Mengenang Khittah Juang Sang Wiji
Cari Berita

Advertisement

Mengenang Khittah Juang Sang Wiji

2 Sep 2016


"Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

Dituduh subversif dan mengganggu keamanan

Maka hanya ada satu kata: lawan!" (Wiji Thukul, 1986).

Sosok yang hilang ditelan kata-katanya yang cadel tak bisa mengucapkan hurup “R” yang selalu berhadapan dengan mocong senapan. Sikap mbeling yang selalu didapat dalam sajaknya menunjukkan sikap untuk anti sikap pemerintah. Penindasan bukanlah ketakutan karena penindasan justeru adalah andil hidupnya untuk melawan saat perlawanan hanya sebatas kata. Dia lahir dengan nurani yang tak dibuat takut oleh subversif dan penyiksaan resesif penguasa, dialah anak-anak sajak yang tak diharapkan tumbuh bahkan menaruh benih saat penguasa bercokol kuat saat itu. Dia lebih suka mengobarkan rasa kejamnya pada kelaliman orde baru.

Kehilangannya tak begitu penting adanya.  Masyarakat pun tak banyak yang mengenalnya, dia hanya sekumpulan pejuang yang tergabung dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) bentukan Partai Rakyat Demokratik (PRD) di bawah asuhna aktifis pro-demokrasi di antaranya Budiman Sudjamiko. Sejak kelahiran PRD yang dimulai dari sebuah hasil fusi dari berbagai kelompok perlawanan rezim 1990-an. Bukan saja mahasiswa, petani menggugat penggusuran tanah di Kedung Ombo, kawasan industri di medan, pabrik di Semarang, dan Surabaya mulai mendentumkan serangan oral penolakan terhadap kebijakan yang repsesif oleh Orba. Kelompok mahasiswa Solidaritas  Mahasiswa Indonesia dan demokrasi (SMID) sebagai embrio lahirnya PRD pada tahun 1992, melakukan Turba (turun ke bawah) untuk membantu perlawanan para rakyat yang dinodai haknya. Gerakan yang dilakukan dengan mengkondisikan spektrum mahasiswa yang luas untuk memberikan pelajaran akan keberanian untuk menuntut hati nurani mulai terkumpul dengan gagasan kerakyatan sebagai progress landscape dari SMID sebagai cikal bakal lahirnya PRD.

Tak tanggung-tanggung gerakan atas idologi kiri yang dipegang saat itu cukup menunjukkan kemajuan pesat, bahkan binaan organisasi  telah melakukan metamorfosis dalam berbagai dimensi. Sebut saja Serikat Tani Nasional (STN), Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI), Sarekat Rakyat Indonesia (SRI), Solidaritas Perjuangan Rakyat Indoensia untuk Rakyat Maubire (SPRIM), dan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker) yang salah satu anggotanya banyak menjadi korban penculikan saat pecahnya reformasi di antaranya Wiji Thukul sang anak sajak provokatif yang hilang entah kemana hingga saat ini.

Dia mewakili semangat muda yang jauh dari garis batas yang sama. Kehidupannya sebagai seorang katolik Solo juga tak membuatnya menjadi seorang agamis dan hanya berdiam dalam kebekuan dan sikap semena-mena oleh penguasa, kehidupan seni jawa yang elok dan sedu sedan ala kekeratonan juga dia tinggalkan, lewat Jakker dia merubah seni bukan sesuatu yang hanya meranggkai tegum dan tawa, seni olehnya adalah senjata yang baginya cukup untuk membuat ketiak penguasa panas dingin dengan katanya. Dia hampir sama dengan Ahmad Wahib dan Soe Hok Gei yang mengeja semua hal yang ada dengan perspektif humanis, tetapi di cerdik sekaligus bengal.

