Manusia Kuota dan Dunianya
Cari Berita

Advertisement

Manusia Kuota dan Dunianya

26 Jan 2017

Foto: www.pricebook.com
Mekarnya tipe media massa bagi komunikasi manusia abad ini semakin beragam. Tak ada kata terbatas, yang ada sampai mana batas kita sanggup mencapainya. Realitas tidak sepenuhnya memberikan kepuasan ruang bagi kita untuk berekspresi. Nyata sudah jika perangkat Line, Whats Up, Twitter, Facebook, dan Instagram bisa dikatakan ruang dalam berkomunikasi paling banyak digunakan saat ini. Tidak sekedar berhubungan tetapi sebagai ruang berbagi bahkan saluran bagi timbulnya perubahan bagi lingkunganya. Revolusi Aljazair saat merobohkan Rezim Ben Ali yang berkuasa 30 tahun lamanya adalah salah satu contoh bagaimana media memainkan peranan penting dalam kaukus perubahan. Apa yang terjadi di Aljazair juga berkembang sampai Mesir dan kini isu anti pemerintah  dan konflik berkecamuk di Suriah sebenarnya disebabkan awalnya oleh pergumulan politik lewat media massa di sana.

Dengan silang komunikasi yang rumit di media massa, kita dihadapkan dengan pertanyaan seberapa besar ruang kebebasan media massa bagi kita? Pertanyaan ini menarik dikarenakan kita lebih banyak berbicara the song, not the singer, yang lebih penting isinya dari pada orangnya. Dalam praktek bermedia justeru keyakinan kita adalah visualitas saja. Pertukaran komunikasi tidak saja dengan kata tetapi gambar dalam memberikan feedback informasi yang berbeda. Saat kita melihat status dan foto teman kita di salah satu media sosial kita, seketika ada perhatian bahkan kepercayaan. Anonimitas dalam media sosial itu jelas tak bisa dipungkiri, terkadang kebohongan dan manipulasi meyerap dari perhatian di media sosial adalah resiko yang kita harus siap terima kapan saja.

Ruang eksistensi adalah batas di mana kita berekspresi dengan kepercayaan akan adanya kita. Bagi medos-holic yang “taat”, Mayantara lebih penting dari pada hidup apa adanya di Nusantara (dunia nyata). Jika  media sosial dijadikan sebagai langgam untuk perubahan maka itu akan sangat positif. Walaupun, pada kenyataannya kita sangat bergantung pada kuasa elektronik dan kecanggihannya serta service provider yang mewadahinya. Anonimitas dan kepura-puraan dalam media sosial sesungguhnya ketidak sanggupan kita dalam berpikir logis secara baik di dunia. Okelah, jika share informasi itu masih diabsahkan, lalu bagaimana ekspresi diri yang mampang di wall media sosial kita. Mungkin benar ahli komunikasi Walter J. Ong dalam Orality and Literacy (1982) bahwa keberaksaraan dan kelisanan saat berpadu akan memunculkan kelisanan lainya yaitu visual. Visual adalah standard literasi yang lebih efektif saat ini, jika koleksi foto menarik kita, itulah anda dan cara meyakinkan orang lain terkait kita.

Kita terlalu naif dan ke-Aku-an sekali dalam melihat dunia dan menilai diri kita sendiri. Citra orang lain dalam layar Handphone pipih telah menjadi acuan diri kita dan etika hidup kita. Di mana, citra yang terespresentasi dalam gambar dan ikon menkonstruksi pikiran kita untuk menjadi ini dan itu. Lagi-lagi provider merupakan ruas untuk menunjukkan diri kita seutuhnya. Pengguna media sosial kita di tahun 2016 saja berdasarkan penelitian Global Internet mencapai 52 Juta lebih. Itu artinya konsumen layanan provider juga meninggat. Jika dari jumlah itu 50% saja aktif dalam dunia maya, maka itu artinya mereka bisa terhubung dengan banyak layanan dengan interkoneksi dengan banyak pesan dan informasi, satu orang bisa masuk dalam satu, atau dua, bahkan tiga media sosial sekaligus. Banjir informasi yang terjadi akan menyulitkan kita di mana yang harus diambil sebagai rujukan. Tetapi lebih jauhnya bagi mereka yang lebih berfokus pada share, mereka akan mampu bermain dalam retas ruang yang luas tidak hanya satu media. Maka dari itu, jelas Kouta Jaringan adalah lisensi sebagai jalan menjalankan itu semua.

