Islamku yang Mana? Sebuah Renungan Religi
Cari Berita

Advertisement

Islamku yang Mana? Sebuah Renungan Religi

26 Jan 2017


Indikatormalang.com - Setiap manusia membutuhkan suatu bentuk kepercayaan, kepercayaan itu dijadikan sebagai dasar pijakan dalam hidupnya. kepercayaan itu akan menjadi penting bagi manusia apabila suatu bentuk kepercayaan memiliki tata nilai yang mampu menopang hidupnya agar menjadi lebih baik. Sebaliknya suatu bentuk kepercayaan itu akan menjadi sangat berbahaya apabila nilai-nilai yang terdapat di dalamnya tidak membawa manusia pada kebaikan hidup. Demikian penting dan berbahayanya suatu bentuk kepercayaan bagi manusia, sehingga manusia harus berhati-hati dalam menganut suatu bentuk kepercayaan.

Kehati-hatian itu hanya ada pada manusia yang memiliki ilmu pengetahuan, dengan ilmu pengetahuan manusia dapat memilah dan memilih suatu bentuk kepercayaan. Sudah barang tentu manusia harus paham bagaimana cara membedakan mana kepercayaan salah dan mana kepercayaan yang benar. Artinya Kepercayaan itu haruslah benar, Kepercayaan tidak boleh salah! Dalam kehidupan masyarakat, banyak kita jumpai suatu bentuk kepercyaan yang berdeda antara suatu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain, bahkan setiap manusia (individu) di dalam kelompok masyarakat itu sendiri memiliki kepercayaan yang berbeda-beda pula. Misalnya di indonesia memiliki beberapa bentuk kepercayaan seperti agama islam, kristen, hindu, budha, konghucu dan lain-lain.

Kepercayaan itu memiliki bentuk dan harus berbentuk kalau tidak akan sulit bagi kita untuk memahaminya. Di antara banyaknya bentuk kepercayaan itu, manakah kepercayaan yang paling benar? Adakah kesemuanya benar atau kesemuanya salah, atau hanya ada satu di antaranya yang paling benar? Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu untuk orang lain, biarlah diri orang lain itu yang menjawabnya.

Namun dalam tulisan ini perlu saya sampaikan dan tegaskan bahwa pokok pembahasannya hanya akan membahas satu bentuk kepercayaan yaitu agama islam. Salah satu bentuk kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat. Agama yang saya anut dan saya terima sebagai kebenaran dalam hidup dan kehidupan saya. sepenuhnya saya sadar bahwa saya tidak dapat memahami islam secara sempurna, memang tidak akan pernah bisa sempurna seperti islam menurut ALLAH SWT, tapi minimal mendekati sempurna. Artinya pemahaman saya tentang islam terkadang menurut pendapat saya sendiri, terkadang saya memahami islam menurut pemahaman NU, Muhammadiyah, HMI, menurut kaum Jabariyah, atau Qadariayah. Kadang menurut Cak Nun, menurut Ahmad Wahib, menurut Cak Nur, menurut Soekarno, bahkan aku memahami islam menurut temanku sendiri.

Sayapun bingung apakah karna terlalu banyaknya aliran sehingga membuat pemahaman saya tentang islam menjadi tidak sempurna? ataukah memang aku harus memahami islam menurut semua aliran agar menjadi sempurna? padahal islam itu cuman satu, islam itu cuman satu yaitu islam menurut Allah SWT, lalu kenapa kita harus membuat islam menurut masing-masing aliran, membuat islam menurut kita sendiri. Apakah perbedaan yang terjadi pada diri kita ini adalah cara Allah SWT untuk melihat siapa yang paling benar dan siapa yang paling bertaqwa? Saya harap itu bukan cara ALLAH, tetapi cara kita sendiri dalam memahami islam. Sesungguhnya saya tidak ingin bertanya tentang Islam saya yang mana, karna islam sudah sempurna dan ALLAH sendirilah yang menyempurnakan islam itu. tapi akal saya selalu meronta-ronta dan memaksa saya untuk tetap bertanya islam saya yang mana. apakah pertanyaan saya ini berangkat dari kerja akal yang tidak sehat atau sebaliknya karna kerja akal saya yang tidak sehat. Tapi banyak orang yang berpikir dengan menggunakan akal sehatnya, dari pemikiran akal sehatnya menghasilkan sesuatu hal yang berbeda pula. menurut Cak Nur islam itu sempurna, tapi menurut Ahmad Wahib islam itu memiliki kejelekan, lalu manakah sebenarnya akal yang sehat itu? Islam menurut cak Nur atau menurut Ahmad Wahib?.

Tapi kalau boleh saya berpendapat, pemahaman tentang islam haruslah berangkat dari pemahaman kita sendiri, kita tidak boleh memahami islam menurut orang lain. Pemahaman orang lain hanyalah pengantar untuk kita berfikir, pemahaman orang lain hanyalah pemahaman yang masih belum tentu kebenarannya, sekalipun benar, maka kebenaran itu tetap kita yang menentukan sehingga menjadi pemahaman kita sendiri. Sebab diri kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan termasuk pemahaman kita tentang islam kelak di Akhirat. saya tidak mau bertanggung jawab dengan pemikiran orang lain. Biarlah saya. Mudah-mudahan ALLAH tidak marah pada saya. Mudah-mudahan ini adalah cara terbaik untuk saya dalam memahami islam menurut ALLAH penciptanya.


Penulis : Furkan SA