Kesenian Mbeling terlihat melanggar pedoman kesenian yang di punggawai oleh seniman kenamaan WS .Renda, Sitok Srengenge dan Taufik Ismail. Katanya tak membuat bertele-tele otak dan telinga pendengarnya. Sintaksis kata seninya merupakan perpaduan Realitas dan Essensi seni. Dia tak mau terlalu kontemplasi jauh dan memilih kata yang terlalu estetik dan transesnden karena membingungkan pembaca. Baginya situasi yang sudah sangat kacau, masyrakat tak boleh makin dibingungkan oleh kata-kata. Wiji sadar masyarakat tak butuh kata-kata karena tindas sudah sampai di ujung lehernya, dalam sajak mbeling-nya dia menulis santai namun menyengat:

“Jika kau menghamba kepada ketakutan,
Kita memperpanjang barisan perbudakan “

Herman J Waluyo menyatakan ada tiga penyair protes di masa Orde Baru yaitu W.S. Rendra, Wiji Thukul dan Sapardi Djoko Damono. Jika W. S Rendra dan Sapardi Djoko Damono seorang priyayi dan bangsawan, Wiji Thukul adalah penyair rakyat jelata baik asal usul orang tuanya maupun kehidupan pribadinya. Jika Rendra dan Sapardi dengan puisi-puisinya semakin masyhur, maka Wiji Thukul penuh penderitaan dan akhirnya hilang hingga kini sejak peristiwa 27 juli 1996.

Pada era pemerintahan Orde Baru walaupun di warnai penerbitan karya sastra. Tetapi muncul juga karya-karya sastra yang mengundang perhatian banyak orang. Salah satu di antara sekian banyak, yang muncul dalam era masa Orde Baru adalah buku kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru karya Wiji Thukul.

Di dalam negeri Wiji Thukul dimusuhi, tetapi sajak-sajaknya memperoleh penghargaan Wertheim Encourage Award yang pertama padatahun 1991 bersama penyair W.S. Rendra dari Stichting Wertheim. Penghargaan ini dibuat sebagai penghormatan pada sosiolog Belanda Willem Frederik Wertheim yang anti-kolonialisme dan tak suka perilaku pemerintah Soeharto.

Puisi Wiji Thukul yang ditulis dengan bahasa yang sederhana dapat dengan mudah dipahami oleh banyak orang dengan standar humanisnya. Oleh karena itu pembaca dapat dengan mudah menangkap nilai yang ingin dikomunikasikannya lewat kata yang cadel-nya , yakni nilai-nilai kemanusiaan. Wiji Thukul tidak berbicara mengenai deklarasi, konvensi, standar, dan instrumen HAM yang lain, tetapi sadar atau tidak sadar, dia telah berjuang dalam memajukan nilai kemanusiaan yang menjadi awal dan akhir dari kemajuan HAM. Perjuangannya tidak hanya bergerak di bidang pemajuan nilai kemanusiaan saja, tetapi juga mengambil langkah nyata untuk memperjuangkan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Wiji Thukul membawa perubahan baru dalam konsep penciptaan puisi Indonesia mutakhir, yakni penyair yang menggambarkan kontradiksi yang aneh, absurd, janggal dan membingungkan antara golongan kaya dan miskin, momok hiyong dan rakyat jelata, saling menindas yang menjadi biasa di bumi Indonesia. Kebaruan yang ditawarkan Wiji Thukul di sini adalah visinya pada nasib kemanusiaan dan pantas dicatat dalam sejarah sastra Indonesia modern sebagai seorang penyair kerakyatan yang kembali mendudukkan fungsi sastra pada tempatnya, yakni sebagai sarana memperjuangkan cita-cita dan visi kemanusiaan. Puisi-puisinya merupakan monumen yang mengusik ingatan kita akan sebuah masa silam yang kelam dan akibatnya masih kita rasakan hingga kini. Sebuah rezim yang membawa banyak penderitaan fisik dan luka batin; tidak saja bagi Wiji Thukul melainkan juga bagi bangsa Indonesia. Rezim Orde Baru yang korup itu, bagaimanapun juga punya andil dalam membentuk penyair ini (Yapy Yoseph Taum, 2006:)

Wajahnya selalu rundung murung kala mendengar para buruh dan petani mengeluh, peluh di dadanya bukan karena gerah tetapi sakit yang sangat pengat akan goyangan penguasa yang menyerobot asap dari tungku mereka, tangannya mulai mengotak-ngatik naskah dan menulis sajak. Hingga kemudian aksi disepanjang jalan oleh PT. Sritek, Sukoharjo, 11 Desember 1995 yang diawal oleh tuntutan kenaikan gaji oleh mereka, dan wiji thukul pun mendapat hadiah dari aparat matanya di hantam gagang senjata hingga satu matanya tak bisa melihat.

