Sastra Perlawanan
Cari Berita

Advertisement

Sastra Perlawanan

31 Jan 2017

Indikatormalang.com - Ada banyak cara orang untuk mengekspresikan diri, berpendapat, atau mengkritisi sesuatu, tidak terkecuali kritis terhadap penguasa. Saya sendiri yang masih berstatus sebagai mahasiswa kadang-kadang masih berpikiran sempit dalam mengkritik sistem yang ada, contoh, dengan cara unjuk rasa atau aksi demonstrasi yang terkadang berakhir ricuh. Padahal ada banyak media untuk menyalurkan aspirasi atau kritik seperti lewat tulisan ataupun seni.

Disini saya akan lebih berbicara tentang seni atau lebih rinci lagi lagu atau musik yang banyak saya ambil dari salah satu bab buku “Sastra Perlawanan” karya Nurani Soyomukti. Pada era orde baru, Iwan Fals, misalnya, pernah melantunkan lirik yang ditujukan untuk para wakil rakyat yang “seharusnya merakyat” tetapi hanya “tidur waktu sidang soal rakyat”. Muncul pertanyaan kembali mengenai hubungan seni dengan politik. Politik dan seni terlanjur dianggap sebagai lokus yang berbeda. Kesenian dianggap sebagai wilayah merayakan keindahan dan politik ditempatkan sebagai wilayah yang penuh lumpur dan noda. Tetapi bagaimana kita harus membaca kembali adanya gejala ketika seni ternyata berusaha menyatakan sikap dan pandangannya terhadap realitas politik atau ketika politik harus bersikap terhadap seniman yang dianggap melampaui wilayahnya? Iwan Fals pada waktu itu memiliki pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat terutama kesadaran baru yang terus meningkat akan penindasan yang dilakukan oleh Soeharto dan para wakil rakyat yang tidak merakyat.

Menjelang runtuhnya orde baru, sajak-sajak Widji Thukul tidak bisa disangkal mampu membangkitkan api perlawanan mahasiswa dan dalam hal tertentu rakyat yang berujung pada penggulingan rezim Soeharto. Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk merangsang kebutuhan estetika dikalangan rakyat justru lebih cepat dan meluas jika para seniman dan peminat seni menegaskan komitmen sosial yang kuat, juga berpihak secara tegas kepada suara rakyat yang terkena kontradiksi dalam struktur kekuasaan. Atau musik reggae di Jamaika. Guna memahami pesan yang tertanam dalam musik reggae, kita harus menarik benang merah dan cikal bakalnya di Jamaika.

Musik yang dialunkan menjelang detik-detik kemerdekaan Jamaika dari kerajaan Inggris. Musik yang disebut mento, calypso, ska, dan rocksteady adalah musik yang membentuk reggae secara dewasa. Pada agustus 1962 rakyat Jamaika putus dari belenggu konolialisme dan ingin lekas lepas dari bayang-bayang penjajahan Inggris. Dengan cepat, anak muda disana menemukan daya musik pribumi baru dalam alunan ska. Mereka pun menemukan pahlawan-pahlawan musik dalam sosok Alton Ellis, Desmond dekker, Prince Buster, Derrick Morgan. Jimmy Cliff, Toots & the Maytals, dan The Skatalites sebagai tokoh pahlawan lokal mereka. Bagaikan Soundtrack kemenangan sebuah revolusi, musik ska dan rocksteady menjadi musik pengiring keseharian rakyat Jamaika atas kemerdekaan yang mereka raih dari kerajaan Inggris. Bahkan dengan besarnya rasa kemenangan rakyat Jamaika , ska pun mulai menyentuh luar negeri terutama lagu : My Boy Lollipop oleh Millie Small yang merupakan Hits lagu pertama secara International oleh seorang artis Jamaika dan tembang tersebut mencapai peringkat ke-10 ditangga lagu Inggris.

Sesuai dengan tarian dan tempo ska yang cepat, enerjik, serta terdengar ceria, ia juga Jamaika rasakan saat itu- sebuah kecerian, harapan, dan kemenangan dalam kemerdekaan terpancar dalam musiknya. Harapan tersebut adalah negeri baru akan menentukan nasibnya sendiri, memiliki identitas sendiri, atau kalimat Bung Karno “Berdiri Diatas Kaki Sendiri” Di Indonesia, para politisi kita adalah mereka yang tak memiliki jiwa etis dan estetis, tak heran memahami lagu-lagu saja kesulitan.

Lagu adalah salah satu hasil kreasi estetis yang dibuat oleh mereka yang menjalani proses kreatifitas yang biasanya pikiran dan hatinya terasah oleh realitas yang seringkali direngkuhnya (dipikirkan, dihayati, dirasakan, ditafsirkan, dan diungkapkan). Jalan menuju kemampuan untuk memiliki kepekaan sosial adalah jalan kesenian dan bukan jalan mempertahankan posisi-posisi kuasa dalam kehidupan. Seniman berpikir mengurai, sedangkan politisi berpikir memadat. Seniman membebaskan hati dan pikirannya kepada dunia dan membiarkan imajinasinya terbang ke ruang-ruang hubungan sosial yang lebih luas. Sedangkan politisi berpilar pada patokan prinsip agar kekuasaan bertahan atau kalau bisa memperkuat dan memperluasnya. Maka dari itu, sekarang ini dibutuhkan banyak seniman, termasuk musisi, yang mau bersikap terhadap politik dan berkomitmen akan keadilan dan kebenaran.

Penulis : Tomi
Pegiat Indikator Malang