Apa Jadinya Indonesia Tanpa Habib Rizieq
Cari Berita

Advertisement

Apa Jadinya Indonesia Tanpa Habib Rizieq

23 Jan 2017


Front Pembela Islam (FPI) barangkali sosok yang begitu diburu hari ini oleh media. Fenomenal dan berani. Seruan dan kritikan yang dilancarkannya terhadap Ahok menyita perhatian nasional dengan digelarnya demonstrasi akbar muslim ke Jakarta. Habib Rizieq bukan orang baru bagi kalangan pengamat sosial maupun masyarakat. 

Dia dianggap mewakili kalangan Islam berhaluan keras atau kaum fundamentalis paling lantang saat ini. Karena ucapan dan pernyataan kerasnya, setidaknya puluhan ormas di Jawa Barat meminta FPI  dibubarkan. Laporan atas nama pribadi agar Habib Rizieq dihukum atas tuduhan provokasi dan penyebaran kebencian juga antri di kepolisian

Bagaimana kita melihat kritik yang dilakukan oleh tokoh FPI ini secara bijak? Apakah seruan demonstrasi dengan menitikberatkan pada seruan pembumian nilai-nilai Islamnya mengancam demokrasi Indonesia? Negara ini memang butuh kritik sana sini tidak bisa ditolerir jika kekisruhan politik parlemen dan paket kebijakan yang disiapkan juga banyak memakan anggaran yang besar namun dirasa nihil dampaknya secara luas.

Rasio praktek penindakan korupsi tahun 2016 dirasanakan sangat lamban dibanding tahun 2015. Harusnya, titik beratnya diukur apakah sejumlah anggaran ataupun pembangunan telah dilaksanakan pada kepentingan rakyat, nyatanya tidak. Perilau politikus tanah air tidak mencerminkan sebagai “Binatang Politik” sebagaimana Aristoteles harapkan dalam bukunya La Politica,  di mana tujuannya mencapai kebaikan bersama dan persamaan hak hidup layak.  Apa yang didapati justeru Animal Centris, sebuah kerumunan massa politikus yang berebutan hak hajat hidup pribadi. Ciri politikus kini ntak lebih Machivellian yang tak pernah kehabisan libido binatang pada politik hingga pada titik puncaknya Dominasi, Konsumsi, atau seks. Kritik penting adanya dalam pewuujudan demokratisasi di Indonesia. Peran masyarakat sebagai civil society sudah semestinya melihat jika dominasi yang membatasi pertumbuhan masyarakat secara alamiah harus dikritik. Apa yang dilakukan Habib Rizieq memang harus dilihat betrdasarkan dua sudut pandang  sekaligus.

Pertama, setidaknya Habib Rizieq menghadirkan kritik massa progressif dan hal itu salah satu ciri bagian peran konstisional dari masyarakat untuk mengajukan pendapat. Faktanya banyak peristiwa penting yang menyakut hak orang banyak minim kritik tajam. Alhasil, seperti berusaha memukul tetapi tidak juga untuk menyakiti. Masyarakat terbungkam dan tak tahu bagaimana haknya diperjuangkan. Kedua, kritik dengan ide-ide agama tegas di setiap momen aksi juga bukan pilihan tema yang mendukung dalam memberikan masukan peneyelesaian. Apalagi, kecenderungan akan wacana sarkastik Islam Fundamentalis yang dianggap bertentangan semangat pluralisme di Indonesia juga sangat menegang.

Umat Islam sebagai mayoritas warga negara ini tentunya mempunyai inisiatif lebih banyak terkait masa depan bangsa. Di saat harusnya bangsa ini harus beranjak dari kebiasaan mudah tersinggung oleh bahasa agama menuju dunia persaingan kita tidak dapat memikirkannya lebih luas. Jutaan massa membanjiri Jakarta pada 2 November 2016 lalu menjadi saksi betapa mantra Habieb Rizieq begitu kuat. Jarang sekali memang ditemukan sosok Solidarity Maker sekaligus demagogis ulung sepertinya. Di saat, moderenitas lebih menempatkan pada individualitas sempit, dia menjawabnya dengan massa yang luar biasa. Apakah aksi itu berhasil? Ada seruan Jihad dan takbir bersamaan sampai long march massa aksi dari Garut menju Jakarta. Tetapi setelah aksi kita bertanya Islam siapa yang diselamatkan? Atau lebih jauhnhya Muslim siapa yang terselamatkan? Bukankan Islam yang maju ialah Islam yang membebaskan. Tidak kecil dana yang digunakan dalam aksi bela Islam jilid per-jilid itu. Jika yang dikejar itu jihad, bukankah mensedekahkan dana pada panti asuhan atau lembaga pendidikan Islam yang masih belum baik kondisinya jauh lebih besar hasilnya.

Mayoritas miskin di Negeri ini pastilah muslim dan itu tak usah memakai metode ukuran matematik baku. Skema kemudian berubah, yang terlihat setelah aksi adalah hujatan demi hujatan kembali pada Habib Rizieq. Pertama, Di mulai dari tuntutan Sukmawati Soekarnoputri ke Bareskrim Polri, 27 Oktober 2016 karena dianggap melecehkan Pancasila dalam ceramahnya di wilayah Jabar.  Kedua, warga Kelapa Gading, Jakarta Utara. Ia mengadukan Rizieq ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Polri pada Senin 16 Januari 2017 atas pelecehan agama Kristen.  Ketiga, lembaga Student Peace Institute dan Forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama (Rumah PELITA). Koordinator Rumah Pelita, Slamet Abidin menuding ucapan Rizieq dalam video yang beredar dapat memecah belah kerukunan antaragama di Indonesia. Keempat, PMKRI melaporkan Pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Polda Metro Jaya. Mereka melaporkan Rizieq dengan dugaan penistaan agama. Kelima, seorang warga bernama Eddy Soetono (62) melaporkan Rizieq Shihab ke Polda Metro Jaya atas tuduhan menyebarkan kebencian berbau SARA melalui media elektronik. Keenam, forum Mahasiswa Pemuda Lintas Agama (Rumah Pelita) itu diterima polisi dengan nomor LP/6422/XII/PMJ/Dit. Reskrimsus tertanggal 30 Desember 2016 atas penistaan agama.

Masysarakat harusnya berterima kasih memiliki Habib Rizieq karena telah berusaha mengajak masyarakat untuk responsif atas tindakan politik yang tidak menempatkan rakyat sebagai basis kebijakan, dia adalah kontrol sosial yang selalu korektif dan itu sangat dibutuhkan. Walaupun, tidak semua apa yang dilontarkan Habib Rizieq berkesesuaian dengan paradigmatik berkehidupan terutama dalam kehiduapan bergama di Indonesia. Dengan  menyodorkan Islam secara kaku dan keras, pengrusakan patung di Purwakarta sebagai contohnya juga mengesankan terlalu berlebihan. Negeri ini justeru minim sosok bermental baja seperti Habib Rizieq. Dengan narasi agamanya dia melakukan kritik sesuai dengan keyakinan agamanya. Jauh  dari itu, tokoh kritikus  di negeri ini juga tidak memiliki keberanian sekalipun terkadang memasang pundi-pundi demokratis. Kebutuhan bangsa ini terkait kritik konstruktif bagi perkembangan yang baik mutlak adanya. Tinggal di pilih apakah dengan jalur ide-ide Islam tetapi ramah atau sebagai “binatang politik” bukan Machivellian semata dengan kepentingan pribadi tersembunyi.



Penulis: Melqy Mochamad
(Sekjen Civil Society Network Jakarta)