Sang anak Famplet
Wiji Widodo itulah nama aslinya gara-gara melawan penguasa orde baru. Wiji thukul dikejar-kejar. Inilah permasalahannya ketika negeri kita masih masih memilah antara puis, politik dan penyairnya saat orde baru. Wiji boleh dibilang sebagai manusia yang lepas dari dirinya sendiri, dia bisa masuk dalam sosialis dan anarkis syindikalis, kebebasan adalah isis dalam setiap artikulasi setiap kata yang keluar dari mulutnya. Artikulasi optimum yang ekstrim dari imajinasinya mengenai kelas yang di petakkan oleh orde baru saat itu. dia adalah buruh sebenarnya yang digencet  dengan stigma miring padanya, pikirannya yang radikal dan mampu berpuisi dengan gaya yang menghentak pengunjung sanggarnya.

Munculnya kata-kata yang berisi protes secara spontan tanpa proses pemikiran atau perenungan yang mendalam. Istilah-istilah gagah untuk membela kelompoknya disertai dengan istilah tidak simpatik yang memojokkan pihak yang dikritik. Seperti halnya puisi demonstrasi, bahasa puisi pamflet juga bersifat prosais (Herman J. Waluyo, 1987: 142).

Puisi Wiji Thukul banyak digunakan ironi yakni kata-kata yang bersifat berlawanan untuk memberikan sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme, yakni penggunaan kata-kata yang keras dan kasar untuk menyindir, mengkritik dan melawan. Tanda baca seru banyak dijumpai dalam kumpulan puisi Aku Ingin Jadi Peluru sebagai bentuk seruan untuk menyulut perlawanan. Dalam hal ini, Umar Junus (1986:143)  menyatakan puisi yang komunikatif dapat ada apabila ada yang dikomunikasikan. Hal tersebut diharapkan akan memberikan akibat, suatu perubahan keadaan. Di samping itu, puisi yang komunikatif akan menyebabkan pengabaian perkembangan artistik puisi. Prioritasnya berada di bawah prioritas komunikasi.

Dia hampir mirip dengan apa yang dikatakan Max Stirner tokoh Anarkisme Individualis. “Kebebasan yang diberi dan di nisbatkan adalah kemerdekaan dari barang curian”. Dia merupakan kalangan yang setara dengan kaum borjuis republik ini. Menurut Robertus Robert Sosiolog UNJ mengatakan Wiji Thukul tak melawan siapa karena musuhnya adalah dia sendiri. Dia mencoba melawan hierarki dirinya dengan kata dia memulai dan dengan kata pula ia mengakhiri. Penghilangan seorang Wiji adalah bukti bahwa perjuangannya untuk melawan tirani benar telah berhasil. Karena baginya beban terbesar bukan penguasa lalim juga, tetapi dirinya jika tak diabdikan dan hanya diam berpangku tangan.

Sungguh tepat apabila Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1992 tentang perlindungan semua orang dari tindakan penghilangan secara paksa menyebutkan bahwa penghilangan paksa adalah kejahatan yang berkelanjutan. Selama belum diungkap dan diakui, selama itu pula ia tetap sebagai kejahatan dan pelakunya setiap saat bisa diancam untuk dipidanakan, selama itu pula ia tetap sebagai kejahatan dan pelakunya setiap saat tetap bisa diancam untuk dipidanakan (Robertus Robert: TEMPO).

Hilang dan adanya sang Wiji thukul bukan lagi problema, dia adalah senar putus dari rangkaian nada puisi mbeling¬-nya, hilang dan dihilangkan adalah persoalan biasa karena dia juga bukan lahir untuk super star, dia hanyalah titik beku hukum yang pincang dan hingga kini masih berlanjut. Tak penting pula kiranya dia orang kiri atau bukan yang lahir dari tubuh PRD 1994  lewat jaker-nya, dia hanyalah segulung data dan fakta penting gerak kaum muda yang coba membebaskan negerinya. Dia juga bukan aktifis ulung dan orator aksi yang dominan dikalangannya, tapi dialah Wiji Thukul yang mampu mengorbankan “Matanya” dan bahkan siap untuk kapan saja diambil oleh juru tembak Orba. Dia hanya titip kata singkat sebelum dia menutup sajaknya “LAWAN”.


Penulis: M.A Sholeh
(Penyuka Buku dan Makelar Kopi)