Warkop dan Sublimitas
Cari Berita

Advertisement

Warkop dan Sublimitas

29 Agu 2016



Warung kopi (Warkop) merupakan bagian dari peradaban percobaan manusia. Selain komsumerisme yang dibawa di dalamnya, ada semangat lain yaitu egalitarisme. Orang yang berkunjung ke warkop lebih tepatnya diprediksikan senang bercanda dan “ngobrol berbagai macam tema” patokannya sederhanya sampai kopi ditetes terakhirnya tanpa harus pandang bulu pribadi dan kelas sosialnya. Warkop barang kali lokasi yang melintasi zaman yang pemaknaanya masih dikesimpulan masyarakat pinggiran dan sederhana penuh kesehajaan. Warkop laksana ruang konsolidasi non-politis yang diberai masyarakat di saat ruang publik hanya dikuasi oleh isu wacana elitisme narsis belaka.

Masyarakat kita butuh ruang perenungan di saat sorak-sorai waktu mengarahkan pada hedonisme dan pemuasaan produksi yang dijalankan oleh kapitalisme global. Masyarakat setidaknya seperti apa yang dinyatakan Herbert Marcuse dalam Manusia Satu Dimensi-nya tak lain hanyalah gerobak massa yang menyokong industrialisasi teknologi mutakhir. Belum lagi bahasa dan informasi yang dihirup masyarakat kita tak lebih dari sebuah parodi salah benar tanpa pengadilan. Lalu di manakah kita bisa menghirup udara kebebasan yang individuil serta solite. Atau, jangan-jangan hampir semua elemen yang dinyatakan milik kita seutuhnya telah tergadai atas pengorbanan demi sebuah janji kemerdekaan. Sekali lagi, seperti Marx bilang dalam Economical and Philoshophical Manuscript miliknya, manusia jelas bukanlah binatang, walaupun keduanya termasuk dari alam. Dia harus berani menyesuaikan atas dirinya bukan situasi dan kemauan alam (peradaban kemajuan), hal tersebut ditentukan seberapa besar cita-cita dimilikinya.

Kita kehabisan percontohan ruang, di mana memungkinkan masyarakat bisa menjalankan hidup senikmat kopi di warkop. Peradaban kemajuan melahirkan sublimitas-sublimitas baru. Di mana, penyembunyian yang dilakukan masyarakat  tidak lagi korektif dan penuh perengungan terhadap lingkungan hidupnya. Hal ini, bisa dibuktikan obrolan masyarakat adalah bagaimana kemapanan dan kesuksesan dalam pekerjaan. Walaupun Hegel menegaskan identitas purna manusia adalah bekeja. Karena pekerjaan adalah tindakan pernyataan diri manusia. Tetapi, bukankah bekerja tidak sepenuhnya realitas yang mesti selalu dicapai kita dalam hidup. ada masa di mana koreksi dan melihat dunia dengan cara lebih filosofis mesti dilakukan?

Berkunjung di warkop merupakan perkejaan sederhana yang dilakukan kapan saja dan di mana saja. Warung kopi yang dimaksud tak lain kedai di mana masyarakat tidak merasa berat menyapa dan gengsi dari perangkat sosial masing-masing berbeda. Cita demokratis semacam ini memang sudah sangat susah di temukan di warkop. Pasalnya, sublimitas lebih ditemukan di kedai sarat gengsi dan tidak egaliter. Moderenitas memalsukan kearifan menjadi komoditas. Apa salahnya jika sedikit demi sedikit kita tengok, bahwa jarang sekali kita mengulas keculasan hidup hasil pekerjaan kita secara serius dan penuh kesehajaan, di saat kepercayaan akan kemapanan justeru saat ini dibalas dengan sistem global mata uang mecekik yang justeru dikejar mati-matian kita saat ini. Buku Krisis Kapitalisme Global  miliknya George Soros setidaknya menegaskan bahwa uang hanyalah cara untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. Ia hanya merepresentasikan nilai tukar, bukan nilai secara hakiki yang kita maksud selama ini.

