Ada Apa Dengan Membaca
Cari Berita

Advertisement

Ada Apa Dengan Membaca

9 Sep 2016


Hari ini saya baru saja selesai membaca beberapa bab dari buku Indonesia Menatap Kedepan karya Dr. Roeslan Abdulgani (mantan menteri luar negeri pertama RI). Penulis memang tak akan banyak mengulas tentang wacana gagasannya yang berkelindan dalam buku milik wakil Sekretaris Jendral Konferensi Asia-Afrika (1955) di Bandung itu. Namun, secara sederhana penulis mencatat beberapa pesan menarik dalam buku itu “Ako ang kinabukasan ninyo akong mabuhai!” (Aku adalah hari depanmu, tolonglah aku bertumbuh). Kutipan singkat tersebut mempunyai cabang makna yang bisa dipungkas dalam berbagai lensa paradigma. Tetapi, dalam kaca penulis menyimpulkan alegori sederhana merujuk pesan menyuburkan setiap kebaikan yang mempunyai akar nilai-nilai dalam kehidupan.

Permasalahan sederhana yang menyejarah itu harus dimulai dari term, bagaimana mau menlajutkan nilai-nilai kebaikan jika tak mengetahuinya? Di tengah masyarakat yang begitu susah sekaligus malas memahami istilah sulit dan kata metafora-metafora yang ikut menyusun peristilahan menjadi problematika tersendiri. Mengajarkan membaca sama sulitnya menasehati rajin baca generasi kini. Di mana pada saat pendidikan konon sudah mampu bersaing di tahun Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 nanti. Buku merupakan alat komunikasi lintas peradaban, di mana sejarah islam mencata pada masa Dinasti Muawwiyah sampai masa Harun Ar-Rasyid dari Dinasti Abbsiyah, banyak berbicara soal penulisan dan penghadiahan sebongkah emas bagi buku-buku yang ditulis oleh  penerjemah tidak berbicara siapa dan warna budaya, agama mereka.

Rendahnya semangat baca di kalangan muda, sudah bukan pengkaburann publik yang penuh emosional. Nyatanya psikologi baca publik indonesia memang sangat rendah. Sokongan pameran buku memang tidak sepenuhnya memancing minat baca. Seakan keahlian membaca sudah menjadi spesialisasi perorangan, padahal sudah menjadi kebutuhan hidup. karya Mortimer I. Adler yang menulis How Read Book  menunjukkan bagaimana caranya membaca yang baik walaupun buku ditulis Mortimer tidaklah cukup memancing hasrat membaca. Buku merupakan ukuran peradaban sebuah bangsa. Pemimpin yang baik minimal pengetahuan kesejarahan dalam dirinya 80%, bagi pemimpin yang tak bersentuhan dengan buku akan kering jiwanya. Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India, ketika dipenjara selalu menyerukan  pasa  sahabatnya agar mebawakan buku-buku. Itu pulalah yang dilakukan oleh Mohammad Hatta pakar ekonomi kerakyatan sekaligus Wakil Presiden RI pertama itu “saya rela ditahan dalam penjara, asalkan bisa dekat dengan buku-buku”. Mungkin kedua tokoh barusan juga menjadi pendorong sosok Mario Teguh, Ricard Oh, Haidar Baqir, Bagus Takwim, menjadi penggila buku dengan mengorbankan banyak materi dan waktu mereka demi mengejar sebuah buku ke luar negeri.

Penulis pernah berkunjung ke Yogyakarta, tujuannya selain menikmati kopi kota pelajar itu, tak lupa pula shopping buku di Taman Pintar di sana. Memang bukan desas-desus pasar jika koleksi penjual buku di Yogyakarta memang lumayan lengkap. Konon, buku cetakan Yogyakarta yang mulai digencarkan oleh Toko Buku Sosial Agency merupakan antithesa daru gaya penerbitan Jakarta yang lebih bersegmentasi pada kalangan menengah keatas, maka mucullah penerbit Pustaka Pelajar dan lain-lain. Kini hampir buku-buku terbitan Yogyakarta mewarnai toko buku di negeri ini. Saya memang terheran-heran dengan kemampuan penjual bukunya, mereka cerdas sekaligus cekatan setiap judul buku yang saya tanyakan. Setelah ditanyakan ternyata latar belakang pendidikan mereka hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tetapi, luar biasa mereka mengetahui isi dan judul buku yang dalam kepala saya sudah di-list. Penulis memang terpukau, hampir sama dengan apa yang ditunjukkan para penjual buku di Pasar Senin Jakarta atau di Gunung Mas, Kwitang.