Follower dalam ajang berbagi tentang informasi diri kita atau peristiwa adalah bagian dari seberapa besar kita memainkan pengaruh media massa lewat akun pengguna. Semakin banyak pengikut media sosial kita, ruang berbagi kita akan luas. Walaupun terkadang, jumlah pengikut yang ramai dan penuh nuansa simbolik di media sosial milik kita tidak sepenuhnya selaras dengan  kenyataan hidup kita. Ada yang jumlah pengikutnya ribuan tetapi pada kehidupan kesehariannya kesepian. Tetapi terkadang sikap pasif di media sosial nyatanya memiliki kemampuan social capital lebih baik di kehidupan nyatanya. Ruang virutal menampilkan diri sebagai labirin tak berhingga, di mana kita dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, kita menggunakan realitas yang tampak dalam diri kita dengan tangan dan skill kita tanpa bantuan media, tetapi mobilitas diri kita sedikit. Kedua, lewat media sosial yang memberikan ruang informasi dan komunikasi luas tetapi tidak real sepenuhnya, namun memiliki mobilitas yang maksimal.

Menurut Martin Heidegger Being and Time manusia dengan Dasein (ada di situ atau ada di sini). Dasein adalah khas manusia sebagai mahluk yang memiliki pengertian tentang Ada. Tiga sifat yang menandai keberadaan Dasein yaitu "faktisitas", "eksistensialitas" dan "kemerosotan". Faktisitas adalah kenyataan bahwa manusia, diluar kemauannya, terdampar di dunia dengan kondisi dan situasi tertentu. kondisi dan situasi tertentu. Faktisitas ini mengandaikan kebebasan eksistensial manusia untuk mewujudkan kemampuan dan menentukan diri, masuk ke eksistensialitas dimana manusia memikul tanggung jawab pribadi untuk membentuk hidupnya sendiri. Sedangkan "kemerosotan" adalah keadaan ketika manusia cenderung untuk menyesuaikan diri dengan dunia sekitar, akibat kurang penghayatan terhadap eksistensialitasnya. Di sini manusia tidak autentik lagi. Untuk mengatasi kemerosotan ini, menurut Heidegger, adalah dengan mengenal Angst (rasa takut tak berobyek). Angst dapat muncul jika manusia membuka diri bagi suara hati. Suara hati dapat mengingatkan manusia dari kelupaannya dan kembali menerima eksistensialitasnya sehingga kembali menjadi manusia autentik.

Media sosial dengan pertumbuhan bentuk, konten, dan isinya merupakan dari desain inovasi yang dapat dipantau oleh kita dengan mengikuti trend-nya. Tetapi, menyangkut persoalan kecocokan dengan antusiasme manusianya jelas kita tidak dapat menduganya. Satu persatu media sosial gugur saat kepolerannya tergusur oleh kecanggilan media sosial lainnya yang baru. Demikianlah dengan manusia gang hidup di “Mayantara”, mereka hijrah ruang eksistensialnya. Adalah mungkin jika media sosial berhenti apakah kita masih bisa eksis? Ini mengapa menjadi manusia otentik di dunia  moderen tidak lah semudah tuhan melemparkan Adam dari surga, ini menyangkut hasrat hidup dan libido kemajuan yang tak habis bahan bakarnya. Jelasnya, tinggal bagaimana mulai dengan berfikir pentingnya media sosial bagi kita, dan bagaimana media sosial menganggap penting dengan adanya kita kini.


Penulis: Melqy Mochamad
(Pendiri Frankfurt Studies Tjioetat)