Anti Omek, "Fenomena Sosial yang Perlu Direnungi"
Cari Berita

Advertisement

Anti Omek, "Fenomena Sosial yang Perlu Direnungi"

3 Okt 2016


Anti –Omek, seperti itulah setidaknya mahasiswa sekarang mengidentifikasi mereka yang juga sesama mahasiswa namun memiliki jiwa antipati maupun sentimen politik bahkan hingga sentimen hati terhadap Omek. Omek yang dimaksudkan disini adalah Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus yang memiliki sejarah panjang dalam dinamika perjalanan pergerakan mahasiswa seperti HMI, PMII, KAMMI, GMNI, serta IMM maupun organisasi lainnya yang tidak termasuk dalam struktur formal birokrasi kampus namun memiliki kontribusi aktif terhadap pengembangan mahasiswa. 

Dalam sejarahnya, OMEK sudah begitu tenar namanya dari sejarah peradaban bangsa Indonesia dan begitu banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional dulu sampai sekarang. Sebut saja wakil presiden Indonesia H.Jusuf Kalla, mantan Menteri pendidikan dan kebudayaan yang saat ini mencalonkan diri sebagai orang nomer 1 DKI Jakarta Anies Baswedan, Walikota Bandung Ridwan Kamil yang merupakan Alumni dari HMI serta masih banyak lagi tokoh nasional maupun daerah yang juga pernah mengecam pendidikan dari organisasi-organisasi pergerakan yang berada diluar kampus seperti PMII, KAMMI, GMNI, dan lain-lain. 

"Beda zaman beda cerita", mungkin itu adalah ungkapan yang pantas untuk menggambarkan kehidupan berorganisasi dikalangan mahasiswa saat ini. Semangat berorganisasi yang sangat rendah, sikap apatis, menipisnya daya kritis dan kepekaan sosial menjadi gambaran mahasiswa saat ini "yang katanya agen perubahan". Sebenarnya keberadaan organisasi-organisasi ini sangatlah membantu mahasiswa dalam mempelajari banyak hal yang belum tentu didapatkan sewaktu kuliah. Akan tetapi, anggapan yang sengaja dibuat miring dan pola pikir mahasiswa yang cenderung apatis mengikis minat sebagian mahasiswa untuk melihat dunia diluar perkuliahan. Bahkan tak sedikit mahasiswa yang menganggap bahwa organisasi-organisasi mahasiswa yang ada diluar kampus sebagai suatu perkumpulan yang sesat. Terlebih lagi muncul istilah ANTI OMEK atau kumpulan mahasiswa yang tidak menyukai organisasi yang berada diluar kampus dan hanya mengikuti kehidupan didalam kampus karena menganggap bahwa OMEK dapat membahayakan kehidupan dalam kampus jika menerima amanah dalam kehidupan organisasi intra kampus. 

Anti-Omek sebagai gerakan informal menjadi popular di kampus-kampus seluruh Indonesia akhir akhir ini. Entah kampus negeri maupun swasta, kampus berbasis agama maupun sekuler semua sama, gaung anti-ormek terasa, walaupun dalam kasus tertentu bisa jadi dalam satu kampus hanya di beberapa fakultasnya saja anti omek terdengar lebih keras, namun umumnya anti omek sudah menjalar di seluruh kampus di Indonesia. 

Sebagai mahasiswa, Anti omek telah menjadi social phenomena yang sudah seharusnya diamati untuk kemudian dikritisi dan disikapi apakah memang keberadaannya wajar dan memang sesuai atau bahkan ini wacana manipulative-destruktif yang memang tidak menghendaki kebaikan pada pembentukan karakter generasi terdidik bangsa. 

Selayaknya gerakan anti yang lain (Anti Pemerintahan, Anti Korupsi dll) , anti omek ini sebagian besar (jika tidak dapat disebut seluruhnya karena kondisi objektif tiap kampus berbeda) dilatarbelakangi oleh tidak puasnya sebagian elemen kepentingan (interest group) atas kejadian yang terjadi disekitarnya. Dalam konteks ini interest grupnya adalah mahasiswa non-ormek dan kejadian disekitarnya yang menimbulkan rasa ketidakpuasan adalah dominasi dan hegemoni ormek dalam pemerintahan kampus. Sebagai antitesa dari dominasi ormek dalam politik kampus, anak-anak yang saya sebut barisan sakit hati membuat komunitas tandingan yang lebih terorganisir untuk mengakomodir kepentingan politiknya di kampus. 

