Sastra, Cinta dan Kehidupan
Cari Berita

Advertisement

Sastra, Cinta dan Kehidupan

28 Jan 2017

Sastra dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa sanskerta yaitu akar kata sas berarti mengarahkan mengajar, memberi petunjuk atau instruksi. Sedangkan akhiran tra menunjukan pada alat, sarana (Teeuw 1984: 21). Secara terminologi bisa langsung pembaca definisikan sendiri karena memang sampai sekarang definisi sastra itu belum permanen. Sastra pada hakikatnya Dulce et Utile artinya sastra itu menyenangkan dan bermanfaat, selain dari pada itu sastra juga menggerakan.

Para remaja banyak yang mengganggap bahwa sastra itu selalu menonjolkan sisi keindahan, romantis dan sebagainya sebaliknya bagaimana kalau sastra itu menonjolkan keburukan? Apakah itu bukan sastra?

Pengarang melahirkan sebuah karya tidak terlepas dari kehidupan sosial atau realitas pada sekitarnya, sehingga mempengaruhi dan menggerakan psikologi pengarang untuk kemudian mengangkat dalam bentuk karya sehingga dapat dinikmati dan diketahui oleh kalangan pembaca. Sebagai ekspresi jiwa pengarang, sastra menghadirkan berbagai karya yang imajinatif dan fiktif yang tidak lepas dari realita yang ada. Namun banya sekali sastrawan yang memaksudkan karyanya bukan sebagai ekspresi jiwa akan tetapi merupakan cerminan kehidupan, alat perjuangan sosial atau alat untuk menyuarakan aspirasi-aspiras bagi dan nasib orang yang tertindas dan menderita seperti halnya

Chairil Anwar dalam puisinya “Aku Ini Binatang Jalang” sedikitnya menggambarkan suatu keinginan dalam sebuah kebebasan yang diinginkan oleh penyair tanpa ada tendensi, dan intervensi dari orang lain.

Menurut Kahlil Gibran, jangan mengira cinta datang dari keakraban yang lama dan karena pendekatan yang tekun. Cinta adalah kecocokan hati dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah ada. Kapan dan berapa pun lamanya. Cinta dalam kehidupan mencakup ranah yang sangat universal. Ambil saja contoh kisah cinta Romeo dan Juliet. Cinta yang begitu dalam mereka sama-sam tanamkan dalam diri masing-masing sehingga hanya memandang cinta itu dari sisi estetika nya saja sisi etika dan logika tak dihiraukan dan pada akhirnya satu yang mati dia juga harus ikut mati. Sesungguhnya cinta yang benar adalah cinta yang mengedepankan etika, estetika dan logika. Maka dari itu kenali dirimu, sebelum kamu berani bermain cinta.

Sedangkan Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. Sungguh indah juga kebinasaann yang mengikutinya. Orang yang berani menghadapi akibatnya. Lagipula tak ada cinta yang muncul mendadak, karena dia adalah anak kebudayaan, bukan batu yang jatuh dari langit. Banyak pujangga yang berusaha mendefinisikan cinta mulai dari timur dia berkelana ssampai harus bermukim di barat sejauh kapal pikiran dan perasaan mengayuh untuk mencari arti cinta.

Ternyata cinta cukup sederhana menurut penulis sejauh pengetahuan yang dimiliki, karena cinta hanya untuk cinta itu sendiri. Cinta merupakan budaya yang keluar dari rasa kecocokan hati yang dimiliki oleh tiap insan untuk kemudian disatukan mencapai ridho sang Illahi.

Sebagaimana sastra lahir karena adanya hubungan sebab akibat yang kemudian itu dirangkum berdasarkan realita dan dieksplorasi melalui karya-karya supaya dapat dinikmati bersama oleh kalangan pembaca.

Berawal dari rasa cinta dan peduli pengarang terhadap suatu kondisi yang ada, dan kondisi itu ingin diketahui oleh banyak orang maka pengarang mendeskripsikan dalam bentuk karya sastra. Karena cinta semua yang pahit menjadi manis, raja menjadi budak, darah pun disangka olehnya air, dan yang tidak kalah hebatnya dompet yang kosong harus memiliki isi walaupun isinya pinjaman. Bahkan itu kertas kosong supaya terlihat lebih tebal sampulnya.

Supaya mudah untuk memahami isi karya sastra tersebut ada Dulce et Utile. Karena Dulce et Utile mengandung aspek diantaranya; gaya bahasa yang menarik, diksi yang indah, deskripsi, rangkaian cerita yang menyenangkan, karakter tokoh, perilaku tokoh, akhir cerita atau ending dan yang tidak kalah hebatnya partisipasi pembaca dengan membaca karya itu secara intensif dan mampu menempatkan diri sebagai laku atau tokoh dalam sebuah peristiwa.

Sesungguhnya cinta itu tidak demikian, para pembaca online yang sedang jatuh cinta, cinta itu sudah cukup untuk cinta itu sendiri artinya tidak ada lagi yang lain bahkan raja sekalipun, apa lagi yang bersifat materil. Jadi jangan takut jatuh cinta tetapi jangan sekali-kali berani bermain dengan cinta, bila pada akhirnya hanya menjadi bagian dari orang yang merasa tersiksa oleh cinta. Maka pahamilah CINTA! 

Penulis : Abdul Azis
Pegiat Indikator Malang
Azisabdul078@gmail.com)
Editor : Bima Utama