Menggaris Bawahi Dangdut
Cari Berita

Advertisement

Menggaris Bawahi Dangdut

17 Sep 2016

“Darah muda, darah para remaja...,” sebuah kutipan lagu Dangdut dari vokalis Rhoma Irama yang sangat familiar bagi masyarakat indonesia, irama yang merakyat mampu membuatnya melekat dalam ingatan, kata-katanya yang sederhana dengan lantunan iringan gendang, tabla ala India, serta seruling bersahut riang membawanya sebagai musik paling diminati 70-an. Musik yang dirintis oleh Soneta groop dengan Rhoma Irama sebagai Mujaddid musik yang beraliran melayu ini, cukup membawa suasana romantisme musik yang mebahana pada saat itu. Tak sedikit para pendahulu musik yang bercokol lebih dahulu yang lebih beraliran Pop hinga rock, berbondong-bondong hijrah ke jenis musik ini.

Kehadiran musik Dangdut menjadi pecut pemacu persaingan musik dari berbagai aliran, walaupun memang penuh polemik di dalamnya, setidaknya pada masa 1979, yang dikatakan sebagai masa keemasan dangdut. Pada saat itu juga menghentak para perusahaan rekaman untuk ikut berlomba untuk menerbitkan lagu-lagu berhaluan musik, animo masyarakat terbukti sangat antusias, hal itu dibuktikan dengan festival dangdut se-jakarta di gelanggang remaja, jakarta timur pada saat itu April 1979, menurut majalah Tempo edisi 5 mei 1979. Lebih dari 5.000 berhimpitan di gedung olahraga yang hanya mempunyai daya tampung 2.000 orang saja.

Pamor Dangdut pada saat itu telah menyebabkan perubahan pesat bukan saja animo masyarakatnya, tapi anomi pada para penyanyi yang pada asal mulanya tidak sepaham dengan aliran musik itu. tapi apa kata nasib, masa depan karir berada di tangan produser utama, walhasil banyak penyanyi legendaris di aliran asalnya seperti Muhammad Albar yang pada awalnya setia dengan genre rock-nya harus legowo  untuk membuat dangdut namun masih ada sentuhan nada oktav tinggi ala rock. Selain itu pemusik beraliran slow Yok Kuswoyo dari Koes Plus juga ikut terbius dengan Dangdut sehingga muncullah lagu “Cubit-Cubitan”. Atau Melky Goeslaw yang terkenal dengan tembang Dangdut nya goyang-goyang¬  walaupun sebelumnya dia juga bukan Dangduters, tetapi terpaksa harus masuk di dalam pergumulan musik yang telah merakyat itu.

Ternyata Guruh Soekarno Putra pada saat itu juga tak tinggal diam dan ikut angkat bicara terkait dengan menjamurnya geliat Dangdut, dia berharap musik Dangdut tumbuh seperti musik tango, samba, bosa nova, yang semulai merupakan musik kelas bawah namun ternyatA berhasil menjadi musik yang disukai oleh masyarakat seantero jagat.

Apa Kabar Dangdut Sekarang?

Musik adalah karya manusia dengan isi keindahan tuhan lewat iramanya yang mengiris, mengahanyutkan, dan bahkan menggairahkan. Barang kali hal itu masih bisa di rasakan dalam musik Dangdut yang denyut nadinya sudah satu jalur saja, artinya hanya dinikmati oleh sekelompok kecil penyuka Dangdut yang sebetulnya juga agak tertinggal dengan masuknya nuansa permusikan yang baru yang lebih beragam.

Kita masih meraba-raba bagaimana musik yang terlahir dari rahim bangsa kita itu yang kemudian di bawakan oleh penyanyi kondang Rhoma Irama, Arafik, Elfi Sukaesih nampaknya tak sejalan dengan apa yang diharapkan, jika pada tahun 1979 setiap pagelaran musik dangdut selalu penuh dengan sesak napas pecintanya, kini hanya laku dalam organ tunggal dalam resepsi perkawinan, atau jika mau lebih ekstrim dan agak menyimpang harus dengan berekspresi vulgar. Menurut Penulis, hal ini bukan saja di sebabkan minimnya peminat dangdut. Tapi terkadang unsur pertentangan dengan lingkunganya pun juga menjadi sebab. Walaupun, sebagian Televisi swata di negara kita juga mulai mengayuh dengan konser dan kompetisi. Hal itu bisa dikatakan pertumbuhan dan resistensi guna memunculkan eksistensi. Namun, belum bisa menghapus bahwa Dangdut masih difahami sebagian orang sebagai musik yang kurang mewakili ekpresi moderenitas.

Merdekanya musik pop dari label haram oleh para masyarakat agamis karena dianggap berbau westernisasi sehingga acap kali bertentangan dengan nilai kepribadian masyarakat ketimuran yang lebih mengedepankan nilai spirit religiusitas ketimbang rasionalitas matrealisme ala barat pada saat itu. Sehingga bukan saja penyanyi saja seperti Ahmad Albar dan Melky Goeslaw yang bersedih hati tetapi juga para penikmat musik non Dangdut yang harus mengorbankan hoby nya karena diteror penilaian cenderung westernis dan tak mencintasi kualitas irama melayu pada saat itu.

