Menghidupkan Tungku Api Ibrahim
Cari Berita

Advertisement

Menghidupkan Tungku Api Ibrahim

11 Sep 2016


Sejarah menyebutkan akar budaya keluaga Nabi Ibrahim (2166 SM) merupakan penganut Animisme. Atas pengalaman penalaran premis fenomena yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, budaya yang berlangsung lama tersebut harus dirobohkan olehnya. Sekalipun, dirinya harus berhadapan dengan keluarganya sendiri dan berlawanan dengan Raja Namrood. Dirinya harus sabar berdialog meyakinkan ayahnya, kuat menyabarkan Hajar dalam perjalanan, serta tabah menjalankan perintah Allah menyembelih Nabi Ismail anaknya, yang telah di nanti-nanti selama 80 tahun lamanya. Penyebelihan Nabi Ismail merupakan persimbolan dari usaha melenyapkan materi-materi keduniaan sekalipun itu merupakan sesuatu yang sangat berharga. Pengorbanan memang bukan perilaku keagamaan. Dalam agama Yahudi, Islam, dan Budha tidak ditemukan istilah pengorbanan yang bersifat ritual. Apa yang dilakukan Ibrahim merupakan diferensiasi semata atas kebiasaan manusia berkorban pada sesuatu yang sejatinya tidak mengembalikan kebaikan pada dirinya. Tingkah laku ini bisa kita temukan dalam perilaku ekploitasi, akumulasi, konsumerisme pada diri manusia lewat Kapitalisme dan Neoliberalisme.

Pembatalan Nabi Ismail untuk dikorbankan oleh Allah, mempunyai maksud tersendiri. Di mana, di hadapan tuhan tidak boleh sesuatu yang bernilai seperti manusia dikorbankan sekalipun hanya untuk menebus iman. Kontras rasanya, di mana perlombaan senjata telah memanggang manusia dengan menjadikannya korban hingga berjuta jiwa atas nama penebusan dosa sejarah, agama, dan politik. Di hadapan  maha penyanyang, tentu tuhan tahu diri-Nya mengancam dalam setiap perilaku buruk manusia tidak pula langsung mengeksekusinya. Tetapi, uraian tersebut merupakan ihwal ujian pagi kesetian dan iman. Lalu, di mana kira-kira kesetiaan kemanusian yang masih ada. Di saat ritual politik dan kekuasaan berdendang lenggang lepas dengan menggilas yang lemah dan memperlemah si fakir. Pengorbanan di masa kini harusnya lebih dari sekedar ekpresi keagamaan secara politis. Di mana, masalah sosial masih panjang umurnya. Pengorbanan mubazir oleh Nabi Ibrahim kemudian digantikan dengan ibadah Sholat. Menurut Sayyidina Ali r.a dalam Nahj al-Balghah’, dia berkata “Zakat dijadikan, seperti halnya shalat, sebagai (bentuk) pengorbanan”.

Nabi Ibrahim merupakan sosok yang sangat komunikatif. Sebuah percontohan lebih dahulu sebelum masyatakat moderen mengenal bahwa, kekuatan pengaruh terletak ditampuk komunikasi yang komunikatif. Dari Ibrahim-lah seharusnya kita mencontohkan bagiamana belajar berdebat dengan mereka yang berbeda ideologi. Perilaku ideologi bagi Nabi Ibrahim hanya bagaimana persoalan menerima salah satu kekurangan tanpa mendiskreditkan pandangan terlebih dahulu. Suatu peristiwa mahal, jika momen seperti pengalaman Nabi Ibrahim itu terjadi di masa kini. Di mana, atas perbedaan ideologi kadang kala kita lupa bahwa pemikiran dan pandangan atas dunia (world view) adalah akar utama tergeraknya kekerasan dan kebatilan kini.