Produktifitas gagasan yang dihasilkan di warkop semakin menyempit. Bukankan kita tau bahwa saintis masyhur Albert Einstein, musikus Mozart dan fisikawan Enrico Fermy misal mengasah gagasannya sambil lalu ngopi di kedai. Atau, di dalam pribadi sejarah perjuangan kita, sejumlah anak muda kita menyusun siasat perjuangan atas absolutisme kekuasaan Orde Baru silam dimulai di warkop, di saat kampus dan ruang lain begitu dianggap ancaman atas cita politik mereka. Lalu kiranya, apa yang dihasilkan sublimasi atas ruang masyarakat kita masa kini. Sebagian masyarakat menghabiskan di Mall, Kafe elit, atau mereka yang menaungi diri di terpal-terpal pinggir jalan. Kita perlu menerjemahkan dalam konsteks mutakhir bahwa solusi atas masalah ini harus didaptkan dari jalur perenungan atas ruang yang bebas yang diantaranya warkop. Kita nyatanya belum siuman bahwa masalah terbesar dari moderenitas adalah terletak pada pendangkalannya. Moderenitas menyentuh kita lewat simbol-simbol supremasi pasar diskon, mode,  dan iklan yang sekian hari semakin menggerogoti resistensl kultural kita. Maka pernyatan Franz Magnis Suseno dalam bukunya Pijar-Pijar Filsafatnya bahwa Takhayyul namanya jika kita masih berpikir menjadi moderen asal bersentuhan dengan simbol-simbol globalisasi  (Budaya Mall).

Warkop adalah respon resitensi kultural atas moderenitas. Warkop pula korektor yang selalu aktif walau diterpa zaman hingga saat ini. tempat di mana, orang setara secara sosial dan kuasa bahasa tak terdiferensiasi masih menyebar bagai bijih yang menungggu tumbuh dan mekar. Berdasarkan kaca mata Magniz, maka warkop dapat mewakili lingkungan komunikatif kesatuan nilai-nilai dasar dari pada lingkungan rasionalitas ilmiah dan lingkungan kesamaan agama.  Di mana awam dan ahli bidang-bidang yang berbeda dapat bertemu secara bermakna. Nilai-nilai yang dimaksud ialah nilai kemanusiaan universal seperti: kebebasan dari penindasan, demokrasi, keadilan sosial, , hak asasi manusia, hak-hak buruh dan orang kecil dan lain sebagainya.

Ruang komunikatif merupakan hambatan paling mendasar yang menghambat perkembangan kita. Masyarakat kita lebih cenderung melihat dunia sebagai hasil individu bukan hasil rekayaan dan kausaliutas kerja sosial secara kolektif. Herbert Marcuse mengulang sebagai kegagalan menerjemahkan produksi dan sistemnya sebagai pemenuhan yang baik tetapi semu pada kenyataanya, kebutuhan diciptakan hanya untuk dijual. Sedahkan kebutuhan manusia sebenarnya, teruatama “komunikasi” dan “kebersamaan”, justeru tidak terpenuhi. Butuh banyak perenungan baru dari pada sekedar menyeduh kopi panas dan bicara. Nge¬¬-warkop harus menghasilkan gagasan dengan perangkat sederhana, hanya dengan alasan tersebut resistensi kritis dalam diri manusia akan berfungsi secara wajar. Karena pada hakikanya manusia dilahirkan untuk melawan dan menaklukkan, tetapi untuk semangat kedua sudah tidak layak dijadikan pegangan dan hanya cocok disaat zaman pemutakhiran moderenitas silam.

Ngopi maupun tidak, warkop secara geneologis memang bisa dilacak tumbuh dari kesaahajaan dan tempat berkeluh kesah, di mana para buruh pabrik atau pekerja tambang silam pada umunya ngaso dengan memesan kopi. Lalu sampai di manakah rasa kopi yang beragam macamnya misalnya, merubah dan mempengaruhi peminumnya. Soal rasa hanya kesimpulan masing-masing, akan tetapi tulisan ini hanyalah menggugah untuk mengajak terus berbagi dalam kebersahajaan hidup yang penuh perenungan matang atas kehidupan. Menatap dunia dengan cara pembangunan dan ketimpangan yang semakin menjadi-jadi sudah harusnya dikoreksi dan diakhiri segera. Kita tak akan bisa berpikir dengan jernih dengan tekanan hasrat bertubi-tubi dari kungkungan harga dan tekonologi yang sejujurnya serasa memisahkan kita satu dengan lainnya. Manusia butuh tatap muka, meyakinkan kawan dan masyarakat tentang sebuah arti kejujuran bersikap dan keseriusan bertindak seperti apa yang lumrah didapi di warkop di mana, susah sekali kita melihat sesuatu serasa disembunyikan dan luruh dikemudiannya.



Penulis: AS Sholeh
(Penikmat Buku dan Makelar Kopi)