Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa: Ironi Para Bibliofil
Cari Berita

Advertisement

Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa: Ironi Para Bibliofil

15 Agu 2016




Judul
: Penghancuran Buku Dari Masa Ke Masa (Indonesia); Historia universal de la destruccion de  libros. De las tablillas sumerias a la Guerra  de Irak  (Spanyol); A Universal History of The Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq  (Inggris)
Penulis
: Fernando Baéz
Penerjemah
: Lita Soerjadinata (dari edisi Inggris terjemahan Alfred Mac Adam, AUniversal History of The Destruction of Books: From Ancient Sumer to Modern Iraq)
Penerbit
: Marjin Kiri
Tahun Terbit
: Cetakan Ke-3, Maret 2015


Fernando Baéz (San Félix, Guyana, Venezuela, 1970) adalah seorang Doktor di bidang ilmu perpustakaan. Sejak 2008, ia mengepalai Perpustakaan Nasional Venezuela dan menjadi penasehat UNESCO. Ia menerjemahkan teks-teks Yunani kuno ke bahasa Spanyol, antara lain: Los fragmentos de Aristoteles (2002) dan La poética de Aristotelés (2002). Ia menulis novel El traductor de Cambridge (2005) dan buku non-fiksi Historia de la Antigua biblioteca de Alejandria (2003) yang meraih penghargaan Premio Vintila Horia. Karya paling terkenalnya adalah buku yang akan dibahas dalam tulisan ini. Penghancuran Buku, atau yang dalam bahasa aslinya Historia universal de la destruccion de libros. De las tablillas sumerias a la Guerra de Irak (2004). Buku ini terkenal karena salah satu tulisan di dalamnya yang membahas dampak invasi Amerika ke Irak pada tahun 2003 silam. Karena buku yang menghabiskan waktu pembuatan 12 tahun inilah, Baéz dinyatakan persona non grata oleh pemerintah AS. Tulisan ini tentunya tidak akan membahas secara khusus status politis Baéz di Amerika Serikat, melainkan soal isi buku secara umum, daya tarik, dan daya ulurnya. Sementara itu, untuk upaya perluasan atau penyempitan wacana yang terkait di dalamnya saya kira dapat kita lakukan lewat diskusi lisan maupun tulisan pada kesempatan lain.

Untuk memulai tulisan ini, maka penting untuk mengetahui mengapa buku ini dibuat. Dalam bagian Pendahuluan buku ini, Baéz menjelaskan keinginannya untuk menjelaskan kepada dunia salah satu bencana kebudayaan terbesar (invasi Amerika ke Irak) dan alasan dibalik pemusnahan buku sebagai objek penting dalam peradaban manusia selama rentang waktu 55 abad.

“Selama 55 abad buku telah dimusnahkan, dan kita sama sekali tidak tahu apa sebabnya. Ada ratusan kajian mengenai asal mula buku dan perpus-takaan, tapi tidak ada satu pun karya sejarah mengenai penghancurannya. Tidakkah ini mengherankan?”

Baginya, buku hancur bukan sebagai objek fisik, melainkan sebagai sebuah tautan memori. Sebuah tautan pada kesadaran akan pengalaman masa lampau. “Buku menjilid memori manusia,” tulisnya. Baginya, tiap penghancuran buku bertujuan untuk menghabisi memori penyimpannya. Dengan kata lain penghancuran atas warisan gagasan-gagasan dari suatu kebudayaan secara menyeluruh.

Secara umum, buku ini memaparkan sejarah penghancuran dan kehancuran buku dari seluruh dunia sejak awal ditemukannya tablet (cikal bakal buku dari kepingan tanah liat) oleh bangsa Sumeria 4100-3300 SM sampai tahun 2003-2004 (tahun buku ini selesai ditulis dan diterbitkan). Buku ini terdiri dari tiga bagian yaitu, Dunia Kuno, Dari Byzantium ke Abad 19, dan Abad 20. Di setiap sub judul dalam tiap bagian itu, Baéz memaparkan motif-motif dibalik penghancuran dan kehancuran buku di berbagai belahan dunia lengkap dengan tokoh-tokoh dan faktor selain manusia yang terlibat di serta tak lupa waktu kejadiannya (baik yang berupa perkiraan maupun yang dapat dipastikan).

