Ideologi dan Gerakan Mahasiswa di Kancah Sejarah
Cari Berita

Advertisement

Ideologi dan Gerakan Mahasiswa di Kancah Sejarah

25 Jan 2017

Pada umumnya pengertian ideologi adalah berbagai kumpulan gagasan, ide-ide dasar, keyakinan yang diyakini kebenarannya, serta kepercayaan sistematis dengan arah dan tujuan yang dicapai dalam kehidupan individu, kelompok kecil, sampai pada kumpulan tersesar yaitu Negara. Mengacu pada gagasan Frans Magnis Suseno, idologi dimaksud sebagai keseluruhan sistem berfikir, nilai-nilai dan sikap dasar rohani pergerakan, kelompok sosial atau individu.

Ideologi dapat dimengerti sebagai sistem penjelasan tentang eksistensi kelompok sosial, sejarah dan proyeksi ke masa depan, serta merasionalisasikan bentuk hubungan. Dengan demikan, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan masyarakat. Ideologi yang dianut pada akhirnya akan sangat menentukan bagaimana seseorang atau kelompok memandang persoaalan, dan harus membuat apa untuk mensikapi persoalan tersebut. Dalam kajian inilah, paham ideologi menjadi sangat penting, namun sering kali dibaikan banyak orang.

Istilah ideologi adalah istilah yang sering kali dipergunakan utamanya dalam kajian Ilmu Sosial, akan tetapisering muncul istilah yang kurang jelas. Banyak para ahli melihat ketidakjelasan ini berawal dari rumitnya konsep ideologi yang dilahirkan di mana kebiasaan individu atau kelompok itu ada. Ambil contoh, di Indonesia sendiri yang sampai saat ini sangat kelihatan jelas. Berkali berganti Rezim Pemerintahan, namun kesejahteraan masih jauh di ambang harapan. Selalu muncul perbedaan dan cara pandang di setiap yang memimpin. Artinya masyarakat Indonesia diharuskan memaknai dan mengarah oada satu corong ideologi. Artinya, dalam pengertian yang paling umum dan paling dangkal biasanya diartikan sebagai istilah mengenai sistem nilai, ide, moralitas,interpretasi dunia dan lainya di Indonesia.Tak bisa dipungkiri, dalam memajukan daya saing dan perubahan besar internal bangsa,dan sebagai modal menghadapi globalisasi di segala bidang, masyarakat membutuhkan pendidikan tinggi dari penerus perubahan bangsa, yang dikatakan mahasiswa.

Yang dibutuhkan adalah bagaimana cara pandang mahasiswa tentang konsep negara dan membawanya ke arah sesuai amanah UUD 1945 sebagai ideologi negara, sehingga ketika mahasiswa terjun ke medan parlementer, ideologi itu sudah menjadi hal yang tak bisa dibatasi dan wajib diteruskan. Potensi intelek, ilmu, dan profesi mahasiswa yang berbudaya dan kreatif, toleran, demokratis, berkarakter tangguh, serta berani membela kebenaran itulah kumpulan gagasan para mahasiswa untuk kepentingan bangsa dan menjadi harapan semua manusia di negara ini.

Idealisme Mahasiswa Dalam Gerakan Secara umum gerakan mahasiswa sampai saat ini tetap berada di garis depan, di setiap gerakan pembebasan tanah air bahkan seluruh dunia untuk menentang kedzaliman, dan juga merupakan markas utama yang melahirkan tokoh-tokoh pemikiran dan revolusi di banyak semua sektor. Demikian pula, gerakan mahasiswa adalah target sasaran musuhnya yang berselimut di aras elit, karena mehasiswa adalah kumpulan cendikiawan umat, aktivis, manusia berfikiran terbuka, paling siap berkorban, dan terakhir paling siap melakukan perubahan yang jika belum terjadi di usia mereka pasti akan terjadi di masa depan. Berangkat dari sejarah, yang terjadi pada gerakan mahasiswa sejak dulu hingga sekarang, idealisme mereka memiliki pengaruh yang sangat besar untuk mewujudkan perubahan. Mahasiswa sebagai komponen menengah dalam masyarakat memiliki ide yang cukup untuk mengakomodir aksi perubahan.

