Aku Gundah Menjadi Mahasiswa Kedokteran
Cari Berita

Advertisement

Aku Gundah Menjadi Mahasiswa Kedokteran

17 Sep 2016


Tiga setengah tahun masa preklinik dan 2 tahun masa profesi memang singkat. Entah mengapa kebijakan sekolah kedokteran yang dahulu 8-9 tahun menjadi dipadatkan sedemikian rupa. Mungkin pemerintah sedang giat membungkam pergerakan mahasiswa kedokteran agar sibuk dengan textbook dan jurnal. 

Dengan waktu sesingkat itu aku menyadari bahwa tidak banyak waktu luang tersisa bagi kami mahasiswa kedokteran untuk sempat banyak menjalin relasi lewat organisasi atau bermain, dengan tuntutan pemahaman materi yang segila itu banyaknya. 

Aku menyadari bahwa orang tua para mahasiswa kedokteran membiayai kuliah ratusan juta itu agar kami menjadi seorang dokter sukses. Pertanyaannya, apa definisi dokter sukses? Apa yang menjadi tolak ukur seseorang dikatakan sukses?. 

Fakta di lapangan menunjukkan bukti bahwa mereka yang ber-IPK sempurna lah yang didambakan. Ironis. Sedangkan banyak kasus di luar sana, dokter pengangguran dengan Indeks Prestasi Kumulatif tinggi. Salah satu dosen yang aku hormati pernah berpesan, bahwa ketika kita diangkat menjadi seorang dokter, saat itu pula kita dituntut dan dianggap sebagai "leader" di lingkungan kita. Memang benar, mengingat kondisi di masyarakat yang masih menganggap dokter sebagai seseorang yang serba bisa. Dokter bisa merangkap perannya sebagai ustadz, ketua RW, pemuka adat, saksi nikah, dll. 

Lalu apakah kita hanya bisa puas dengan IPK tinggi yang kita punya? Apakah kita siap terjun ke masyarakat dengan IPK tinggi yang mati-matian kita raih? Pada kenyataannya, soft skill dan kepemimpinanlah yang mampu mengantarkan kita pada apa itu profesi dokter sesungguhnya. Menjadi dekat dengan masyarakat tidaklah semudah menghafalkan vaskularisasi gaster dalam semalam. 

Lalu di mana kita harus belajar kepemimpinan itu? Di mana saja, terkhusus organisasi. Organisasi intra kampus maupun ekstra kampus sama baiknya. Mereka berbeda dari segi arah gerakan dan cakupannya. 

Organisasi intra kampus hanya bergelut dan mencakup mahasiswa di dalam kampus sedangkan organisasi ekstra kampus cakupannya hingga tingkat nasional dengan gerakan kenegaraan. Amat disesalkan, kini organisasi intra kampus kebanyakan justru dituntut untuk menjadi lembaga Event Organizer (EO). Asalkan punya program, sudah dinilai bagus dan mumpuni, padahal esensi dari organisasi mahasiswa bukan sekadar menjadi seorang EO, melainkan ada nilai perjuangan dan fungsi mahasiswa yang harus diwadahi. Fungsi dan peran mahasiswa sebagai agent of change, agent of social, agent of control harus terjawab di sana. Bukan menjadi kaum elit yang apatis terhadap problema masyarakat, agama, bangsa, dan negara. 

Hal inilah yang menjadikan aku rindu dengan pergerakan mahasiswa dan merasa bahwa melatih kepemimpinan di lembaga intra saja belum mampu menjawab fungsiku sebagai mahasiswa. Sayang seribu sayang, organisasi ekstra kampus sering dianggap remeh di dalam. Padahal merekalah dulu yang hadir dan berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Merekalah yang bergerak untuk meningkatkan derajat masyarakat Indonesia. Dan kerinduanku itu terjawab seutuhnya di sana. Seorang mahasiswa kedokteran yang kelak menjadi dokter tidak cukup melatih kemampuannya untuk membuat sebuah event saja. 

Kepemimpinan, soft skill, hidup bermasyarakat, cita-cita mengharumkan agama nusa bangsa, memaknai untuk apa kita belajar menjadi seorang dokter harus ditanamkan sedini mungkin sehingga ratusan juta itu bukan kita maknai secara nominal, melainkan untuk kebermanfaatan dan pengabdian tulus yang kelak kita perjuangkan bersama di dunia kesehatan. Dengan begitu, tidak akan ada lagi kebingungan dalam menjawab untuk apa kita menjadi mahasiswa kedokteran. Karena, ya, kamu telah temukan jawabannya. 


Penulis : Nungki Samahah 
(Mahasiswa Kedokteran)