Menurut perkiraannya, penghancuran secara sengaja (politik, perang, kebencian etnis, penjajahan, revolusi, dll) telah menyebabkan hilangnya enam puluh persen dari jumlah buku yang ada sekarang. Sisanya disebabkan oleh berbagai faktor di luar manusia, antara lain bencana alam (kebakaran, angin topan, banjir, gempa bumi, tsunami, badai, angin muson, dsb), kecelakaan (kebakaran, kapal tenggelam, dll), binatang (kutu, ngengat, tikus serangga) peralihan kultural (matinya satu bahasa, perubahan dalam gaya sastra), dan karena materi pembuatan buku itu sendiri (adanya asam dalam kertas abad 19 telah menghancurkan jutaan buku). Tidak hanya itu, ia juga mengajak pembacanya untuk mempertimbangkan betapa banyaknya buku yang hancur karena tidak diterbitkan, berapa banyak buku dalam edisi pribadi yang hilang untuk selamanya seperti buku yang tertinggal di pantai, di kereta bawah tanah, di bangku taman dan kemungkinan lainnya.

Baéz memang tidak memberikan gambaran secara spesifik tentang dampak signifikan terhadap manusia dari seluruh penyebab penghancuran dan kehancuran buku yang ia paparkan. Tapi ia menggambarkan sebuah contoh dampak kultural yang diderita sebuah bangsa lewat peristiwa invasi Amerika ke Irak.

“Irak kini menjadi negara yang tanpa arah, miskin karena perang, ditimpa konflik agama dan terorisme, dan jatuh dalam krisis ekonomi: sebuah bangsa yang telah kehilangan sebagian besar ingatannya. Buku-bukunya kini menjadi abu, karya-karya budayanya dijual di pasar. Irak adalah korban pertama pemusnahan kebudayaan pada abad ke-21,” (303)

Jelas, apa yang dimaksudnya sebagai peghancuran budaya abad ke-21 adalah sebuah proses penghancuran melalui penelantaran yang terjadi di Irak setelah Bagdad dikuasai pasukan Amerika. Dalam hal ini, Baéz berpendapat bahwa Amerika telah melanggar Konvensi Den Haag 1954 dan Protokol; 1972 dan 1999. “Tentara AS memang tidak membakar pusat-pusat inteletual Irak, namun juga tidak melindunginya, dan ketidakacuhan itu pun memberi cek kosong pada kelompok-kelompok kriminal.” tulisnya. Ironisnya, pembunuhan ingatan tersebut terjadi justru di tempat lahirnya hasil kebudayaan yang disebut buku.

Museum Arkeologi Bagdad dijarah, 14.000 koleksi kecil dicuri, dan ruang-ruang pamernya dihancurkan. Sejuta buku di Perpustakaan Nasional dibakar. Arsip Nasional juga tak luput dari pembakaran. Sepuluh juta entri dari zaman Utsmaniyah dan Republik dari perpustakaan-perpustakaan Universitas Bagdad, perpustakaan Awqaf, dan perpustakaan lainnya di seluruh penjuru negeri. Museum sejarah Alam di Basra dibakar bersama Perpustakaan Umum Pusat, Perpustakaan Universitas, dan Perpustakaan Islam. Di Mosul, perpustakaan museum menjadi korban pencurian pakar-pakar manuskrip. Perdagangan gelap transnasional atas artefak-artefak arkeologis terjadi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapanya ditemukan di Kuwait, Damaskus, Roma, Berlin, New York, dan London tempat di mana kolektor bersedia membayar harga yang diminta.

Daya Tarik
Setelah membaca buku ini saya mencatat setidaknya ada beberapa hal yang menjadi daya tarik dalam buku ini, antara lain masalah pelarangan buku yang sangat dekat dengan konteks sejarah bangsa Indonesia, fakta sejarah dunia yang begitu kuat berkat didukung acuan yang dipilih dengan sangat hati-hati, dan yang terakhir adalah pemaparannya tentang kajian-kajian sejenis dan bagian pascawacana (berisi tentang penghancuran buku yang dibahasa dalam karya sastra) yang keduanya memposisikan tema dan masalah yang coba dibawa dalam buku ini menjadi sangat penting di seluruh dunia.

