(CERPEN): Mencari Iman di Katedral
Cari Berita

Advertisement

(CERPEN): Mencari Iman di Katedral

22 Jan 2017

Foto: @picture-alliance/godong

Tak ada kaya atau miskin, yang ada hanya kata yang mengakuinya. Tanpa orang kaya kemiskinan tak akan berjarak. Bergitupun miskin, mereka diakui dari keberadaan kekayaan. Sesungguhnya kaya dan miskin tak lebih dongeng purba yang tak bisa dibabat oleh agama, politik, budaya bahkan tuhan seakan merawatnya. Entah ini cara-Nya untuk mengatur pentas teater Nya, ataukah dirinya tak mau ikut campur soal batas kaya dan miskin. Karena kekayaan, banyak orang pergi menghabiskan hartanya untuk keliling dunia, makan di tempat mewah, atau mensedekahkan hartanya karena kebosanan bagaimana caranya menghabiskan apa yang dimilikinya. Sebagian orang miskin memilih untuk berjuang tanpa rumus demi sekedar makan dan tidur dalam lipatan hari yang bergulir tanpa perubahan. 

Gadis biarawan taat katedral St. Petersburg terlihat berbinar wajahnya. Kulit putih langsat dibalut penutup hitam memadu keserasian akan kecantikannya. Dia gadis belia yang memilih untuk memberikan hidupnya pada tuhannya. Baginya ketaatan tak akan tergantikan dengan upah manis duniawi. Tak seperti gadis pada umumnya di Kota San Alponse, Spanyol   yang bergurau panjang di club-club kelas menengah sambi lalu tenggelam suntuk soal iklan reklame dan rilis film di bioskop kota-kotanya. Marissa mengubah istana tuhannya sebagai kedamaian dan ketenangan. Dia selalu merasa malu jika dirinya terbebani dengan masalah dunia di saat tuhan kesepian. Dia berusaha mengatur jam nya jauh lebih lama untuk menemani tuhannya.


“Marissa, marilah sejenak tengguk wine putih ini,” tegur seseorang dari pojok jalan saat dirinya melangkah pulang.

“Maaf,saya tak ada waktu untuk itu, itu perbutan merugikan,” “Oh tidak, pantas saja orang-orang yang bersama tuhan banyak miskin di kota ini,” sergahan yang menghentakkan telinga Marissa.

Marissa melangkah mengahmpiri sumber suara yang menghardiknya. Ditemuinya seorang lelaki berbadan tinggi putih berwajah keturunan Arab, Malik Al-Hamzah.

“Apakah kau tidak pernah mendapatkan rasa kasih sayang dari tuhanmu?” tanya Marissa

“Marissa,apa yang salah dengan sebuah kesenangan? Bukankah dengan ini kita dapat diketahui orang banyak kalau kita hidup, dari pada berdiam diri di gerejamu. Siapa yang mengenalmu di sana, selain tuhanmu dan dirimu,”

“Semoga Tuhan tak murka atas ucapanmu, kau harus sadar tuhan akan sangat sedih jika kasih sayangnya digunakan secara berlebihan,”

“Dan jauh akan lebih sedih Marissa, jika kasih sayang dari tuhanmu hanya untuk berdiam diri dan tak melakukan apa-apa,”

“Tidak penting aku melakukan apa yang kau mau, aku telah melayaninya lebih dari pernyataan kosong dari mulutmu,”

“Oh Marissa, menurutmu diriku tidak bertuhan? Yang benar saja, aku baru saja mengingatkan dirimu dan keyakinanmu. Kalau kau harus keluar dan melihat, bahwa rasa diam mu untuk tuhanmu di sana telah menyebabkan diriku dan orang-orang layakku tidak dapat kesenangan sepertimu mendapatkan kedamaian pada tuhanmu,”

“Maksudmu apa Malik, di tanganmu memegang wine dan kau meminumnya bukan, bukankah itu dilarang oleh tuhanmu juga,” Malik seorang Muslim Taat dan dia tau akan hal itu.

