Alungsyah: Menulis dan Belalah Manusia Agar Idemu Tidak Busuk
Cari Berita

Advertisement

Alungsyah: Menulis dan Belalah Manusia Agar Idemu Tidak Busuk

23 Feb 2017

Pagi itu nampak seorang pemuda dengan penampilannya yang sederhana sedang sibuk menyiapkan berkas-berkas untuk acara persidangan. Tangannya yang cekatan memilah satu persatu dokumen  dan menyusunnya berurutan  bahan- bahan yang hendak dibawa ke dalam ruang sidang.  Hari Itu Alung, pemuda ini biasa dipanggil oleh rekan dan koleganya harus menghadiri acara persidangan untuk mendampingi kliennya. Yah, Alungsyah nama lengkapnya. Pemuda 27 tahun kelahiran kota Limbungan Palembang adalah seorang pengacara. Seorang pengacara yang tergabung dalam firma Hukum A.Irmanputra Sidin & Associates Jakarta.
@Alungsyah
Indikatormalang.com - Pagi itu nampak seorang pemuda dengan penampilannya yang sederhana sedang sibuk menyiapkan berkas-berkas untuk acara persidangan. Tangannya yang cekatan memilah satu persatu dokumen  dan menyusunnya berurutan  bahan- bahan yang hendak dibawa ke dalam ruang sidang.
Hari Itu Alung, pemuda ini biasa dipanggil oleh rekan dan koleganya harus menghadiri acara persidangan untuk mendampingi kliennya. Yah, Alungsyah nama lengkapnya. Pemuda 27 tahun kelahiran kota Limbungan Palembang adalah seorang pengacara. Seorang pengacara yang tergabung dalam firma Hukum A.Irmanputra Sidin & Associates Jakarta.

Pilihannya menjadi seorang pengacara adalah cita-citanya ketika remaja dulu. Keputusan untuk terus menekuni profesinya hari ini adalah panggilan dan jawaban atas kondisi sistem penegakan hukum negara yang sangat memprihatinkan."Menjadi pengacara adalah impian semenjak saya masih SMA. Kemudian kondisi carut marutnya penegakkan hukum di negara kita sudah masuk kategori sangat-sangat mengkhawatirkan, saya harus masuk disitu" ujarnya.

Alung mengakui menjadi seorang pengacara bukanlah perkara yang mudah dan sederhana. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya, kesulitan-kesulitan dalam menyelesaikan sebuah perkara hukum.
Dengan semangat belajar yang tinggi dan impian yang besar membuat Alung tetap optimis dengan profesinya sebagai pengacara. Beberapa kasus hukum pernah ditanganinya, seperti perkara pengujian Undang-undang, kasus pidana, perdata dan lain-lain.  "Menangani sebuah kasus jelas memiliki tingkat kesulitan tersendiri, dan itu pasti ada didalamnya, hanya saja kita harus ekstra belajar keras bagaimana proses penanganannya dan sesuai mekanisme hukum yang ada" jelasnya.

Ditengah kesibukannya yang cukup padat Alung meluangkan sedikit waktunya untuk menuangkan pemikiran dan ide-ide kreatifnya dalam sebuah tulisan. Bisa dikatakan selain sebagai Lawyer juga sebagai penulis.
Menjadi seorang penulis sekaligus pengacara bukanlah perkara yang mudah, dua profesi tersebut membutuhkan kecerdesan dan keahlian tersendiri dalam hal membagi waktu, pikiran dan tenaga. Menurut Alung semangat dan Motivasi dirilah yang bisa membantunya untuk terus menggeluti dua profesi berbeda ini sekaligus.

Baginya, menulis merupakan pelengkap dan penyempurna profesinya. Ada pembelaan, seni, ide, dan gagasan yang tak boleh menguap begitu saja. "Menulis itu bagian dari hidup dan perjalanan karir saya, menulis itu seni dan menulis itu melampiaskan ide yg terdapat dalam pikiran kita, agar ide tersebut tidak "busuk" dan hilang begitu saja" Ujarnya penuh semangat.

Hingga hari ini Alung sudah menulis dua buku namun masih ada tiga sampai lima buku lagi yang rencananya akan diterbitkan dalam waktu dekat ini. "Yang terbit sudah dua buku, tetapi masih ada lagi tulisan saya yang siap untuk di bukukan. Sekitar 3 sampai 5 tulisan. Insyaallah tahun ini akan launching buku yang ke tiga" ujarnya

Pengalaman waktu kuliah menurut Alung telah memberikan warna dan corak pemikiran dalam kehidupannya hari ini. Alung sempat merasakan menjadi seorang aktivis mahasiswa. Pengalamannya menjadi seorang aktivis telah memberikan spirit untuk terus melakukan pembelaan kepada manusia dan terus berkarya dengan melahirkan tulisan-tulisan.

Tercatat, Alung pernah menjadi seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Hukum 47 UMM. Kecintaannya terhadap HMI sangat luar biasa. Hal tersebut bisa dilihat dari gaya tulisannya yang banyak bercerita tentang HMI. Bagi Alung cinta Terhadap HMI adalah dengan menulis HMI itu sendiri.
Sebagai pengacara sekaligus penulis, Alung berharap agar tulisan dan bantuan hukum yang diberikannya dapat menginspirasi orang lain dan memberikan kontribusi yang baik kepada negara. "Mimpi saya adalah berkontribusi yang nyata buat penegakan hukum Indonesia, menegakkan keadilan sesuai dengan porsinya. Tanpa pandang bulu siapa dan siapa" harapnya. " Biarlah tulisan itu menginspirasi semua orang. Bahwa ide yang sesungguhnya itu bukanlah omongan semata, tapi memiliki wujud berupa tulisan" tambahnya.
Mimpi besar Alung suatu saat nanti bisa mendirikan sebuah lembaga bantuan hukum dan lembaga penerbitan sendiri, dengan begitu ia berharap bisa memberikan wadah bagi pemuda-pemuda lain yang ingin menulis dan memberikan bantuan hukum kepada warga Negara indonesia.