Sejalan dengan masalah utama dalam buku ini, ternyata hal serupa telah turut menjadi bagian dalam sejarah bangsa Indonesia sejak zaman kolonial. Ronny Agustinus memaparkannya dalam kata pengantar oleh penerbit di buku ini. Ia mencatat, pelarangan buku Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo pada masa kolonial, buku Hoa Kiau di Indonesia karya Pramoedya Ananta Toer, Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta pasca 1945, juga hampir semua karya Sutan Takdir, Idrus, dan Mochtar Lubis dilarang. Setelah muncul Manifes Kebudayaan, hampir semua karya penandatangan Manifes dilarang karena dicap “kontrarevolusioner”. Di saat yang sama puisi Agam Wispi yang berjudul Matinya Seorang Petani dilarang militer karena penyairnya dicap “kiri”.

Pemerintahan Orde Baru menggunakan cara yang lebih sistematis dalam hal ini. Hal itu karena argumen ideologis dan keperluan untuk mempertahankan sebuah versi “kebenaran” politis sudah tersedia. Kenyataan itulah yang menjadi landasan bagi kebijakan pelarangan terhadap hampir seluruh buku-buku dari penulis yang diasosiasikan kiri. Setelah rezim itu jatuh, ternyata kebebasan menulis belum sepenuhnya bebas. Pada 19 April 2001, “Aliansi Anti Komunis” membakar buku berjudul “Pemikiran Karl Marx: dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme” karya Prof Franz Magnis Suseno meski isi buku itu justru merupakan kritik tajam terhadap pemikiran Marx.

Dilandasi Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor 019/A-JA/10207 tanggal 5 Maret 2007, Kejaksaan Agung RI melarang peredaran lima judul buku. Diantaranya, Dalih pembunuhan Massal karya John Roosa, Suara Gereja Umat Penderitaan: Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Socratez Sofyan Yoma, Lekra Tak Membakar Buku karya Rhoma Dwi Aria Yulianti dan Muhidin M Dahlan (yang juga pernah mengulas buku Fernando Baéz ini), Enam Jalan Menuju Tuhan karya Dharmawan, dan Mengungkap Misteri Keragaman Agama karya Syahruddin Ahmad.

Meski pada 13 Oktober 2010 Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa SK Kejakgung tersebut bertentangan dengan konstitusi, namun pemusnahan buku di Indonesia belum berhenti. Praktik pemberangusan dan pemusnahan tetap berjalan melalui tekanan ormas-ormas  melalui ketakutan-ketakutan terpendam jaringan toko buku sendiri. Tanpa menyebut nama pihaknya, Ronny mencontohkan sebuah penerbit terbesar di Indonesia yang membakar bukunya sendiri secara seolah-lah “sukarela”pada Juni 2012. Mengerikan memang mengetahui penghancuran buku begitu dekat dengan sejarah bangsa kita sendiri, bangsa Indonesia. Namun informasi tersebut bukan satu-satunya daya tarik dari buku ini.

Jika kita mengambil sudut pandang “konvensional” yang melihat kecanggihan sebuah penelitian dari banyaknya pustaka acuan di dalamnya, maka buku ini pasti sangat mengesankan. Sebanyak tiga puluh halaman (hal. 339 - 369) dari buku ini berisi judul-judul pustaka yang menjadi acuannya. Kuantitas bacaan yang digunakan Baéz untuk menulis buku ini menggambarkan keseriusannya dalam mengangkat tema ini. Bagi saya, kuantitas bacaannya berbanding lurus dengan kualitas pengetahuan yang disuguhkannya dalam buku ini. Untuk menunjangnya, ia juga melampirkan ucapan terima kasih kepada puluhan koleganya yang terlibat dalam pembuatan buku ini selama 12 tahun. Tentunya, hal itu sedikit banyak memberikan gambaran mengenai kematangan buku ini.

