Film, Bioskop, dan Kita
Cari Berita

Advertisement

Film, Bioskop, dan Kita

11 Sep 2016


Film merupakan proses imajinasi diri (self imajining) atas teks masyarakat yang terjadi maupun yang direkayasa.  Apa yang dipentaskan di film setidaknya kita tau perbedaan dunia dan kerangkan berpikir seseorang dalam menyusun kisah yang bisa jadi tidak terjadi di lingkungan kita. Penulis sendiri senang dengan film-fila baru yang berbau romantisme melakolis. Anggap saja Drama Korea, sebagian gadis remaja menuju dewasa bisa saja langsung terpukau dengan paras kosmetika mereka. Kita sebut beberapa di antaranya, Young Jung Ha (You’re Beautiful), Taec Yeon (Dream High), Kim Hyu Joong (Playful Kiss), Lee  Min Ho (Boys Before Flowers). Penulis mempunyai teman di mana, setiap obrolan mudah  menilai, ketika melihat pria harus dengan klateria bintang Korea-nya. Penulis hanya melihat imajinasi dari sebuah film memang luar biasa dampaknya. Bahkan, retas wilayah antara Indonesia-Korea yang senyatanya tidak pernah bertemu akar budayanya. Hayyisme (ideologi populer korea) begitu punya tempat tersendiri di hati penggemarnya di negeri kita.

Kenyataan di atas senyata-nyatanya juga harusnya dipikirkan secara jujur bahwa pola konsumtif masyarakat kita sejujurnya tidak hanya terbatas suplai kebutuhan Primer, Sekunder, tetapi Tersier. Contoh sederhananya bisa kita lihat sebegitu sesaknya launching film di Bioskop. Saat kemunculan film Counjuring 2 beberapa waktu lalu, seakan animo masyarakat perkotaan begitu antusias menyambutnya. Padahal, dengan apapun alasannya Bioskop hanyalah pelarian sejenak bukan infiltrasi imajinasi dalam keseharian kita. Yang mana, obrolan dan penilaian malah frame film bukan kondisi kenyataan diri kita atas lingkungan kita. Hampir obrolan Tongkrongan, Kampus, atau stasiun Kereta Api ada kiasan film. Sebagai cacatan, lalu daya tahan kita dengan kenyataan bahwa persoalan dalam bangsa dan kesosialan semakin jomplang tanggung jawab siapa kemudian?

Generasi Bioskop tidak sepenuhnya menciptakan penonton kritis. Mereka (penonton) hanya mengilhami adegan-adegan bukan sisi nilai yang terekonstruksi atau terdekonstruksi dalam film tersebut. Maka jangan heran, pengetahuan akan persaingan perfilman kita hanya didiskusikan oleh para ahli. Pengunjung Bioskop merupakan gerombolan penonton passif tanpa alat bedah. Dari data hasil rekapitulasi Lembaga Sensor Film RI pada April 2016 menujukkan film nasional kalah bersaing dengan film impor dengan perbandingan film nasional berjumlah 10 film dan impor sebanyak 24 film. Harus jadi renungan, bahwa kenyataan film kita kontra produktif. Belum lagi, film dari rumah produksi non nasional begitu banyak menyerbu pasar kita hari ini. Film produksi India misalnya, begitu dominan menggilas film drama-drama produksi anak dalam negeri. Kita bukan tidak mungkin mengejar ketertinggalan dengan India, yang mana pemasukan hasil pajak film nya lebih besar dari pajak yang lainnya. Lalu, kemana pertahanan kebudayaan dalam diri kita sebenarnya.

Chris Barker (2011) menyebutkan bahwa industri film nasional merupakan salah satu alat untuk mengkonstruksi dan mengontestasi identitas Nasional. Memang tidak dipungkiri juga selera penonton bioskop kita pada film lokal dalam     Negeri harus juga diapresiasi. Penelitian Meghan Downes (2014) tentang jumlah penonton Film Nasional di Bioskop 2008-2013 menunjukkan angka lumayan fantastis, Ayat-Ayat Cinta (3.581.947 orang), Habibie & Ainun (4.470.700 orang), Lakar Pelangi (4.606.785 orang), 5 cm (2.391.457 orang), Ketika Cinta Bertasbih (3.100.906 orang), The Raid (1.844.817 orang). Dari data tersebut, bisa dikatakan daya minat konsumtif akan pesan nilai-nilai moral yang ditunjukkan percontohan layar lebar begitu digandrungi oleh masyarakat kita. Hanya saja, kenyataan ini tidak sepenuhnya terlihat pada kehidupan sehari. Pada budaya Bioskop tidak semua orang bisa menikmatinya, lalu apa yang kiranya di dapat dan diambil sekian juta penonton tadi. Sekali lagi penjagaan tata pesan moral dalam film kita diatur ketat. Sayang, itu tidak terjadi dengan film Hollywood yang berkelayapan bebas di teks pertelevisian kita.

Penulis memang mengetahui betul resiko senang dan menfavoritkan  film dan bintangnya. Kenyataan awal yang susah ditolak, imajinasi yang dibayangkan sama sekali merupakan pelarian. Film romantisme dan drama telah mendapatkan rumah sendiri di hati penggemarnya di masyakat kita, tetapi hal itu bagi penulis hargai sebagai intertaiment semata tak akan sampai menjadi isu realitas kehidupan. Penulis tak menginginkan justifikasi sepihak bahwa penonton film kita sangat naif. Masih ada sebagian yang tergerak hatinya untuk duduk secara arif dan melakukan korektifitas secara adil tentang film dan kebiasaan melancong ke Bioskop tanpa bentuk usaha-usaha yang memajukan di lingkungan aslinya. Di samping itu, pemerintah harus kita dukung untuk terus mengupayakan dorongan akan produksi film yang penuh nilai moral dan tanggung jawab. Film semacam itu akan dapat mensupport setidaknya dalam dorongan akan tindakan-tindakan setelah menontonnya. Film nasional seperti dikatakan Chris Barker, bahwa film Nasional harus mengabdi pada Bangsa dan Negara Indonesia dengan pembangunan watak dan kebangsaan Indonesia bukan malah mengaburkannya.



Penulis: Anida Najiyah
(Reporter RDK FM sekaligus Aktifis HMI Cabang Ciputat)