Nekolim, Imperialisme Model Baru Yang Masih Hidup Di Indonesia
Cari Berita

Advertisement

Nekolim, Imperialisme Model Baru Yang Masih Hidup Di Indonesia

19 Feb 2017


Jaman penjajahan di Indonesia memang telah selesai. Berakhir dengan proklamasi yang dikumandangkan oleh Ir Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah dicermati lebih dalam apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka?. 17 Agustus 1945 adalah awal kelahiran imperialisme model baru yakni Nekolim. Semua konsep yang diberikan Ir Soekarno untuk melawan habis habisan Nekolim atau imperialisme model baru pun yakni berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) belum sama sekali secara konsisten penuh diterapkan bahkan makin dilupakan di zaman ini.

Nekolim bukanlah lagi bentuk kolonialisme atau penjajahan yang terkesan sarat akan kekerasan dan penderitaan dari negara yang terjajah. Namun, Nekolim adalah bentuk penjajahan yang bersifat laten , nyaris tidak tampak secara fisik. Secara tidak sadar, negara-negara yang terjajah oleh kaum Nekolim akan mengalami ketergantungan pada mereka, utamanya dalam bidang ekonomi dan akan cukup memberikan pengaruh pada bidang ideologi. Nekolim pertama kali dikenalkan oleh Ir Soekarno.

Nekolim merupakan akronim dari Neokolonialisme - Kolonialisme-Imperialisme. Dengan adanya revolusi industri pada abad ke 18 negara negara imperialis mulai mencari bahan mentah dan pasar untuk memasarkan alat alat hasil produksinya. Namun setelah negara negara dunia ketiga atau negara pemasok bahan mentah termasuk Indonesia merdeka tidak ada lagi tempat pemasok bahan mentah dan pasar. Tidak berhenti disitu, didasari oleh politik imperialis jelas bangsa bangsa barat masih ingin menguasai dan tidak rela secara penuh negara jajahannya merdeka.

Ir Soekarno yang anti kolonialisme dan Imperialisme pun akhirnya memperkenalkan istilah Nekolim ini sebagai bentuk baru lahirnya imperialisme barat model baru. Nekolim sudah pernah ada di era Soekarno terbukti dengan adanya upaya bantuan ekonomi oleh bangsa barat, kerjasama di berbagai bidang namun merugikan rakyat. Ir Soekarno pun dengan tegas menggagas berdikari sebagai alat untuk memerangi Nekolim. Banyak kontrak kerjasama di era Soekarno yang dianggap akan merugikan bangsa barat dan lebih menguntungkan Indonesia.

Upaya kudeta pun mulai dilakukan sampai pada surat perintah sebelas maret atau (Supersemar). Setelah digantikan oleh Soeharto keadaan pun mulai bertolak belakang. Soeharto berkenan untuk menerima pinjaman dari IMF dan Bank Dunia . Sehingga mulailah terjadi kesepakatan politik bilateral untuk bangsa Amerika dan Eropa dalam menguasai sumber daya alam Indonesia dengan membentuk GATT yang sekarang berganti nama menjadi WTO.

Bentuk konkrit dari sistem Nekolim di Indonesia yang lain adalah banyaknya permodalan asing yang masuk dan beredar dalam bentuk perusahaan-perusahaan asing ataupun perusahan dalam negeri yang telah diprivatisasi . Dengan munculnya perusahaan-perusahaan tersebut mengajarkan "pandangan" bagi bangsa Indonesia mengenai prinsip "Imperialisme" yang mana pihak-pihak yang memiliki modal besar akan menggeser pihak-pihak yang memiliki modal lebih kecil. Bahkan, Soeharto menekan pengesahan UU Penanaman Modal Asing pada tahun 1967.

Soeharto pun menjadi seorang yang pertama kali menandatangani kontrak kerja dengan PT Freeport yang didalam kontraknya lebih menguntungkan pihak asing daripada Indonesia. Miris, sangat bertolak belakang dengan kebijakan Ir Soekarno. Nekolim pun masih benar benar hidup diantara kita. Dengan maraknya penanaman penanaman modal oleh investor asing di Indonesia saat ini. Investasi asing memang sangat perlu untuk Indonesia. Namun, sekali lagi pemerintah harus lebih jeli, lebih teliti dan mengedepankan kepentingan Indonesia.

Kita benar benar sudah merdeka namun sekali lagi apakah merdeka hanya secara konstitusi atau benar benar merdeka dalam berbagai aspek termasuk ekonomi. Sikap konsumtif dan ketergantungan akan bangsa asing yang menjamur, dan kurangnya rasa percaya kepada kemampuan bangsa kita padahal kita ini asalnya gotong royong merupakan kelemahan kita yang inti dan telah dinyatakan pula oleh Ir Soekarno. Berdikari jelas jelas lebih penting daripada bergantung pada investor asing.

Penulis : Faris