Meski buku ini lazim kita temui di rak sejarah atau ilmu perpustakaan di perpustakaan manapun, namun informasi dan fakta yang disuguhkannya tidak hanya berdasarkan dari dua bidang ilmu itu saja. Pemahamannya tentang politik, biografi, bahasa asing, teknologi, bahkan biologi ternyata menunjang fondasi masalah yang coba diangkatnya ini. Seperti dapat dilihat di subbab ke-29 tentang Musuh Alami Buku (hal. 276 – 283), ia menguraikan sebanyak dua puluh lebih spesies serangga dan jamur yang memiliki daya rusak yang kuat terhadap buku lengkap dengan ordonya. Di sub bab itu ia juga mencatat tentang kertas-kertas abad 19 yang dapat hancur dengan sendirinya serta dampak penggunaan buku elektronik abad 21 yang masih dihantui para peretas yang terus menerus melancarkan serangan untuk menghancurkan arsip-arsip para penyedia buku elektronik seperti Universitas Virginia dan Guttenberg Project.

Bagian lain yang menjadi daya tarik dari buku ini adalah kajian-kajian dengan tema serupa. Ia mencatat bahwa salah satu buku pertama yang memuat pembelaan terhadap buku dari penghancuran adalah Philobiblon karya Richard de Bury (1281 – 1345) dari Oxford. Bibliografi mengenai penghancuran buku lalu berkembang pada abad ke-19. Sementara di Perancis, Etienne Gabriel Peignot (1767 – 1849) menjadi salah satu orang pertama yang menghasilkan kajian andal tentang penghancuran buku lewat Essai historique sur la liberté d’écrire chez les anciens et au moyen age (1832) atau “Esai sejarah Mengenai Kebebasan Menulis pada Abad Kuno dan Pertengahan.”

Lebih dari itu, Baéz juga memaparkan beberapa teori abad 20 mengenai penghancuran buku, antara lain Jacques Bergier yang berpendapat bahwa ada perkumpulan rahasia yang bersekongkol untuk menyingkirkan buku-buku yang dianggap turut berkontribusi terhadap “penyebaran pengetahuan yang terlalu cepat dan luas.” Dan baru pada 90-an psikoanalis Gerard Hadda mengemukakan kajian ilmiah pertama mengenai tema ini. Secara singkat, Hadda melihat dalam sebuah buku terdapat apa yang disebutnya dengan “…materialisasi dari bapak simbolik a la Freudian yang dilahap secara kanibalistik dalam identifikasi primer.”

Selain itu, buku ini juga memperkuat dirinya dengan bagian Pascawacana yang memaparkan tema-tema serupa dalam cerita fiksi. Baéz berpendapat bahwa novel pertama yang menyebut-nyebut soal pembakaran buku adalah Don Quixote karya Cervantes yang merupakan pioneer fiksi modern Eropa. Selain itu ia juga menyebut banyak nama judul yang mengangkat tema penghancuran buku diantaranya Doctor Faustus karya Christopher Marlowe, El sueno del infierno karya Francisco de Quevedo, Manuscrit trouve a Saragosse karya Count Jan Potocki, The Premature Burial karya Edgar Allan Poe, Almansor, karya Heinrich Heine, Earth’s Holocaust karya Nathaniel Howthrone, The Merry Men and Other Tales and Fables karya Robert Louis Stevenson, The Time Machine karya H.G Wells, Necronomicon karya H.P. Lovecraft, The Lord of The Ring karya J.R.R. Tolkien, They Burned The Books karya Stephen Vincent Benet, Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury dan masih banyak lagi yang tidak saya sebutkan disini. Bagi saya, ini membuktikan bahwa penghancuran buku merupakan masalah serius yang mengilhami banyak penulis dan penyair. Bisa jadi sama seriusnya dengan masalah kemisikinan, kebebasan, dan masalah-masalah lain.

Daya Ulur
Meski saya sudah menguraikan apa yang menjadi daya tarik dalam buku ini, namun tetap ada beberapa hal yang saya anggap mengganggu dalam proses pembacaannya. Hal tersebut antara lain pembagian buku, penulisan subbab, dan subjudul yang membingungkan. Penempatan catatan tambahan dengan metode end notes yang menciptakan jarak antara tulisan utama dengan informasi penting untuk memahami tulisan utamanya. Serta beberapa judul buku berbahasa asing yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ketiga hal tersebut adalah hal-hal yang bagi saya membuat saya “mengulur” waktu dalam memahami isi buku ini secara menyeluruh.

