Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur Kontroversial
Cari Berita

Advertisement

Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur Kontroversial

20 Feb 2017


Basuki Tjahaja Purnama


Basuki Tjahaja Purnama (nama Tionghoa: Zhōng Wànxué) lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966. Saat ini umurnya 50 tahun, menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta paling kontroversial. Ia paling dikenal dengan panggilan Hakka, Ahok, menjabat gubernur sejak 19 November 2014. Setelah ditetapkan sebagai calon gubernur pada pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta 2017, ia digantikan oleh Soni Sumarsono sebagai Pelaksana Tugas Gubernur.

Pada 14 November 2014, ia diumumkan secara resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo, melalui rapat paripurna istimewa di Gedung DPRD DKI Jakarta.[4] Basuki resmi dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Joko Widodo pada 19 November 2014 di Istana Negara, setelah sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur sejak 16 Oktober hingga 19 November 2014.[5][6]

Purnama merupakan warga negara Indonesia dari etnis Tionghoa dan pemeluk agama Kristen Protestan pertama yang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta pernah dijabat oleh pemeluk agama Kristen Katolik, Henk Ngantung (Gubernur DKI Jakarta periode 1964-1965).

Basuki pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI dari 2012-2014 mendampingi Joko Widodo sebagai Gubernur. Sebelumnya Basuki merupakan anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat periode 2009-2014 dari Partai Golkar namun mengundurkan diri pada 2012 setelah mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI Jakarta untuk Pemilukada 2012.Dia pernah pula menjabat sebagai Bupati Belitung Timur periode 2005-2006 dan merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur.

Pada tahun 2012, ia mencalonkan diri sebagai wakil gubernur DKI berpasangan dengan Joko Widodo, wali kota Solo. Basuki juga merupakan kakak kandung dari Basuri Tjahaja Purnama, Bupati Kabupaten Belitung Timur (Beltim) periode 2010-2015. Dalam pemilihan gubernur Jakarta 2012, mereka memenangkan pemilu dengan presentase 53,82% suara. Pasangan ini dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada 10 September 2014, Basuki memutuskan keluar dari Gerindra karena perbedaan pendapat pada RUU Pilkada. Partai Gerindra mendukung RUU Pilkada sedangkan Basuki dan beberapa kepala daerah lain memilih untuk menolak RUU Pilkada karena terkesan "membunuh" demokrasi di Indonesia.

Pada tanggal 1 Juni 2014, karena Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengambil cuti panjang untuk menjadi calon presiden dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, Basuki Tjahaja Purnama resmi menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta. Setelah terpilih pada Pilpres 2014, tanggal 16 Oktober 2014 Joko Widodo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta. Secara otomatis, Basuki menjadi Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta.[8] Basuki melanjutkan jabatannya sebagai Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta tanpa dukungan partai (independen) hingga pun dirinya dilantik sebagai Gubernur DKI pada 19 November 2014.


Banyak kasus yang dianggap kontroversial melibatkan gubernur DKI Jakarta ini. Mulai rapat dinas yang direkam dan disebarkan ke publik, suka marah-marah dan emosional, dituduh korupsi lahan Sumber Waras, konflik penyusunan APBD dengan DPRD, sampai tuduhan penistaan agama Islam yang saat ini sedang disidangkan. Ahok saat ini berstatus terdakwa, namun tetap eksis menjabat dan menjalan pemerintahan di ibukota.

Hasil pilkada DKI Jakarta yang diikuti oleh 3 paslon yaitu Agus Harymurti Yudhoyono-Sylvia Murni, Basuki Tjahaja Purnama-DjarotSaiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Hasil pemungutan suara putaran pertama dimenangkan oleh Ahok-Djarot. Putaran kedua harus dilaksanakan pada 19 April 2017 dengan kontestan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.