirasinya ternyata dibayar sangat murah untuk mengubah statement-nya. Yang awalnya berjalan karena ingin betul-betul menyampaikan pendapatnya ternyata dibayar sangat murah untuk mengubah niat awalnya yang baik. Bagi Pers dan media di Indonesia, suatu kebenaran mungkin hanya dibayar murah.
Saya yang semula meng-imani dan meng-amini aksi heroik sang bapak, justru sekarang sangat kontras dengan kepercayaan saya terhadap semua tayangan-tayangan televisi. Berita yang sebenarnya memberikan informasi dan menyampaikan kebenaran justru merekayasa kebenaran menjadi kesalahan.

Pewarta : Tomy
Editor : Bima