Gerakan mahasiswa adalah sebagai gerakan moral demi menegakkan keadilandan kebenaran bagi seluruh rakyat. Gerakan mahasiswa muncul sebagai curahan perasaan rakyat yang mendambakan perubahan untuk kemajuan. Generasi muda harus memupuk kekuatan diri sebagai gerakan moral dan senantiasa tampil sebagai alat koreksidan sosial control terhadap peyelewengan, ketidakadilan, korupsi dan penindasan. Karena itu mereka berusaha tetap bersih, bebas dari akses-akses manipulasi, dan mampu menggalang persatuan dan kesatuan pendapat, serta mental di antara sesamanya dan mampu melahirkan kesatuan dalam tindakan. Realitas Dalam Gerakan Mahasiswa Pada paparan di atas, telah dibahas tentang idealisme dalam gerakan mahasiswa beserta komponen mahasiswa di dalamnya. Dengan rujukan idealisme tersebut, gerakan mahasiswa dapat diketahui realitasnya, apakah gerakan itu sesuai dengan apa yang menjadi landasan ideologinya ataukah hanya menjadi alat dari pihak tertentu dalam memenuhi kepentingan individu dan golongan. Dalam aplikasi dan solusi yang ditawarkan, secara tak sadar telah keluar dari konsep dasar pergerakan mahasiswa. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru, bahkan mahasiswa pada angkatan 66 sudah terbukti, bahwa gerakannya akhirnya menjadi sebuah mitos sejarah belaka yang diakibatkan berbagai kepentingan dan keinginan yang melenakan dari pihak-pihak yang turut andil dalam pergerakannya. Jaman yang berubah cepat, kaum muda Indonesia sebagai kelompok yang terbesar, diminta untuk mengambil tindakan yang bertendensi ke masa mendatang. Setiap pemuda dan mahasiswa diminta untuk melibatkan diri dalam kelompok entitas, apakah kita sebagai entitas Bangsa atau sebagai entitas kesadaran Kesemuanya itu menandakan adanya persimpangan yang rumit dan juga pertaruhan yang melibatkan tidak hanya suatu generasi saja dari bangsa ini, akan tetapi juga melibatkan mereka yang belum lahir dalam kehidupan bangsa ini.

Dalam posisi ini, ketika gerakan mahasiswa memposisikan diri sebagai pelaku dan bukan penonton, persoalannya bukan semata-mata optimisme atau pesimisme. Lebih dari itu, mahasiswa harus mapu berfikir apa yang harus dilakukan dan seberapa besar energi dan aminisi yang harus disiapkan. Sudah saatnya pula gerakan mahasiswa menegaskan kembali untuk tidak terlarut dalam romantisme sejarah meskipun dengan tetap mengakui bahwa mereka adalah “anak-anak yang tumbuh di bawah asuhan sejarah”. Di sini, tugas gerakan mahasiswa bukan sekedar menuju pada suatu benua makna, akan tetapi menerka-nerka maknanya. Menafsir terkaan itu dan menarik kesimpulan dan terkaan terbaik. Ada beberapa tipe gerakan mahasiswa yang dapat dijumpai adalah sebagai berikut:

Pertama, gerakan idealis/elitis Gerakan ini adalah gerakan yang eksistensinya ditunjukan dengan memikirkan bagaimana memproduksi wacana dan konsep yang banyak seolah hal tersebut menyelesaikan persoalan-persoalan. Secara taktis di lapangan, gerakan ini hanya menghasilkan berbagai wacana dan teori melalui diskusi, workshop, atau pun seminar. Gerakan ini menjadi elitis karena keberadaan tidak dirasakan langsung, tetapi mereka berfikir apa yang dilakukan memberikan sumbangsih yang besar menyelesaikan ketimpangan sosial. Sejati gerakan ini seperti asik di menara gading kehidupan pemikirannya. Kemerdekaan berfikirnya masih terbelenggu dengan dogma elit kehidupan yang seakan mengeluarkan mereka dari keterpurukan keadaan sebelumnya.

Kedua, gerakan pragmatis/elitis Gerakan tipe ini adalah model gerakan yang memilih performance gerakan dengan perangkat organisasi yang mewah, lengkap dan modern. Namun sesungguhnya miskin akan ide dan substansi. Mereka lebih suka menunjukan kekayaan organisasi, sebab dengan berorganisasi mereka beranggapan akan dapat menaikkan status sosialnya. Dalam aplikasinya mereka hanya seolah menampilkan dirinya peduli dengan keresahan rakyat. Tetapi nyatanya mereka sedang memperjuangkan dirinya sendiri dengan mengatasnamakan rakyat dibela. Mereka cenderung menjual kemiskinan, keterpurukan untuk kepentingan sendiri.

Ketiga, gerakan eksistensialisme Gerakan ini biasanya sibuk memikirkan keberadaan organisasinya dari apa yang dia lakukan. Dalam aktivitasnya, mereka cenderung mengambil peran gerakan dengan demonstrasi yang cenderung show of force, yakni memamerkan massa dalam jumlah yang besar tanpa memikirkan perubahan apa yang dihasilkan. Sebagai gerakan mahasiswa, realitas yang terjadi saat ini biasanya adalah pergeseran nilai-nilai idealisme yang sejak awal diusung oleh mereka-mereka yang menyebut dirinya sebagai agen perubahan. Bahkan lebih buruk lagi, analisis yang dilakukan, reformasi jangan sampai mati, untuk itu perlu peran gerakan mahasiswa yang ada sebagai bentuk kontrol sosial menjadi wadah bagi terciptanya reformasi tersebut dalam tatanan mikro. Maka, dalam hal aplikatif tidak hanya sekedar pemikiran sebelah pihak saja, tetapi perlu proses aplikatif dalam tatanan yang lebih real dan sesuai dengan tuntutan jaman. Kalau beberapa tokoh mengatakan “No Action Talk Only”, mungkin ada benarnya pada sebagian gerakan mahasiswa. Berbagai diskusi yang dilakukan dalam setiap elemen mahasiswa belum mampu merumuskan konsep bersama yang solid untuk melakukan perubahan yang lebih berarti. Aksi-aksi yang dilakukan tidak hanya sekedar perhelatan tradisi pengulangan sejarah atas wacana yang ada di dalam masyarakat, tetapi belum mampu menimbulkan efek yang cukup bagi terciptanya solusi dalam rangka perbaikan.

Mulai saat ini, mahasiswa harus menyadari bahwa perlawanan lewat aksi demonstrasi jalanan saja tidaklah cukup, karena ia hanya berfungsi untuk mereduksi kedzaliman, dan belum tepat disebut solusi. Lebih dari itu, pemuda harus menyadari bahwa mereka minimal memiliki 4 ageda :

Pertama, mempersiapkan para tekno-birokrat. Kedua, mempersiapkan para “intelektual organik”. Ketiga, mempersiapkan keder-kader “pemimpin politik”, dan keempat, mempersiapkan para pengusaha. Agenda ini harus dijalankan secara serius untuk mengobati “cacat bawaan”kepemimpinan dan personal yang selama ini berlindung di aras elit pada bangsa ini.

Permasalahan yang menyibukkan masyarakat Indonesia, juga Internasional, sesungguhnya terjadi di wilayah internal. Berbagai konflik antargerakan dan kelompok tertentu sudah bermetamorfosa kepada konflik antargerakan lain khususnya mahasiswa. Dalam gelombang perubahan yang diagendakan di atas, saatnya sekarang para pemuda dalam arti mahasiswa secara khusus diberi ruang untuk memainkan peranan yang menentukan. Gagasan yang terkumpul yang dikatakan ideologinya seharusnya bermuara pada upaya perubahan besar berskala nasional dan tercapainya kualitaskehidupan masyarakat adil dan makmur. 

Pencapaian kualitas itu yang diperjuangkan mahasiswa secara berkesinambungan di setiap keluarannya dari perguruan tinggi atau organisasi yang digelutinya. Kaum muda adalah mereka yang dipihaki oleh waktu, yang tak surut semangatnya walau diterpa godaan hidup megah, karena itu melawan kebangkitan pemuda berarti mengkhianati proses hidup yang telah ditetapkan Allah SWT. Tentunya dalam konteks ini, kita teringat tulisan Jane Foster, Kumi Naidoo, dan Marcus Akhuta-Brown, judulnya “Youth Empowerment and Civil Society”. Tulisan yang termuat dalam buku Civil Society at The Millenium (1999) ini menggariskan pentingnya pemuda dalam proses perubahan politik melalui Civil Society di mana-mana.

Agar Negara ini tidak terus menerus melakukan keterpurukan terhadap masa depan generasi. Kegagalan ini membuat sindrom pemalasan sosial (social loafing) yang terjadi tanpa henti. Semua orang berbicara atasnama rakyat tetapi hakekatnya mereka lebih senang bekerja sendiri untuk memenuhi ambisi politiknya dari pada bekerja sama dengan elemen bangsa yang lain untuk kebutuhan bangsa lebih besar. Hal lain yang perlu diperhatikkan adalah mengenai kondisi saat ini yang masih dikatakan belum dalam kondisi ideal. Masalah yang timbul bukan masalah hitam dan putih untuk bisa dibedakan secara jelas, tetapi yang timbul adalah di antara abu-abu dan bahkan kabur. Kecerdasan dan kejernihan pikiran dibutuhkan dalam mengambil keputusan karena paham agama yang dianut semua masyarakat di Indonesia mempunyai alur berfikir berbeda, namun esensinya adalah satu tujuan yaitu perubahan. Maka gerakan mahasiswa harus mampu mewujudkan solusi bijak sesuai dengan idealisme yang berusung dari beragam masa perjuangan Indonesia.

Proses perbaikan umat diperlukan dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia, karena hanya melalui perbaikan itulah konflik dan persaingan bisa menjadi rahmat bagi umat. Perbaikan ini memerlukan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sehingga diperlukan keberanian dan sikap tegas dalam mengambil keputusan untuk memulai memasuki babak baru perbaikan.Wallahua’lam...

Penulis: Bolly.54