(Cerpen) Sartain "kekasih yang hilang"
Cari Berita

Advertisement

(Cerpen) Sartain "kekasih yang hilang"

9 Feb 2017

Foto:analisadaily.com
Seperti biasanya perkuliahan jam kedua selesai pukul 10.20 wib, namun Sartain masih ingin perkuliahan itu tetap dilanjutkan, ia masih ingin berdiskusi dengan dosen mata kuliah hukum tata negaranya. Sartain tidak setuju dengan pernyataan dosennya yang menuduh presiden Soeharto sebagai koruptor, Sartain sangat tidak terima sampai-sampai meminta dosennya untuk tidak mengatakan hal itu lagi.
“Saya tidak dapat menerima presiden Soeharto dituduh sebagai koruptor, mana buktinya?” tanya Sartain penuh semangat tanpa rasa takut pada dosennya.
“Negara kita ini kan negara hukum, kita tidak boleh sembarangan menuduh orang sebelum ada keputusan pengadilan. Itu bunyi asas praduga tak bersalah buk?” Sartain menegskan pernyataanya sambil meminta tanggapan dosennya atas pernyataannya.
“Sudahlah, saya sebenarnya masih ingin berdiskusi lagi, tapi waktu kita sudah habis. Sampai jumpa minggu depan” jawab dosennya sembari menutup absen lalu keluar meninggalkan kelas.

Sartain sudah terbiasa berdebat dengan dosen-dosennya, ia dikenal kritis dan cerdas dalam berpendapat. Bahkan sartain tidak segan-segan mengkritik dosennya yang terlambat masuk ke kelas. Teman-temannya sudah terbiasa. ketika sartai mulai angkat tangan dikelas berarti akan ada perdebatan antara dosen dan Sartain dan mereka siap untuk menyaksikan terkadang juga membantu Sartain memenangkan perdebatannya. Teman-temannya juga sangat tau bahwa hanya dalam perkuliahan statistik dan bahasa inggris saja yang akan mendiamkan sartain dalam kelas, sebab Sartain sangat benci dengan dua mata kuliah itu.

Setelah tidak puas dengan jawaban dosennya sartain langsung keluar kelas, dan menuju ke warkop depan kampus tempat biasa Sartain dan kawan-kawannya ngopi sambil berdiskusi. Setelah sampai di warkop, kopi susu kesukaannya ternyata sudah terseduh rapi di meja tempat Dea duduk sendiri menunggu sartain.
“loh sudah disini aja mbak cantik ini” kata sartain menyapa Dea
“iyo mas ganteng, ini kopinya sudah saya pesankan, didalamnya terdapat racun sianida, selamat menikmati” jawab Dea sambil bercanda. Sartain hanya bisa tertawa sambil memandang lucu Dea yang terlihat punya uneg-uneg untuk didengar.
Dea pun mulai bercerita kepada Sartain tentang kisah cintanya yang sudah kandas dengan kekasihnya Tomi. “aku sudah putus sama Tomi, kamu kapan putus sama Halizah” ungkap Dea antara sedih dan bahagia karna putus dari tomi.
“Cie ada yang lagi sedih nih, ya udah nangis gih saya akan setia mendengarnya” jawab Sartain penuh canda.
“Padahal kamu bisa saja selingkuh disini, Halizah beruntung yah punya kamu yang setia dan benar-benar mencintainya. Seandainya aku Halizah” kata Dea merasa tidak beruntung ketika duduk bersama sartain di warung kopi tempat biasa mereka ngobrol sepulang kuliah.
“Saya yakin kamu pasti akan bertemu dengan orang yang paling baik di dunia ini, saya hanya ingin setia pada Halizah, kamu tahu aku tidak akan menghianatinya” jawab Sartain memberi semangat kepada Dea yang pernah mengutarakan rasa cinta kepadanya sejak dulu.

Ditengah obrolannya dengan dea tiba-tiba handphone sartain berdering, terbaca di layar handphonenya satu pesan baru diterima dari Halizah. sesegera mungkin sartain membaca pesan yang hampir memenuhi layar semua handphonenya.

Setelah cukup lama membaca pesan dari Halizah, Sartain terlihat murung seakan tak percaya dengan kabar itu, bumi seakan berhenti berputar, matahari bersembunyi dibalik awan-awan seakan tak rela melihat ekspresi Sartain, angin terasa datang sepoi-sepoi, kopi susu yang tadinya terasa pahit dan manisnya hanya tinggal rasa pahit semata.

Pikiran Sartain tak tentu arah, baginya tak mungkin Halizah melakukan hal itu, yang ia tahu Halizah sangat setia padanya. Sartain benar-benar tidak dapat menerima kenyataan itu. Kabar buruk itu datang pada waktu yang tidak tepat. Setelah membina hubungannya dengan Halizah selama 7 tahun ia harus menerima kenyataan pahit itu. Yang membuat ia bersedih bukan karna dia akan berpisah dengan Halizah, tapi karna penyebab ia harus berpisah dengan Halizah.

Dengan pelan sartain membalas pesan dari Halizah “aku tidak dapat menerima kabar buruk ini, apapun alasannya kabar buruk ini harusnya tak pernah aku dengar, ini benar-benar tidak mungkin!” jawab sartain dengan penuh kekecewaan. Bersambung ke Sartain 2...........(Bersambung)