“Itu dia permasalahannya Marissa, air putih saja di kota ini hanya bisa dimiliki oleh orang kaya. Kami yang miskin tak dapat kesempatan mendapatkan air bersih untuk sekedar minum. Wine di tanganku hasil sisa-sisa orang-orang yang kau anggap beriman, padahal mengambil hak-hak kami yang minoritas di sini,”

Marissa mulai menyambut maksud dari perkataan Malik. Terlalu jauh waktu di altar katedral suci, dirinya tak sempat menyapa Malik teman satu sekolah waktu sekolah dasar. Kota San Alponse memang menjadi tempat orang kaya dan pergaulan bebas orang kelas atas. Masyarakat Spanyol menyebut kota itu sebagai jalan titian menuju surga. Semuanya ada, hanya orang miskin yang tetap tidak memiki pengakuan keberadaannya.

“Marissa, kusungguhkan hatiku dan segala penghormatanku padamu. Kau memang berbeda dari gadis-gadis lain di Kota ini. Semuanya tenggelam, tidak saja rasa tetapi iman dikota ini hanyalah formalitas saja. Apalah arti ini semua, di sana-sini tawa soal kemashuran dan kesenangan. Sedang kami di sana tenggelam dalam tawa-tawa orang,”

“Asalkan mereka beriman dan bisa bertanggung jawab, pasti ada pengampunan dari tuhan di atas sana,”

“Apakah dengan beriman, orang seperti kami bisa terselamatkan. Jika demikian Marissa, tuhanmu dan kaum mu menunggu kami mati saja. Apalah arti iman sebenarnya Marissa?” Pertanyaan Malik menyayat perasaan Marissa. Wajahnya tak berselera, pucat dan kehilangan daya ucapnya. Sejumlah orang yang mendengar perkataan kecil mereka, diam-diam memperhatikan kesungguhan Malik atas apa yang terjadi di Kota San Alponse.

“Marissa,jika kau selesai Misa besok. Kutunggu kau di jalan Gibral Jose tepat Jam 01:00,”

“Untuk apa, maaf kegiatanku di Katedral masih banyak,”

“Kau tidak perlu mematikan lilin satupun di altar mu untuk menerima permintaanku bukan?”

“Jaga ucapanmu Malik, tuhan tidak senang dengan kata-katamu,”

“Oh sejak kapan tuhan sibuk untuk kata-kata dari pada derita ummatnya?, harusnya aku puji tuhan aku bisa diselamatkan. Sungguh ku sesali orang berdoa dan kemudian diam berpangku tangan,”

“Jangan sekali-kali kau ulangin ucapan kasarmu. Baiklah besok kita bertemu dan kuturuti apa mau mu. Tapi ingat waktuku tidak lama,” Malik tersenyum ringan namun tidak dengan Marissa yang berwajah dingin. Wajahnya seakan terguyur skeptis Malik Padanya. Sebelum mereka berpisah, Marissa memanggil Malik kembali.

“Apakah kau percaya tuhan?” Malik tertawa dan melepaskan sebait jawaban tegasnya.

“Jika ku tak bertuhan, niscaya aku tak akan menemuimu,” Mereka berpisah dan meninggalkan siang yang terlanjur padam oleh sore yang teduh. Spanyol sungguh kota yang tak menyenangkan di musim panas, tetapi memiliki nuansa romantis yang berbeda di seluruh benua eropa.

# # # #

Misa berlangsung hikmat, para wali gereja dan kaum Katholik begitu khusuk menanti doa pengampunan dari para Uskup yang datang di Katedral dengan kapasital 5000-an orang itu. Ukiran bagunan dengan nuansa Ghotik mengemas suasan sebegitu tentram. Ada iman di sana, tetapi tidak ketika Misa selesai dilakukan. Cafe-cafe dan club malam ramai kembali, muda-mudi hilir mudik dipertokoan. Aroma kopi merembes di udara mengahantarkan pesan gurau tak berkesudahan. Minggu di Kota San Alponse mengilustrasikan manusia tak memiliki waktu kapan untuk berhenti senang. Di pojok jalan Gibral Jose, pemandangan akan jauh berbeda. Pemandangan kaum pinggiran dengan pesan budaya yang uring-uringan meratapi nasib tanpa kemajuan. Anak kecil tetap bermain dengan cara kesenangan yang dimilkinya walau terlihat tertinggal dengan anak-anak kelas menengah ke atas pada umumnya.