Faktanya, ketiga bab dalam buku ini disusun secara kronologis. Mulai dari Bagian Pertama yaitu Dunia Kuno, Bagian Kedua yaitu Dari Byzantium Hingga Abad ke-19, sampai Bagian Ketiga yaitu Dari Abad Ke-20 Hingga Sekarang. Hal yang membuat saya bingung adalah banyaknya angka penunjuk tahun dalam buku ini. Walaupun saya sadar bahwa buku ini merupakan buku sejarah yang menuntut adanya angka penunjuk tahun, saya berandai-andai jika angka penunjuk tahunnya terletak pada setiap awal subbab dan subjudul dalam buku ini untuk memahami rentang tahun peristiwa yang diuraikan didalamnya sebelum masuk ke dalam pembahasan di dalamny. Karena ketiadaan angka penunjuk tahun pada setiap awal subbab dan subjudul tersebutlah, sering saya harus membacanya bolak-balik agar dapat memahami kronologi peristiwa yang ada di dalamnya.

Selain itu, penempatan catatan tambahan dengan metode end notes membuat saya menemukan masalah yang serupa. Untuk dapat memahami setiap detil kejadian dan acuan dari kejadian itu, tentunya saya harus membaca ke depan, lalu balik ke belakang, lalu balik ke halaman depan lagi, dan tentunya proses itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Artinya, buku ini memang memerlukan perlakuan membaca yang ekstra cermat untuk dapat memahami detail yang coba disampaikannya.

Buku ini juga membutuhkan kemampuan berbahasa asing yang cukup memadai –untuk tidak menyebut butuh jaringan internet yang memadai– buat memahami judul-judul buku yang diacu atau dilibatkan dalam buku ini. Hal itu karena sebagain besar judul buku yang disebutkan dalam buku ini berbahasa Spanyol dan Inggris. Judul-judul buku dalam bahasa asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bagi saya penting, karena judul dapat menggambarkan muatan buku tersebut jika dikaitkan dengan pertanyaan mengapa buku tersebut dilarang atau dihancurkan. Harus saya tulis juga bahwa jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan penulisan juduljudul buku dalam bahasa aslinya.

Epilog
Meski saya belum membaca seluruh koleksi Perpustakaan Umum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang terdiri dari 37.425 buku, 243 Disertasi, 337 E-Resources, 706 Jurnal, 582 koleksi multimedia, 3 Laporan penelitian, 256 Majalah, 8 Prosiding, dan 33.254 judul Skripsi –bisa dipastikan bahwa angkanya akan terus berubah sejalan dengan waktu–, namun saya harus akui dengan segala kerendahan hati bahwa saya mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Perpustakaan nyatanya mampu membuat nyaman hanya dengan berada di dalamnya dan dikelilingi buku-buku pengetahuan. Semasa kuliah, di sanalah saya banyak menghabiskan waktu selain di kelas dan di tempat-tempat lainnya di kampus. Dan mengetahui di belahan dunia lain perpustakaan dan buku dihancurkan atas berbagai alasan membuat saya tersentuh dan sedih.

Membaca buku ini adalah ironi tersendiri bagi saya. Meski saya tidak memiliki koleksi buku yang banyak, tapi kecintaan saya terhadap buku dan ilmu pengetahuan menimbulkan perasaan sedih ketika membaca fakta-fakta yang disuguhkan buku ini. Fakta-fakta menyedihkan tentang jumlah pengetahuan yang harus hilang dan dihilangkan selama-lamanya dari muka bumi. Fakta sejarah dalam buku ini sangat menarik untuk diketahui sementara di sisi lain pengetahuan itu merupakan pengetahuan tentang hilang dan dimusnahkannya sumber pengetahuan, yaitu buku dan perpustakaan. Betapapun ironisnya membaca buku ini, namun buku ini tidak hanya menyuguhkan fakta ironis, melainkan juga fakta historis, fakta geografis, fakta politis, fakta sosiologis, fakta biografis, dan fakta-fakta lain yang menarik untuk diketahui. Karena buku inilah, saya kira saya menyadari bahwa saya berada di barisan yang sama dengan penulis buku ini, meski sampai saat ini saya sendiri belum memutuskan dan menemukan jawaban tentang penting atau tidaknya memusnahkan buku. Barisan kaum pecinta buku dan ilmu pengetahuan. Bibliofil.



Perisensi: Gita Irawan
(Pegiat Kajian Sastra Budaya RUSA BESI Ciputat)