(CERPEN): Pengalaman Anak Kos
Cari Berita

Advertisement

(CERPEN): Pengalaman Anak Kos

6 Jan 2017


Selama kita belum dewasa, selama kita belum menikah dan memiliki keluarga sendiri, hidup adalah serentetan pengalaman berbagai kejadian yang harus kita sikapi dengan baik. Berbagai hal yang kita alami dan kita lalui harus kita jadikan sebagai sarana belajar agar kelak kita bisa menggapai cita-cita menjadi orang yang sukses seperti yang diharapkan orang tua. Banyak sekali penggalan kisah yang mewarnai jalan ini. Mulai dari dunia anak kecil yang tahunya hanya bermain, menginjak sekolah yang sudah diajari mandiri dan akhirnya sampai di masa kuliah yang sudah waktunya membuktikan jati diri. Lulus sekolah menengah dan lanjut ke jenjang pendidikan lebih tinggi, meski masih bergantung pada orang tua kita sudah mulai dewasa, dianggap dewasa dan mulai menjadi dewasa yang sebenarnya. Lihat saja aku, berbekal berbagai fasilitas dan kemudahan yang disediakan orang tua aku bersekolah, lulus sekolah menengah pertama lalu melanjutkan ke jenjang SMA. Beberapa tahun di SMA, dengan berbagai beban belajar yang bermacam-macam, dengan hasil yang tidak seberapa akhirnya aku menyelesaikan masa sekolahku. 

"Hei, lulus ini kamu pada mau lanjut kemana nih?" 
"Entahlah, yang jelas aku sepertinya tidak akan disini" 
"Ya, kalau kamu mah pasti, ayah kamu kan pasti udah punya seribu rencana buat anak kesayangannya, beda dengan aku" 

Beberapa percakapan itu masih sesekali terngiang di telingaku dengan jelas, bahkan bau spidol yang ada di baju seragam sekolahku pun terasa belum kering benar dan aku sudah menyelesaikan segala urusan pendaftaran kuliah. "Aku sekarang mahasiswa nih" gumamku dalam hati. Dan akhirnya sudah sebulan ini aku resmi menjadi anak bapak ibu kos, sebuah pengalaman baru yang mau tidak mau harus aku jalani, demi ayah dan ibu, demi cita-citaku. Kebayangkan, bagaimana jauh dari orang tua? Ternyata, rasanya tuh sesuatu banget ya. Yang biasanya tiap bangun tidur udah ada sarapan, tiap laper tinggal makan, sekarang enggak. Harus nyari makan sendiri, bayar sendiri. Tiap bangun tidur tuh kan haus banget ya, kalau dirumah itu tinggal nuang atau buka kulkas doang, abis itu haus ilang ketelen. Tapi kalo jadi anak kos itu harus ngeluarin tenaga dulu, uang juga sih tentunya. Tiap selesai makan minum, ditodong, buat bayar maksudnya. Ah, seringkali malas menyeret kaki buat kewarung, atau ngluarin kertas berharga dari dompet buat bayar. 

"Berapa bu?" 
"Nasi ayam sepuluh ribu es jus lima ribu, jadi semua lima belas ribu Non..." 
"Ini bu, sama minta sekalian bungkusin satu lagi jus melon-nya" 

Percakapan seperti itu sering sekali terjadi dalam satu minggu, atau setidaknya tiga kali dalam satu hari karena aku harus tetap mengurus badanku. Tapi, yang miris tuh tanggal tua, tau kan apa maksudnya? Namanya juga anak kos jadi ambil uang di ATM pas tanggal muda, tengah bulan udah abis aja, tanggal tua tinggal clingak clinguk gitu. 

"La kalau sudah dalam posisi seperti itu, tau gak solusi jitunya apa?" 
"Nah solusinya adalah mari berpuasa. Selain bertujuan utama ibadah, sekalian juga hemat, hahaha..." 
"Ikuti saran yang ini aja, biar jadi anak kos yang selamat. " 

Itu adalah pengalaman pertama yang aku alami atas berkat nasehat dan saran dari sesama penghuni kos yang menderita. Dan hasilnya, meski dengan sedikit susah payah ternyata bisa juga. 

SMA adalah masa pencarian jati diri, dan saat jadi anak kuliahan itu udah nemu jati diri. Jadi tinggal nguatin jati diri aja. Kalo punya pertahanan yang kuat, maka segala hal negatif nggak mempan sama kamu, mental deh semuanya. Jadi, saat SMA dan sebelum SMA itu perlu dibangun pondasi yang kuat. Biar nggak roboh ditengah jalan. Dan jadi anak kos itu, beneran ngajarin hidup itu kayak apa. Nggak ada yang gratis, nggak ada yang peduliin kamu udah makan apa belum, nggak ada yang nanyain kamu lagi sakit apa nggak, cuma orang tua yang beneran peduli. Tapi nggak mau ngrepotin orang tua pastinya kalau ada apa-apa, nggak mau bikin khawatir keluargapun jauh dimata itu. Dan kalo pacar nanyain gitu sih, mungkin itu cuma buat formalitas aja sih, eh?

Lingkungan hidup juga udah berbeda banget, tidak seperti yang ada biasanya di rumah kita. Berbeda bahasa, kebiasaan, agama, pokoknya semua sudah berbeda. Sekali lagi, dikota perantauan ini nggak ada yang jagain. Kita harus melakukan semuanya sendiri. Kalau punya pondasi yang kuat, nggak akan terbawa arus negatif, apalagi sampai terjerumus dalam hal-hal yang hanya akan menghancurkan masa depan. Ingat benar pesan mama, "Mama percaya sama kamu nak, Mama yakin kamu tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Mama. Kamu bisa saja melakukan banyak hal tanpa sepengetahuan Mama tapi Mama yakin kamu adalah anak yang tertanggung jawab dan akan selalu membanggakan Mama".



Penulis: Syania Putri Rachmawati
(Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis bisa dihubungi melalui : Syaniaputri29@gmail.com)
Ilustrasi: bloganak-kos