Mengislamkan Cinta
Cari Berita

Advertisement

Mengislamkan Cinta

26 Jan 2017

Foto: www.sutterstock.com
Kalau kehilangan itu takdir kenapa kita memintanya. Bahkan tidak ada kata yang jauh lebih sulit penyusunan makna katanya dari pada cinta. Banyak filsuf berlarian saat ditanya soal cinta, bahkan Scorates melihat cinta sebagai keberanian untuk meninggalkan kesenangan. Jalaluddin Rumi memaksudkan cinta sebagai kerendahan hati dalam melihat dunia. Shakesphare melihat pemburuan cinta sebagai perlawanan kelas atas dominasi kekuasaan. Bagi Hitler cinta adalah ambisius untuk duduk sebagai manusia adidaya dengan menindas di bawahnya. Cinta tak lahir dari tuhan tetapi dari mata pandang kepada kepemilikan rasa diri kita sendiri.

Ada hirup pikuk yang tak biasa di taman kota Sophia, masyarakat berkerumun menyaksikan orang gila yang mengoceh dan berteriak “Kembalikan milikku tuhan, jika tidak kuambil milikmu juga,” hentak kata-kata itu mengudara sekencang angin, menyebar seperti bau dan dan menerpa seperti panas. Lelaki gila itu kembali berteriak sambil mencium foto perempuan ditangannya. Pikirannya yang tertindih kehilangan, menistakan pengharapan sampai duka menjadi kegilaan. Wanita dicintainya pergi dijemput ajalnya oleh tuhan.

“Kasian dia kehilangan perempuannya”, “Tak disangka dia harus gila saat masih muda”, ”Semoga kita masih waras menjalani hidup”, gumam-gumam masyarakat menjadi bisik yang riuh rendah. Orang gila itu melihat sekelilingnya dan melanjutkan teatrikal kepiluannya.

“Kita sebenarnya tak ada bedanya dengan dia, bukan begitu Zam?” Qois mahasiswa Fakultas Filsafat Atturk University.

“Tidak, kita jauh lebih parah dari dia” Nizami menyanggah pernyataan Qois. Nizami mahasiswa fakultas sastra satu kampus dengan Qois.

“Kenapa demikian Zam?”

“Orang gila itu hanya tahu kini bagaimana dia merasa sedih dan dia tulus atas kesedihanya, sedangkan kita jauh lebih gila saat mencari cinta bukan! Dan segala cara kita gunakan untuk mendapatkannya. Kita bahkan menangis saat kita tidak perlu menangis dan kita harus senang di saat apa yang kita senangi belum tentu kepada kita,”

“Bukankah orang gila itu sudah tak dapat menjalani cintanya?"

“Tidak Qois, dia sedang berada di puncak rasa cintanya. Apa perlu cinta harus dengan dicintainya, bahkan kita jauh terkadang lebih gila saat kita tak tahu pengertian dan maksud cinta,”

“Dia sudah tidak dapat berfikir tentang cinta secara logis Zam, bagaimana mungkin?”

“Apakah kita sangat rasional saat cinta itu datang pada kita, tidak. Justeru kita membuang jauh-jauh pikiran dan masukan masuk akal pada diri kita,”

“Baiklah Zam, kita lihat saja apakah orang gila itu masih bisa mencintai,”

Nizami tersenyum pada Qois sambil lalu memperhatikan orang gila itu sudah sedikit terdiam dan mendekap foto perempuan di dadanya.

“Lihatlah Zam, apa aku bilang dia tidak sama sekali menunjukkan seorang pencinta. Dia telah terjebak dalam rasa kehilangan yang sangat. Justeru bukankah cinta adalah bagaian kehadiran dan kehilangan. Jika tak mampu menerima kehilangan berarti,,,,”

“Berarti dia gila hehe, sama saja dengan kita Qois. Apakah ketidakhadiran cinta dan kehilangannya, apakah cinta ada masih berdikari dalam diri kita,”

“Menurutku asal masalah hidup dan ketakutan pada dunia ini adalah kehilangan yang berasal dari kebingungan, kenapa kita bisa hidup,”

“Justeru kita bertanya jangan-jangan kita kehilangan  sebenarnya karena kita menghindar dari kenyataan bahwa cinta harus bersama kegilaan,”

“Apa maksudmu cinta disamakan dengan kegilaan, bagaimana hubungannya,”

Nizami menepuk pundak Qois dan pergi dari taman. Mereka tak berbicara lagi dan berpisah. Orang gila sudah nyenyak kehabisan tenaga, namun bara hatinya menyala dan menunggu membakarnya. Taman padam dan orang-orang menelan bisikannya di kesepian sore dengan peraduan yang hampir malam.

# # # #
Ruang perkuliahan senyap saat Professor Wilcox masuk kedalam kelas. Dia pakar kajian Filsafat Timur walaupun dirinya besar dalam peradaban barat. Mahasiswa sangat tertarik dengan kuliah yang berkaitan dengan filsafat cinta Muhammad Iqbal, pemikir kenamaan muslim abad 20.

“Apa yang membuat cinta harus ada?” pancingan Profesor dimulai.

Mahasiswa saling mengajukan jawaban. Tak ketinggalan Qois melontarkan pendapatnya. Sama sekali tidak ada yang membuat Profesor merasa tertarik dengan jawaban mahasiswanya.