Bangsa ini besar bukan pula dikarenakan kemahiran Mpu Gandring mengampu pusaka, tetapi juga banyak disokong sosok seperti Mpu Tantular yang tekun menulis pustaka. Jangan heran jika, Cindy Adam pernah menulis soal Soekarno dan kebiasaannya mengoleksi buku bacaan yang banyak, hingga siapapun yang masuk di ruang kerjanya untuk bertemu Soekarno harus bergantian karena telah sesak denga buku-buku yang dibacanya. Penulis buku-buku kita juga telah banyak memukau pembaca dunia. Kita bisa memulai dengan sosok Pramoedya Ananta Toer dengan tukasan Tetralogi Pulau Buru miliknya hingga dirinya masuk kandidat peraih Nobel sastra. Kini, buku-buku miliknya terpangpang anggun di perpustakaan dunia. Padahal singkat cerita, apa yang diangkat dalam ceritanya merupaka lokalitas Indonesia.

Jumlah penerbit di Indonesia dengan mengusung gagasan bermacam-macam, tumbuh bak semak belukar lewat terbitannya-terbitannya. Sebut saja skala besar Gramedia Group (GPU, Grasindo, KPG), Mizan Group (Mizan, Bentang, Pustaka, Qanita, Hikmah), Pustaka Pelaja, LKIS, YOI, Jala Sutera hingga skala kecil Komunitas Bambu, Margin Kiri, Ufuk Press, Alfaber, Pedati Press, dan lain-lain. Pembaca tak akan sulit lagi jika ingin membaca novel Snow (2004) karya penulis Turki Orhan Pamuk  peraih hadial Nobel sastra tahun 2006. Atau, mereka yang menyukai cerita islami yang filosofis karya Tariq Ali berjudul Bayang-Bayang Pohon Delima, bahkan juga sudah bisa melanjutkan ke karya selanjutnya dari penulsi yang sama Sultan Dari Palermo.

Penerjemahan karya penulis asing juga mulai ramai. Dalam buku tersebut menceritakan berbagai kisah dan kearifan yang beragam latar. Sebut saja karya besar dunia Sang Pemimpi (Andrea Hitara), The Remains Of The Day (Kazuo Ishiguro), The Name of Rose (Umberto Eco), Doctor Zhivago (Boris Pasternak), Ibunda  (Maxim Gorky), Norwegian Wood (Haruki Murakami), Gulag (Alexander Solzhenitsyn). Belum lagi karya penulis nasional misal Gunawan Mohamad, Eka Kurniawan, AS Laksana,  Gola Gong, Lan Fang, dll (Azhar;2010).  Membaca bukan lagi sebuah hambatan. Di saat dunia banjir informasi menciptakan pengetahuan yang justfitikasi atas segala hal, buku harusnya menjadi instrument yang mengobati itu.

Saat penulis berjumpa dengan gagasan Rabindranath Tagore dalam A Poet’s School (1926), Tagore Menulis,”Sarang itu sederhana, memiliki hubungan yang mudah dengan langit. Sangkar, sebaliknya kompleks dan mahal....menyisihkan apa yang ada  diluarnya. Dan manusia modern sibuk membangun sangkarnya, sibuk menumbuhkan sikap parasitnya sendiri kepada benda”. Buku dan membaca adalah kerja dan benda yang menyusun sarang bukan sangkar, hasilnya harus dialirkan pada perjungan dan kenyataan hidup. membaca merupakan perjuangan sejarah, yang mana menurut Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya “mereka yang tak mempelajari sejarah, akan kembali akan mengulang sejarah”.

Jika kita lihat rata-rata pembaca negeri ini dan negara lain, maka kita akan mendapati bahwa rata-rata masyarakat lain seperti Jepang menghabiskan 40 buku setiap tahunnya, Amerika Serikat 30-20 buku setiap tahunnya, bangsa Arab rata-rata 10-20 lembar setiap tahunnya, Indonesia? Kita harus secepatnya membudayakan kembali membaca buku. Dengan banyaknya penerbit buku dan pameran penerbit sudah seharusnya memacu daya baca. Fakta lain, bukankah bangsa ini dijajah oleh imprealisme dan kolonialisme Belanda dikarenakan minimnya pengetahuan akibat kekurangan melek huruf dan baca. Barulah politik etis Van Deventer dengan f.180.000.000 dapat sedikit merubah peradaban yang sebelumnya mendung. Jangan sampai mengulang sejarah kembali karena malas membaca!

Belum lagi, pragmatisme dan konsumerisme di kalangan mahasiswa menjadi tidak terkontrol. Membaca hanya dilakukan untuk kebutuhan tugas mata kuliah. Perjungan apa yang bisa dilakukan dengan pengetahuan bangku kelas, begitulah gertakan Paolo Freire kira-kira. Tugas kita sekarang harus bertanya secara jujur apa arti buku diciptakan dan arti firman Iqra’ sehingga begitu berat, mengharuskan tuhan menyerukannya lewat Nabi Muhammad SAW dalam Alquran. Aafalaa Tafakkaruun!.


Penulis: Melqy Mochammad
(Koordinator Kajian Media dan Cultural Studies, di Frankfurt Studies Tjipeotat)