Reklamasi Tubuh
Cari Berita

Advertisement

Reklamasi Tubuh

5 Agu 2016



Memandang tubuh sama saja dengan memahami isi pernak-pernik yang ditimbulkan dunia. Tubuh ada sepanjang budaya dan peradaban ada, di sanalah sumbu ide dan tungku hasrat terus dinyalakan. Di sinilah masalahnya, memahami tubuh dengan kaca filosofis guna menemukan artifisial sebenar-sebenanya. Di mana dalam kacamata kaum Husserlian dan Wittgeisteinian melihat perkembangan dunia universal telah membentuk lokalitas dan partikularitas dan keragaman dunia dalam kehidupan. Begitupun “tubuh” tak luput dari kosntruksi kultur global yang terus membentuknya. Dunia kita telah ditumbuhi berbagai paradoks, tubuh tidak lagi bersih, tubuh telah menjadi objek penelitian sosiologis-antropologis setelah pada awalnya filsafat kuno Yunani awal meninggalkanya.

Konsepsi tubuh semakin kabur, kemenangan kapitalisme adalah dalangnya. Tubuh menjadi konsep dari ketegori-kategori baru di tengah merebaknya moderenitas. Di era Millenia Populasi dan Komunikasi Global, tubuh menjadi sebuah kepercayaan baru yang dilekatkan berbagai praktek politik dan ideologi. makna tubuh fisik dalam dunia manusia baru  akan tersingkap bila dikaitkan dengan tubuh psikis. Menurt F. Hardiman Tubuh fisik akan lebih dipahami dalam kerangka tubuh sosiologis-antropologis. Sedang yang terakhir itu. maknanya akan lebih jelas bila dilihat dalam kaitannya dengan tubuh filosofis atau teologis. Tubuh ialah ideologi itu sendiri, pembelaan akan kemerdekaan atas perempuan di ruang publik bukan saja mengacu pada prinsip memilih secara hak tapi ekstesif eksistensi tubuhnya. Kelompok feminisme radikal menantang ulang bagiamana hakikat tubuh yang terpatriarkal dalam teori-teori feminis misal lewat Thinking through the Body karya J. Gallop ataupun Speculum of the Other Woman dan This Sex which is Not One buah pikiran Luce Irigaray.

Tubuh telah berkembang di ruang tanpa sekat di mana berlaku “tubuh mengepung tubuh”. Reklame dan poster hampir menggunakan tubuh sebagai medium komunikasinya. Tubuh merupakan komunikasi ampuh untuk menunjukkan identitas atau memperbaharuinya. Atau menunjukkan selera pasar dan perkembangan konsumerisme, tubuh merupakan alat yang dijadikan instrumen utamanya. Subejektifitas kita mudah digantikan oleh bahasa tubuh, oleh karenanya tubuh membuat pengertian dan pemahaman berbeda dengan kata dan bahasa kita selama ini. Masalah ini akan terlihat serius mengingat tubuh telah dikodifikasi, modifikasi, dan dikonsumsi. Lalu pertanyaan sederhanya sampai di mana kita mengejawantahkan tubuh itu sendiri.  Dalam kajian kritis Cultural Studies kajian akan tubuh juga menjadi perhatian tersendiri bukan saja sebagai fenomenologis tapi sudah memasuki medan preseden teori.

Tubuh harus segera dibebaskan, tubuh harus diangkat dari jurang konstruksi fetitism moderen. Jasad dan material lainya (prodak konsumsi) berbeda kedudukannya. Keduanya dipisahkan antara inti dan pelengkap, hanya dengan alasan ketidaksadaran diri keduanya disinggungkan. Bahasa budaya kita memang akan lebih kaya dengan bahasa tubuh, karena persimbolan atasnya telah melahirkan sensasional dan seksualitas. Tubuh merupakan pabrik bahasa yang terus memperoduksi kata dan makna. Apalagi perslingkuhan pasar dan hasrat menguat berkat sokongan meledaknya konsumerisme. Eksistensi tubuh tidak lagi berdiri sebagai mandiri, dirinya diabsahkan keberadaanya berdasarkan seberapa khas dirinya menyesuaikan dengan permintaan pasar.