“Apa bentuk sederhana dari cinta?” Profesor melanjutkan pertanyaannya. Kali ini Qois mencoba berfikir sejenak.

“Ketulusan adalah alasan manusia atas cintanya,”

“Jika tak ada ketulusan, apakah dendam dan hasrat adalah jalan satu-satunya bagi manusia mendapatkan Cinta?”

“Profesor, hasrat adalah kehinaan dalam mencapai cinta yang murni,”

Profesor tersenyum sediktr dan memegang dagunya.

“Qois, apakah Cinta harus dimiliki oleh orang berbudir baik dan berperingkat etika secara baik?”

“Benar sekali Prof, bahkan dengan berbudi baik, cinta akan mendapatkan penghargaan selayaknya,”

“Lalu bagaimanakah dengan orang gila yang masih memikirkan cinta?”

Qois teringat perdebatan kecil di taman Sophia, kepalanya buntu dan tak mampu menjawab pertanyaan dari mentornya. Satu kelas mengapresiasi silang pendapat antara Qois dan Profesornya. Tetapi bagi Qois ini benturan untuk kedua kalinya soal orang gila. Kepalanya berfikir keras, bahkan saat menjalankan ibadah. Kata yang terpatri di kepalanya hanya “Gila”.

Qois kembali ke taman kota mencari orang gila. Dia bermaksud untuk bertanya soal kegilaan dan cinta pada orang itu. Sayang, Qois tak mendapatkannya, yang terdengar hanyalah kabar pahit dari masyarakat sekitar bahwa orang gila itu mati. Qois berikir apakah dengan cinta, gila itu ada atakah karena gila, cinta bisa ditemukan, atau lebih jauhnya karena mati sebagai kehilangan adalah keduanya, cinta dan gila. Jalannya gontai dan lunglai, tak ada yang lebih sulit dari pertanyaan filsafaat  tentang ada dan cinta dijadikan satu pernyatan.

# # # #
Pagi saat saat kenari dirundung bahagia, aroma candu kopi mengembun di udara kota Yarabayci. Saat musim panas para kelaki menghabiskan banyak kopi dalam satu musim pertahun. Aroma kedai kopi hangat menyapu bau daun datuh yang melapuk karena embun. Dua pemuda yang saling mempunyai kebiasaan minum kopi di kedai, Qois dan Nizami tak melewatkan waktu senggang.

“Orang dikota ini benar-benar Gila Zam, setiap musim lelaki berkumpul di sini. Tak penting  ada keperluan hari ini yang pasti mereka harus menghirup aroma kopi,”

“Apa mungkin terlalu cinta sehinhga harus tergila-gila pada kopi musim panas,”

“Zam, bagaimana menyalamatkan cinta dan gila, apakah kita harus gila untuk benar cinta ada. Atau cinta dulu baru gila untuk mendapatkan pengharapan dan kesetiaan sepenuhnya,?"

“Gila itu berarti bersungguh-sungguh, kalau orang kehilangan pengharapan dan kemudian hilang akal, dia tidak gila tetapi mati daya pikir. Jika dia gila dia pasti akan dibawa dalam gerak yang masuk akal seperti diri seorang ulama dan Profesoprmu. Atau bahwa gerak tidak masuk akan pada lelaki di taman kota Sophia,”

“Bisa kau jelaskan lebih baik?”

“Kegilaan tanpa cinta hanya akan melahirkan kepemimpinan yang menindas seperti pada diktator yang sangat arogan pada hasratnya. Sebaliknya cinta tanpa kegilaan hanya melahirkan pesimisme dengan pengorbanan tanpa henti atau bunuh diri sosial tanpa harus mati,”

“Bagaimana dengan muda-mudi di taman kota yang saling bermesraan tiada hentinya di musim panas ini?”

“Kau bisa perhatikan seberapa jauh  mereka gila dan saling menggilai satu sama lainnya,”

“Apakah seandainya tidak ada cinta, dunia ini tak ada artinya,?”

“Memahg benar Qois, tetapi menyederhanakan cinta pada satu titik perempuan adalah salah besar, oleh karenanya cinta harus kita Islamkan segera,”

“Apa maksudmu meng-Islam-kannya? Bukankan agama manusia tidak hanya satu agama,”

“Haha.. Islam juga mempunyai makna Selamat, maksudnya selamatkan cinta agar tak terjebak oleh kegilaan manusia yang menuhankan tubuh. Mereka akan mati dalam pengorbanan dan sekat ukuran sosial pada dirinya, Cinta memang tak dapat disamakan ukurannya, tetapiu cinta yang diberikan tak harus merugikan lainhya”

“Bisakah kita mencinta tak ada ukurannya Zam?”

“Jelas itu ada, bagaimana kita mencintau tuhan yang tak jelas wujudnya secara iman, seperti itulah kita mengislamkan Cinta. Dengan tidak meletakkan ukuran, maka kita tahu sama kapan cinta itu hidup. Walau  samapi gila sekalipun,”

Mereka kembali menyeruput kopi mereka. Qois mulai sedikit tercerah dan siap menjawab soal filsafat dari Profesornya. Tetapi Nizami lupa menjelaskan dan menyembunyikan “Siapa penuntasan cintanya?”.



Penulis: Siska Alicia Yuwandi
(Mahasiswa Sekolah Tiunggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta)