Meninggikan Iman Melalui Alam
Cari Berita

Advertisement

Meninggikan Iman Melalui Alam

27 Jan 2017


Dalam sebuah kisah, yaitu cerita nabi Ibrahim as yang menghabiskan waktu untuk mencari Tuhan dengan mengamati alam. “Dan demikian Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda Keagungan (kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan (kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. “Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudia tatkala dia meliihat bulan terbit dia berkata: “inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petujuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini lebih besar”. Maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, hai kaumku, sesungguhnya aku terlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadap diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Kisah nabi Ibrahim ini diabadikan Allah dalam Al-Quran surah Al-An’aam ayat 73-79. Kisah nabi Ibrahim mengenal Tuhan yang sesungguhnya adalah contoh nyata fungsi ayat pada alam semesta. Dalam Al-Quran surah Al-An’aam, Allah mengisahkan bagaimana konsepsi Ibrahim tentang fenomena alam yang sangat sederhana (kalau boleh dikatakan sains yang sederhana) maupun menghantarkannya kepada pengenalan Allah. Maka tidakkah kita memahami dan menghayati kisah tersebut? Iman adalah modal dasar hidup manusia untuk mengantarkanya ke pintu keselamatan. Dengan iman, manusia akan keluar menjadi manusia seituhnya seperti yang di-Maui Tuhan ataukah justru sebaliknya seperti yamg dikatakan al-Qur'an seperti binatang ternak. Di samping nabi Ibrahim, masih banyak kisah nabi yang lain.

Kisah nabi yang disebut sebagai uswah hasanah dalam al-Quran, yakni Rasulullah Nabi Muhammad saw mengenan Allah melalui tafakkur alam. Sebelum turun wahyu Allah di gua Hira, beliau gemar mengasingkan diri ke salah satu tempat di Jabal Nur. Selain beribadah, beliau juga menghabiskan waktunya dengan memikirkan (bertafakkur) keagungan alam di sekitarnya dan adanya kekuatan tak terhingga di balik alam semesta.Alam adalah fasilitas yang disediakan Tuhan untuk mengenal Penciptanya sekaligus Pencipta manusia sebagai komponen alam di dalamnya.

Jika tanpa mengenal ciptaan-Nya, manusia akan sulit meyakini secara baik, akan lebih banyak berkhayal dan menghasilkan berbagai pandangan pendekatan kepada Tuhan tidak seperti yang dicontohkan oleh para nabi. Munculnya berbagai ilmu pendekatan kepada Tuhan yang melepaskan diri dari alam, cenderung mengada-ada dan kemudian menjadi perilaku-perilaku aneh. Mereka adalah manusia yang belum memfungsikan akal dan memikirkan fenomena di alam ini.

Lebih jauh dari itu alam dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang diposisikan sebagai pelengkap, danutama untuk menunjang kehidupan.Allah sudah sangat jelas memperingatkan: “Kenalilah ciptaan Allah dan jangan mengenali dzat-Nya”. Alam adalah semua hal yang ada di sekitar manusia. Alam mudah diamati, mudah diraba, mudsh dirasakan, mudah ubah, dan diberi perlakuan. Dengan alam, manusia bisa berbuat baik, dan dengan alam manusia bisa disebut tidak bak. Tidaklah mengherankan jika pada akhirnya perintah eksplorasi fenomena alam menjadi salah satu bentuk dakwah para nabi dalam mengenal tanda-tanda kebesaran Allah.

Menarik jika kemudian di-upgrade iman melalui kisahnabi Nuh as, yang diceritakan dalam al-Qua'an surah Nuh ayat 13-20. Nabi Nuh menyeru kaumnya agar beriman kepada Allah dengan mengingatkan mereka akan beragam keajaiban fenomena alam semesta. “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkat kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tuju langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan kepadanya bulan sebagai cahaya dan menjdajikanmatahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah mejadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”.

Di lain kisah, nabi Musa as berkali-kali berdakwah kepada Fir'aun dengan menggunakan unsur-unsur alam. Terakhir kalinya adalah perimintaan Musauntuk memperlihatkan kebesaran Allah melalui terbelahnya laut. Setelah para pengikutnya mulai menyebrangi laut, tinggallah utusan Allah ini sendiri menghadang sang pembangkang dunia dan memintanya bertaubat. Ketika Fir'aun tidak bergeming, Musa berlari meninggalkan Fir'aun yang mengejarnya. Dahsyatnya laut kemudian menyadarkan Fir'aun akan adanya Tuhan yang hak disembah. Kecongkakan itu kemudian runtuh meskipun terlambat dengan merasakan dahsyatnya alam.

Cukup memberi pelajaran dan meningkatkan iman ketika menghayati maksud kisah ini. Maka masihkah ada manusia yang tidak beriman? Entah manusia seperti apakah sebenarnya, jika dengan mentafakkuri alam dan tidak meningkat keimanan dan kesungguhan untuk memeliharanya. Melalui alam, Fir’aun yang memiliki kekuasaan begitu besar, kedudukan dunia yang dapat menyamakan dirinya Tuhan, pada akhirnya mengakui kehadiran dan keangungan Tuhan. Melalui tafakkur alam, kehebatan seseorang ternyata tidak memiliki arti apa-apa.

Kepada Nabi Muhammad saw, Allah menurunkan wahyu al-Qur’an yang berisi seruan untuk meneliti dan mempelajari fenomena alam agar manusia menjadi hamba yang semakin mengenal Rabbnya dan bertawa: “Sesungguhnya dalam penciptaa langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan (bertafakkur) tentang penciptan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka (QS. Ali ‘Imran, 190-191). Kisah tersebut, kemudian diturunka Allah dalam bentuk Kitab al-Qur’an kepada kita, ummat dan sekaligus sebagai utusan pewaris nama-nama besar Allah. Maka mengapa kita tidak mau memperhatikan alam?


Penulis : Bolly
(Ketua Umum HIMAGARA Fisip Unitri)