Musik bukan sekedar keluh irama hati ataupun kegirangan seperti lagu The Deum yang di nyanyikan di inggris oleh King of Ricard saat kemenangannya dalam perang salib pada saat itu. Lebih jauhnya musik merupakan simbol masyarakat dalam berbagi ruang ekspresi bahkan eksistensi. Hingga saat ini musik dengan branding kerakyatan lebih berlaku pada komunitas yang justeru juga diposisikan sebagai kelas dalam status ekonominya. Jelas terlihat ketika pagelaran konserpun ternyata juga menggambarkan bagaimana kualitas bukan saja bahan ukuran tetapi juga tensi kelas juga memainkan peran, sebut saja musik Jazz sejak kelahirannya lebih melekat dengan kalangan parlente dan manusia berjas hitam rapi. Sulit nampaknya menyentuh masyarakat kelas bawah yang cukup dominan.

Dangdut telah mewakili ketersediaan hiburan, walaupun ketika ditelisik dari sejarah hiburan kebudayaan telah sangat melekat masyarakat kita tempo dulu. Pada saat itu musik memang masih didominasi oleh musik-musik pop eropa, maklum sisa Belanda masih sangat bermain, tetapi telah banyak timbul pada saat itu pera pentolan seniman musik walaupun lebih banyak bermain dalam estetika tradisional sebut saja Gesang dengan lagunya Bengawan Solo yang hingga saat ini tetap abadi bukan saja bagi masyrakat solo di mana di dilahirkan, tetapi banyak mengatakan Gesang telah menjadi Maestro musik nasional yang mudah diingat pada saat itu.

Pada 17 agustus 1950, berdiri Lembaga Kerakdjatan (Lekra) yang didirikan oleh para seniman A.S Dharta, M.S Anshar, Henk Ngantung, Herman Arjuno, Joebar Ajoeb, Sudharnoto dan Njoto, konseo berdirinya bisa dilihat dari titik tolak perjuangannya dalam muqaddimah nya menyebutkan,”Rakyat adalah satu-satunya penciptaan kebudayaan, dan bahwa pembangunan kebudayaan indonesia baru hanya dapat dilakukan oleh rakyat,”. Alasannya Lekra bukan saja komunitas yang hanya diam dalam kontemplasi seni, tapi mereka melakukan re-edukasi pendidikan kebudayaan lewat seni terutama musik dan pada saat itu karya pengiat Lekra Banyuangi, Muhammad Arif yang terkenal dengan lagunya Genjer-Genjer merupakan lagu wajib di putar di RRI dan TVRI. Tak tanggung-tangung para penyanyi ternama seperti Lilis Suryani dan Bing Slamet saat itu menjadi Ikon untuk lagu ini. Walaupun semuanya terhenti ketika Lekra dituduh berafiliasi denga PKI pada saat yang kemudian harus terkena  Tumpas Telor  pada semua kelompok yang dituduh terkait dan berhubungan langsung deng PKI saat itu. Walaupun masih banyak kontroversi terkait dengan penciptaan lagu yang ditulis sejak  zaman penjajahan jepang pada sat itu.

Ber Dangdut dengan nyaman.

Tak dipungkiri selain sebab meredupnya eksistensi Dangdut dalam belantika musik, tak lain adalah kedok porno aksi yang cukup kental dilabelkan pada musik tabuh gendang ini. Peristiwa melesatnya popularitas Inul Daratista akibat sesnsasi kesingan Goyang Ngebor dulu, cukup mengagetkan tetapi kemudian menjadi prahara dengan Rhoma Irama saat itu. Karena menurut raja dangdut itu, Dangdut adalah musik disamping irama dan estetikanya harus ada unsur dakwah lewat musik, tetapi apa daya. Selesainya kasus tersebut,  alah menambah  varian baru goyangan hot dengan berbagai tipe gerakan yang cukup mengundang kagum karena minat Dangdut menggairahkan kembali, tetapi apakah untuk memunculkan Dangdut agar mendapatkan tempat harus dengan perpeloncoan dengan aktraksi sensasi berbau porno aksi?

Penilaian memang sepenuhnya milik publik bagaimana menempatkan fenomena tersebut. Jika musik dangdut ditempatkan sebagai sebuah anomali sosial artis penyanyi untuk sensasi maka, hal tersebut perlu untuk dikoreksi kembali. Karena memang tak gampang jika kita selalu memproyeksikan musik Dangdut sebagai musik yang survive terus menerus sepanjang kelahirannya. Tetapi seharusnya juga masyrakat juga ikut berpikir sejenak kenapa musik yang justeru bukan secara alamiah lahir dari bumi swarna dwipa ini lebih bercokol, ketimbang karya anak kandung asli musik Dangdut. Maka sangat wajar jika para pegiat musik Dangdut menggunakan segala cara untuk menggunakan Dangdut sebagai  lahan pencarian nafkah yang semakin hari membentuk parodi  masyarakat. bahwa memang sulit rasanya mengais rejeki dan berkarya lewat musik Dangdut, karena selalu tertinggal dengan perkembangan musik pop yang dibarengkan dengan gaya western yang jesteru pernah di fatwakan haram adanya.

Penulis: Hadining Priatna
(Perhimpunan Masyarakat Kebudayaan Roejak Cingoer Surabaya)