“Kau telah lama menunggu Malik?”

“Tidak ada waktu yang lama untuk memulai,”

Tak lama mereka melangkah di antara gang. Tak ada sepatah katapun diantara mereka. Pemandangan kanan kiri sangat kotor. Tak ada sanitasi yang memadai untuk menunjang kesehatan lingkungan mereka. Trotoar dan rambu jalan pun tak dijumpai, anak-anak bebas berlarian melintasi jalanan dengan kendaran pada merayap. Ruko-ruko kecil tak beraturan berdiri, masyarakat saling berdesakan untuk dapat jatah subsidi prodak konsumsi mereka. Reklame prodak global mengangkang di atas tembok bangunan. Namun tak ada satupun dijumpai kedai yang menjual prodaknya. Sepanjang gang dijumpai pengemis yang berderet menahan lapar dan menunggu iba, ataupun mati di kemudian hari.

“Marissa pertemuan kita sudah selesai, silahkan kau lanjutkan lagi aktivitasmu kembali,”

“Hanya untuk ini kau mengajakku, kukiran kau akan menasehatiku kembali. Aku sudah mempersiapkan segalanya jika kau melakukan itu,”

“Tak perlu Marissa, kau harus kembali ke Katedral sana. Apabila ada yang kau akan tanyakan, temui aku gang ini,”

“Kau memang lelaki sukar diterka Malik, sejak kita satu sekolah, kau siswa paling sulit kumengerti,”

“Nanti kau akan mengerti Marissa, percayalah”

“Entahlah, mungkin ini kebosananku yang paling puncak, bisa jadi ini pertemuan terakhir kali denganmu. Karena rencananya, aku mantapkan diriku untuk sepenuhnya di Gereja,”

“Kau Pasti datang menemuiku Marissa, dan akupun yakin kau akan mencariku”

“Semoga hidup mu bahagia Malik. Sampaikan salam kasih pada keluargamu,”

“Sampaikan juga salamku pada Tuhanmu, kemana saja selama ini, aku tunggu jawaban darimu,” Marissa memalingkan wajahnya yang terlanjur kesal. Dia menutup wajahnya dengan kain hitam. Langkahnya gontai pergi, tanpa membawa keterangan untuk apa dia datang memenuhi panggilan Malik. Satu sisi Malik sudah puas dengan pertemuan itu. Siang berlalu dan meninggalkan tanya.

# # # #

Jalanan Don Boesque ramai dipadati pawai pesta lulusan Universitas ternama di kota itu. Pemuda-pemudi menari berjingkrak ria mementaskan kekegembiraannya setelah mereka dipastikan lulus. Warga kota ada yang menyambutnya dengan rasa antusias ada pula dengan heran karena pesta itu dirasakan tidak perlu di saat kesibukan kota masih berlangsung. Namun, itulah kota San Alponse, tak ada kata mati walau di sana sini hampir ada yang mati karena tindak tanduk ketimpangan kota itu.

“Kak mereka sedang apa di sana?” Tanya Alissa gadis kecil berusia 6 tahun saudara kandung Malik.

“Mereka sedang menertawakan Kita, jangan kau tiru mereka,”

“Kenapa harus begitu, aku mau kesana ingin lihat dan bersenang-senang dengan anak-anak di sana,”

“Mereka tak akan membolehkanmu berteman, mereka itu semua tak punya hati Alissa,”

“Kak, kapan aku bisa sekolah, aku juga ingin berpakainan seragam dan bermain seperti mereka,”

“Kau harus sekolah, tapi tidak saat ini, kakak harus cari cara dulu untuk kau bisa sekolah,”

“Kenapa mereka tidak mempedulikan kita, bukankah kita sama-sama masih hidup,”

“Justeru karena kehidupan kita lah mereka menyatakan kita sebagai orang mati,”

“Kakak tak mau jadi seperti mereka?”