Pasar sebenarnya bukan lagi persoalan perputaran barang, karena sesungguhnya perputaran identitas tubuh yang teridentfikasi menjadi hal utama. Hal itu juga tak mau mengindahkan bahwa pasar juga bisa berlaku dengan fungsi sebenarnya, akan tetapi di era moderen yang merambat ke postmoderen, bisnis tubuh dan bahasa yang bersumber dari hasrat yang dihasilkan tubuh justeru menjadi entry utama abad ini. Membebaskan tubuh dari prasangka dan tafsir budaya populer menjadi hal penting. Mengingat kebutuhan akan rasa kemanusian di masa kini jauh lebih penting. Abad 21 tidak saja abad Big Market tapi Weapon Power, kemungkinan peperangan dan konflik selalu ada. Sementara di sisi lain masyarakat dengan kesadaran fetitism akan tubuhnya merasa nyaman dengan perbelanjaanya, di satu sisi lain sekelompok manusia menikmati hasil kebodohan moderen tersebut untuk mengekploitasi golongan lainnya.

Kesadaran akan tubuh juga berimplikasi pada kesadaran pada kemanusianya. Tubuh dan jiwa sering kali selalu dipisahkan keterangannya bahkan fungsinya. Padahal, tubuh dan jiwa berkedudukan sepadan. Masyarakat moderen masih berfatwa tubuh boleh saja rusak tapi jiwa harus bersih selalu. Sungguh akan ambigu pikiran kita berprasangka penyerahan tanpa syarat pada pasar tidak merubah jiwa manusianya. Walaupun Socrates menyakini keabadian jiwa tapi pertanggungjawaban tersebut tak akan berlaku di masa serba harga seperti saat ini. Tubuh mereproduksi gaya dan tafsir untuk memupuk hasrat di jiwa, karena hasrat merupakan identitas kepuasan dan pengakuan, hal ini sangat khas pada jiwa bukan pada tubuh.

Pengakuan berlebihan pada tubuh juga mengakibatkan pudarnya kepercayaan pada ideologi-ideologi dan pemikiran berlebihan yang ada baik Marxisme, Kritisisme, Totalitarianisme dan Liberalisme.  Jean Francois Loytard dalam bukunya The Posmodern Condision mengutarakan permasalahan yang dihadapi lebih pada kehilangannya kesadaran metarasi dan perangkat kekunoan. Seperti ditegaskan diatas, tubuh telah menjadi ideologi tersendiri. Kepercayaan akan tubuh dapat membentuk perilaku dan membetuk pandangan dunia baru akan manusia menjadi asumsi kuat saat ini. Tubuh juga menjadi sistem sosial di mana masyarakat semakin ambigu dalam meyakini apa yang dihasilkan dari perangkat tubuh itu sendiri.

Keyakinan fetitism merupakan benalu manusia yang mengkerankeng pikiran bebas normatif. Kenyataan akan minimnya perhatian tubuh kita pada hal yang bersiafat sosial perlu dipertangung jawabkan kembali. Apakah kenyataan tubuh kita mampun melakukan dalam dua bentuk tekanan yaitu tekanan yang datang dari eksistensi harga pasar dan dorongan perbaikan kemanusiaan yang terabaikan. Reklamasi tubuh bukan pula upaya memupuk kebencian berlebihan pada hal bersifat fetitism sepenuhnya namun usaha menyelamatkan pikir manusia bahwa hidup tidak akan selesai dengan pasar dan kemapanan semata seperti apa yang dikonstruksikan iklan di layar televisi kita. Dengan membebaskan tubuh, akan banyak pikiran produktif yang telah lama tertutupi pula oleh “katedral protestan tanpa tuhan (mall)” meminjam istilah Voltaire. Reklamasi tubuh tak kurang sebagai suntikan dorongan penghargaan pada tubuh tidak boleh cukup pada kosmetika dan kebancian budaya semata, tapi jauh lebih pentingnya manusia dan fungsi kemanusiannya.



Penulis: M.A Sholeh
Penyuka Kopi dan Buku