(CERPEN): Rusaknya Keluargaku
Cari Berita

Advertisement

(CERPEN): Rusaknya Keluargaku

10 Jan 2017


Pagi hari sekali, seperti biasa ku memulai hariku dengan bersih-bersih rumah dan warung serta menyiapkan keperluan sebelum berangkat kesekolah. Ya, aku tidak seperti anak lain yang ibunya menyiapkan keperluan dan sarapan sebelum berangkat kesekolah. Keluargaku sungguh tidak harmonis, ketidak harmonisan itu sudah terjadi sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Hingga puncaknyan ibuku memutuskan untuk pergi bekerja di luar jawa dan meninggalkan ayah, aku serta adikku. Sejak saat itu, aku sebagai anak sulung bertanggung jawab dengan kebersihan rumah dan warung. Sementara ayahku yang mengelola warung kami. 

“Dek, bangun!” Kataku sambil menyiapkan keperluan untuk sekolah kami. 

Saat ini aku sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama dan adikku yang masih duduk di kelas 5 sekolah dasar. Seperti biasa adikku langsung bangun dan mengambil handuk untuk mandi. Sedangkan ayahku masih tidur pulas di ruang televisi. Maklum saja, ayahku seorang diri bekerja di warung dari jam 10 siang hingga jam 12 malam sehingga beliau butuh istirahat. Walaupun begitu ayah tak pernah lupa menyiapkan uang saku kami yang beliau letakkan dimeja makan. 

“Dek, ayo cepat bearangkat nanti kita terlambat!” Teriakku sembari mengeluarkan sepeda dari dalam rumah. 

Jam menunjukkan pukul 06:30, aku segera mempercepat kayuh sepedaku agar tidak terlambat masuk sekolah. Jarak antara sekolah dan rumahku cukup jauh dibanding jarak antara rumah dengan sekolah adikku, sehingga aku harus lebih bergegas agar tidak terlambat. 

” Tet,tet,tet...”. Tanda bel masuk sekolah berbunyi, semua anak-anak bergegas masuk dikelasnya masing-masing untuk memulai pembelajaran. 

Namaku Febri, aku adalah murid yang cenderung biasa saja dan tidak banyak prestasi. Setiap hari raut wajahku selalu kuhiasi senyuman seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, padahal dalam hatiku sedang merasa sangat sedih. 

Seperti anak-anak lainya, aku dan adikku juga mengharapkan keluarga yang utuh dan bahagia. Keluarga yang utuh dimana ada ayah dan ibu yang menyayangi, mengurus dan mendampingi kami. Tetapi mau bagaimana lagi, siapa yang harus kami salahkan untuk semua ini. Tidak, tidak ada yang bisa kami lakukan atau kami salahkan. Terkadang aku merasa hidup ini terasa tidaklah adil, karena kami yang harus menerima imbas dari masalah kedua orang tua kami. 

“Hey, eb! Jangan melamun ”. Bisik ayu teman sebangku ku sambil menepuk pelan pundakku. Aku memang sering sekali melamun walaupun saat itu pelajaran sedang berlangsung. 

“Tet, tet, teeeeett...!!“. Tanda bel jam pelajaran telah usai. Terlihat ayu berlari mengejarku yang berjalan menuju parkiran sepeda. 
“ Eh, eb! Ayo main kerumahku”. Teriak ayu sambil mengalungkan lengannya ke leherku. 

Ayu adalah temanku dari sekolah dasar, aku sering berbagi cerita dengannya sehingga dia sangat akrab denganku bahkan dia juga tau masalah apa yang sedang kualami dalam keluargaku. Keluarga ayu berbeda jauh dengan keluargaku, keluarganya sangatlah harmonis bahkan aku kadang iri melihat keluarganya. 

“Baiklah, nanti aku main kerumahmu. Tapi sebelumnya aku pulang dulu ganti baju dan meminta izin keayahku terlebih dahulu agar dia tidak mencariku” Kataku kemudian menaiki sepedah keluar dari parkiran dan pulang. 

Sesampainya dirumah aku dan memberi salam kepada ayah, terlihat dimeja ayah sudah membeli sayuran dan lauk untuk aku masak. Terlihat juga adikku sudah pulang dari sekolah dan sekarang sedang menonton televisi. Aku pun bergegas melepas seragamku dan berganti baju, karena aku tau adikku belum makan sejak tadi siang sama sepertiku, dan apalagi ayah yang sama sekali dari pagi belum makan. 

“ Yah!, aku setelah ini tidak bisa membantu ayah di warung, aku ingin main kerumah ayu ”. Kataku sambil meletakkan sayur dan lauk yang sudah masak di meja. 
“ Ya, baiklah. Hati-hati ” Kata ayahku sambil menyendok nasi di piring untuk segera makan siang. 

Kami makan seakan tak lahap, bukan masalah makanannya yang tak enak tapi masalah yang di alami keluargaku membuat keadaan serasa menyedihkan. Aku yakin dari kami bertiga ayahku lah yang paling tertekan dengan keadaan ini. Bagaimana tidak tertekan, setiap kali salah satu keluarga ibu berkunjung menjengukaku dan adikku selalu saja mereka menyalahkan ayah tentang kepergian ibuku. Ayah juga harus melihat anak-anaknya yang terkena imbas masalah ini tanpa mendapatkan perhatian serta kasih sayang yang harusnya di dapat dari ibunya. 

Setelah makan aku mencuci piring, terlihat adikku mengambil sepedahnya untuk pergi bermain. Ayahku membebaskan kami berdua hidup normal bermain seperti anak-anak lainya seusia kami agar kami tidak tertekan. Setelah aku selesai mencuci piring, aku pergi mengambil sepedah. 

 “Yah, aku berangkat!”. Teriakku dan berlalu dari rumahku menuju rumah ayu. 


Sesampainya dirumah ayu suasana hangat kelurga sangat terasa, sehingga aku juga sangat senang bermain dirumah ayu. Tak terasa hari pun sudah sore dan aku harus segera pulang kerumah. Aku pun berpamitan kepada ayu dan keluarganya untuk segera pulang. Aku mengambil sepedaku dan menaikinya menuju kerumah. 

Sesampainya dirumah, tak biasanya terlihat sepi sekali seperti tidak ada orang. Pintu rumah terkunci dan lampunya mati, dan juga tak seperti biasanya ayah menutup warung awal-awal. Aku berlari ke rumah Bu Sri tetanggaku, dan bertanya mungkin dia tau kemana ayah pergi. 

“Ayahmu pergi kerumah sakit, karena tadi adikmu tertabrak motor. Sabar nak, doakan semoga adikmu tidak apa-apa”. Katanya yang terlihat tampak sedih. Mataku tak kuasa lagi menahan air mata, tanpa sadar aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya.


Penulis : Sulistyowati
(Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis bisa dihubungi melalui : E-mail: sulistowati2709@gmail.com)