Bersikap sebagai pembaharu masih dirasakan utopis. Apalagi, kita merasa enggan dan berat menerima kata pembaharu. Padahal, secara linguistik memang kata pembaharu diartikan merubah sesuatu tanpa merobek yang terdahulu. Nyatanya, kini kita sebenarnya sangat kekurangan sosok pembaharu. Bayangkan, bumi dengan populasi masyarakat 2 milyar lebih manusia hanya masih dimainkan dengan cara lama lewat peranan kekuasaan liberalisme pasar, kapitalisme ekonomi, penindasan secara politik, dan kisruh keagamaan. Nabi Ibrahim merupakan sosok reformis radikal namun santun dalam gerakan. Menolak hal yang tak rasional dari peradaban nenek moyangnya merupakan perilaku dianggap melawan saat itu. kekritisan dalam dirinya dibinanya secara baik berdasarkan rasionalitas empiris yang berlainan dari realitas yang seharusnya, yaitu kausalitas alam alam itu sendiri. Kritis merupakan fitrah yang ada dalam semua manusia, hanya saja kritis dan kritik subjektif sering dialirkan bersama. Alhasil, perselisihan pandangan yang merujuk pada pertentangan semakin hari menyeruak. Dari Ibrahim, harusnya kita juga belajar menafkahi diri sendiri dari cara berparadigma objektif, karena dari sanalah kekritisan lahir secara tepat.

Sebagai pembanding, ada benarnya kata Peter L. Berger dalam Piramida Pengorbanan Manusia, bahwa kehidupan dan sejarah masa lalu yang kita agung-agungkan, sebenarnya dibangun oleh tumpukan mayat-mayat atas dasar hasrat kekuasaan politis dan elit penguasa kala itu. Kebutuhan akan bentuk fisik, psikis, kognitif dan sosial  dikorbankan pada tujuan tertentu. Manusia begitu terburu-buru mengorbankan yang berharga bagi ideologi sempit mereka atas nama moderenitas di kemudian hari kini. Pembangunan biaya-biaya manusia lebih besar dari pada keinginan atas inisiatif menumbuhkan biaya-biaya sosial. Pada akhirnya, kebijaksanaan, penindasan atas dasar tuntutan moral semakin sempit. Penderitaan semakin dipikul oleh manusia dengan sokongan ideologi pembangunan yang rasa-rasanya hingga hari ini tidak dirasakan dampak baiknya.

Apa yang dilakukan oleh bapak para nabi tersebut sebagai persimbolan bahwa dirinya mengajarkan pada kita saat ini jangan sampai ada lagi Ismail-Ismail yang harus dikorbankan demi apapun juga. Karena kebaikan tidak mengenal pengorbanan berlebihan secara ritual. Kita harusnya mengobarkan spiritualitas buka ritual simbolis. Karena pada perangkat spiritualitas ada nilai yang menyala yang harusnya terus dibesarkan kobarannya oleh manusia. Ibrahim setidaknya telah memberikan panduan pada keturunannya Musa, Isa, dan Muhammad SAW untuk berperilaku damai dan benar.

Dari Ibrahim pulalah tuhan mencontohkan menjadi alat perlawanan atas kekuasaan menindas Raja Namrood yang membangun menara Babel hingga ke langit demi menantang Tuhan harus digusur. Perilaku Raja Namrood merupakan kebiasaan yang sangat berakar kuat di jaman Moderen ini. Di mana masih ditemui manusia banyak menunggangi manusia lainnya demi kepuasan dan fantasi yang kemudian berujung pada frutasi skala global yaitu perang dan konflik. Tuhan selalu mengukir dalam sejarah mereka yang melawan pada sosok seperti perilaku Raja Namrood. Musa melawan Firaun, Isa menentang Romawi, serta Muhammad SAW menolak perilaku jahiliyyah kapitalistik kaum Quraish. Maka senarai dengan Albert Camus dalam The Rebelion-nya “aku melawan, maka aku ada”. Ibarahim merupakan sumbu dari apa yang dilakukan oleh rasul-rasul di atas dan banyak lagi keturunanya. Dari sanalah, moment perayaan Idul Adha merefleksikan manusia yang harusnya tegak dan melihat masalah lebih luas bahwa, piramida-piramida manusia (meminjam istilah Berger) masih disusun dan siap dikorbankan. Hanya manusia bermental seperti Ibrahim yang bisa menggusurnya.


Penulis: M.A Sholeh
(Aktif di HMI Cabang Ciputat)