Guna lebih bijak dalam menyikapi permasalahan anti omek di kalangan mahasiswa diperlukan diferensiasi mahasiswa yang mengidentifikasi dirinya sebagai anti omek. Dalam konteks ini mahasiswa anti omek dapat dibagi ke dalam setidaknya tiga golongan yaitu anti omek idealis, politis, atau yang sekadar ikut-ikutan. 

Golongan pertama yaitu anti omek idealis adalah mahasiswa yang secara tegas tidak menjadi anggota dan berafiliasi dengan omek apapun disebabkan alasan ideologis. Mereka memiliki perbedaan pemahaman yang cukup fundamental terhadap ideology omek omek yang mapan. Mahasiswa-mahasiswa seperti ini adalah mahasiswa yang berpegang teguh dengan apa yang menjadi gagasan utama dalam mereka bersikap dan menurut mereka tidak ada satupun omek yang sesuai serta dapat mengakomodir pemikiran mereka sehingga mereka cenderung mengisolasi diri terhadap dinamika organisasi mahasiswa eksternal atau bahkan juga organisasi mahasiswa internal. 

Golongan kedua yaitu anti omek politis. Mereka ini golongan manipulative dan cenderung destruktif. Golongan ini adalah barisan sakit hati karena tidak kebagian kue kekuasaan akibat dominasi omek di dalam kampus sehingga mereka membentuk gerakan netral yang berusaha mencari masa dengan menyebarkan isu-isu negative seputar omek kepada mahasiswa lain yang kurang informasi guna memuaskan maksud politik mereka. Golongan anti omek inilah yang jadi inti pembahasan dan pusat kritik tulisan ini. 

Golongan anti omek yang terakhir yaitu anti omek ikut-ikutan. Golongan ini biasanya terdiri atas mahasiswa baru yang masih minim pengetahuan dan infomasi atau bukan mahasiswa baru namun gaya hidupnya yang hedonis membuat mereka resisten ketika mendengar kata “politik” sehingga opini mereka mengikuti opini yang beredar umum. Acapkali golongan omek ini tidak mempunyai alasan yang jelas mengapa mereka harus menjadi anti omek. “karena omek mempunyai kepentingan” adalah alasan umum golongan anti omek ini. Namun apabila ditanyakan kembali kepentingan apa yang dibawa omek rata-rata dari mereka tidak dapat menjawab. Golongan inilah yang menjadi dosa golongan anti omek politis. Mahasiswa anti omek ini adalah korban isu apriori dari segelintir mahasiswa tidak bertanggung jawab. Berkat isu-isu negative yang sengaja dibiarkan liar seputar omek, golongan mahasiswa ini jadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan proses yang baik yang bisa didapatkan pada omek. Bukan rahasia lagi jika sebagian besar tokoh-tokoh bangsa kita saat ini adalah mereka yang telah kenyang proses dalam omek sewaktu mahasiswa. Lalu mengapa mereka harus dihalangi untuk menjadi besar seperti tokoh-tokoh bangsa tersebut?. 

Melihat kenyataan ini tentu sudah saatnya untuk kita berfikir dan bila perlu kita kaji kembali. Bukankah dunia mahasiswa adalah ladang subur tumbuhnya bunga bunga idealisme? Lantas apa kau tega memangkas bunga bunga itu yang seharusnya bertumbuh subur dengan berbagai macam varian, ada anggrek, mawar, melati dan lain lainnya. Apakah dirimu hanya ingin satu jenis tumbuhan saja yang tumbuh di luasnya ladang Idelalisme ini?.

Mari bermentalah seorang negarawan yang mengenyampingkan kepentingan sendiri dan meniadakan batasan-batasan yang merebut hak dari sebagian mahasiswa. Sehingga muncul kebebasan beroraganisasi dikalangan mahasiswa, muncul mahasiswa sejati yang berpegang teguh pada sumpah mahasiswa, dan muncul generasi penerus bangsa yang menjanjikan. 


Penulis : Andy Alanuari 
(Aktivis HMI Cabang Malang Komisariat Mulla Shadra UNISMA)