“Sama sekali kakak tidak ingin seperti mereka,” Ditengah obrolan silang dengan adiknya, di seberang jalan tepat di siku mata Malik, beridiri wanita anggun tinggi putih dengan alis melengkung memayungi merah pipinya, Marissa. Dia berjalan menyebrangi jalan dan melangkah menuju Malik dan Alissa.

“Alissa kau kembali ke rumah dulu, kakak ada keperluan dulu,” Alissa berjalan riang berlari kecil dan kemudian menghilang. Raut muka Marissa tak kesan untuk mengungkapkan rasa. Mulutnya tertahan bebatuan rasa di dadanya, hanya nanar merah matanya yang menyala dan menumpahkan air mata. Malik tertunduk dan tak bisa menatapnya.

“Sudah kuduga kau pasti menemuiku,”

“Malik, Apakah kau bertuhan?”

“Jika aku tak bertuhan sudah kuratakan Kota ini dengan darah,”

“Apakah kau tau bahwa kemkiskinan itu ulah tuhan?”

Malik tertawa pelan. “Justeru karena kupercaya Tuhanku bersama orang miskin, dan membenci kekayaan yang berlebihan, aku tidak miskin tetapi tertindas,”

“Bagaimana Jika kau tidak menemukan doa mu di tuhanmu?”

“Tuhan tau doaku terlalu kecil, tetapi tak akan lupa tawa-tawa peka keserakahan di kota ini terlalu besar,”

“Tuhanku tidak seperti itu Malik!”

“Kalau tuhan tidak demikian, apakah bisa kita tukar agama dan keyakinan untuk membuktikan mana tuhan yang menyemangati manusianya untuk tetap bertahan,”

“Aku datang kesini, karena aku ingin mempertanyakan padamu bagaimana kau beribadah pada tuhanmu,”

“Apa pentingmu dengan ibadahku?”

“Jika kau membuktikan ibadahmu itu baik, maka aku akan keluar dari Katedralku,”

“Oh Tidak Marissa, Ibadahku hanya mengingatkan soal saudaramu di sana yang masih belum makan dan merasakan seperti kaum di sana, ibadahku merasa cukup dan tak berlebihan. Tuhanku tahu diriku membutuhkan Nya, tetapi menyatakan tuhanku ada di dunia ini adalah dengan mengingatkan tentang tingkah laku yang berpaling dari kemanusiannya,”

“Ajak lah aku dengamu, dan kenalkan aku pada agamamu,”

“Tidak Marissa, tujuanku bukan mengajak pindah agama dan keimanan, cukup bagiku untuk mengajak iman-iman mu untuk pindah dari sekedar beribadan khusuk dan lihat keluargamu yang lain,”

“Aku telah meminta Uskup mencoret namaku, kini aku telah diusir dr Katedral semenjak aku bertanya soal keimanan ku,”

“Lalu kemanakah kau akan pergi setelah ini?”

“Terserahmu, di manakah kau akan mengajakku mengenal tuhan,”

“Marissa, kukira diriku lah yang melewati batas karena bertanya soal keimananmu. Kini kau malah melangkahiku dan bertanaya tuhanku,”

“Saat kuberjalan diantara gang Gibral Jose, aku memang tak bisa berkata bagaimanakah tuhanku tak pernah memberitahuku. Padahal hanya beberapa meter dari Katedralku. Aku mantapkan kupindahkan imanku pada duniamu. Jika kau memintaku menukar imanku, hiduplah denganku dan bebaskan mereka semua dari belenggu,

”Malik tersenyum dan tak melanjutkan tanya. Dia menyambut tangan Marissa dengan seizinnya. Mereka berjalan amenuju rumah kau tertindas dengan iman berbeda dan tuhan yang diperjuangkan bersama.



Penulis:  Casandra Yustika
(Aktifis HMI Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta)