Dilema Angkutan Umum Kota Malang, Si Biru Hidup Segan Mati Tak Mau (Bag. 1)
Cari Berita

Advertisement

Dilema Angkutan Umum Kota Malang, Si Biru Hidup Segan Mati Tak Mau (Bag. 1)

23 Jan 2017

Ankutan Kota Malang, Si Biru yang Legendaris / Foto : Tempo.co
Indikatormalang.com - Transportasi merupakan salah satu kebutuhan warga Kota Malang yang semakin penting saat ini. Bukan saja karena pertambahan penduduk kota setiap tahun, tetapi juga meningkatnya kegiatan ekonomi dan kebutuhan pergerakan manusia dan barang antar lokasi.

Namun demikian, mobilitas transportasi darat di Kota Malang mulai memunculkan masalah yang cukup rumit. Yaitu terjadinya kemacetan lalu lintas di jalan-jalan utama setiap hari. Penyebabnya, semakin banyaknya jumlah kepemilikan kendaraan pribadi yang menggunakan jalan di kota ini. Minat masyarakat untuk bepergian menggunakan angkutan umum semakin menurun.

Jenis angkutan darat yang tercatat dan menjadi angkutan publik Kota Malang meliputi moda angkutan kota (mikrolet), taksi dan bus. Moda angkutan barang seperti truk dan pick up  tidak diijinkan untuk mengangkut orang. Sementara moda angkutan motor atau ojek, tidak termasuk dalam angkutan umum, karena hanya untuk angkutan jarak pendek, tidak bertrayek dan untuk lokasi yang tidak terjangkau angkutan umum.

Armada angkutan umum Kota Malang saat ini dominasi kendaraan jenis minibus, yang dikenal dengan sebutan mikrolet. Berkapasitas tempat duduk 12 orang, mikrolet memang sesuai dengan kondisi wilayah Kota Malang yang memiliki jalan-jalan yang relatif sempit. Pada tahun 2016, Dinas Perhubungan, dalam buku Profil Dinas Perhubungan menyatakan bahwa jumlah mikrolet di Kota Malang yang masih beroperasi sebanyak 2192 armada yang melayani 25 trayek dengan rute hampir seluruh wilayah Kota Malang dengan panjang trayek total sepanjang 355 km.

Namun demikian, dari jumlah tersebut diperkirakan hanya sekitar 1.500 unit mikrolet yang masih beroperasi. Kondisi ini terjadi akibat semakin sepinya jumlah pengguna angkutan kota. Sebagian besar warga justru beralih menggunakan kendaraan pribadi dalam bepergian. Hal ini juga diperparah dengan ketidaklayakan kondisi mikrolet yang ada saat ini. Dari jumlah yang masih beroperasi tersebut, hanya sekitar 70 persen yang laik jalan.

Permasalahan tersebut menjadi dilematis. Pertambahan jumlah kendaraan pribadi mengakibatkan jumlah angkutan umum semakin berkurang. Solusinya adalah memberikan alternatif kendaraan umum yang layak dan disukai masyarakat, misalnya bus kota, terutama di jalan-jalan utama. Hal ini bercermin dari sukses penataan angkutan umum di Jakarta, Yogyakarta dan Solo.

Pemeritah Kota Malang telah merintis angkutan bus kota yang diberi nama Bus Halokes (Bus Sekolah). Namun jumlahnya belum memadai dengan kebutuhan pelajar. Kehadiran bus kota juga tampaknya masih ditolak oleh paguyuban angkutan kota karena dianggap mengancam penghasilan para sopir mikrolet. 


Pewarta : Tim Lipsus Indikaator Malang
Editor : Dekki