Orang Bodoh dan Kemenangannya
Cari Berita

Advertisement

Orang Bodoh dan Kemenangannya

17 Agu 2016



Ada banyak cara syukuran yang dilaksanakan masyarakat kita dalam menyambut Hari Kemerdekaan ke-71 bangsa ini. sebagian anak kecil menyambutnya dengan keceriaan perlombaan dengan pernak pernak-pernik hadiah yang diperebutkan mereka. Kita tak perlu bertanya panjang lebar tetang definisi, arti, dan makna bagi yang merayakannya satu persatu. Secara psikologis bagi yang mengalami betul masa perjuangan layak veteran kita, hampir secara pribadi bersyukur sekalipun kecewa kenapa kenyataan kehidupan politik ekonomi kian gamang. Untuk hal ini, pemerintah semestinya bertanya secara pribadi bukan hanya memberikan bantuan material sebagai penghargaannya. Nasib keberadaan mereka nampaknya tidak menjadi obrolan serius. Masyarakat terlalu sibuk dengan berbagai apresiasi mulai dari pemecahan rekor MURI pengibaran bendera terpanjang atau apalah itu. bangsa ini meminjam istilah McLev sama sekali tak kekurangan Solidarity Maker pemberi secercah semangat. Hanya saja tak disokong dengan kemapanan Administrator Maker yang terus amblas kepercayaan lewat moral politik tamak.

Benedict Anderson (2010) sering mengatakan seringkali orang bodoh mendapatkan kemenangannya dari kebodohannya, serta orang baik selalu terkalahkan atas kearifan yang dibelanya. Begitu banyak rentetan permasalahan menuju dirgahayu RI ke-71 meninggalkan bekas nanar di mata kita. Mulai dari tingkat kriminalitas biasa sampai tidak masuk akal. Negeri kita telah banyak memiliki pengakuan dunia, tetapi sewajarnya pengakuan tersebut hanyalah sebatas politis tidak diaplikasikan dalam bentuk praktek implementasi yang mengarahkan kepada semakin tingginya budaya kita ataupun terjaminnya hak hidup. orang bodoh yang dimaksud bung Ben tadi tak lain ialah perilaku masyarakat bangsa sendiri yang telah sekian lama direngkuh kemerdekaan tetapi lagi-lagi tak mengusahakan kemerdekaan bagi sesama. Selain belum surutnya kaum papa di negeri kita, masyarakat kita sedang dihadapkan papanya rasa sosialitas serta solidaritas atas sesamanya.

Masyarakat kita terasa naif melakukan kerja sosial harus dengan eksistensi lembaga instutional. Kita sangat takut mengahadapi permasalahan sendiri. Alhasil, apatisme merupakan jawaban atas resiko yang mereka tidak bisa pertanggung jawabkan. Apatisme merupakan perihal sangat pribadi, di mana mungkin di masyarakat maju apatisme dibalut individualitas layaknya masyarakat barat diangap sebagai jalan atas pilihan-pilihan rasional mereka. Apatisme mereka dijalankan atas perhitungan karena jaminan sosial dan keamanan bisa dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat barat hanya berupaya menjamin bagaimana perilaku mereka terus bergandengan tangan program pemerintah dan perkara tidak melanggar hukum. Sayangnya, apatisme di negeri sendiri justeru hanya bersifat pribadi tanpa alasan logis hendak dibawa kemana dan dalam rangka apa apatisme kemudian didengungkan.

Apatisme menyebabkan kaum muda enggan melakukan dialog dengan kaum tua. Kemajuan dari teknologi memberikan ruang sharing lebih luas di media sosial mereka dari pada bertanya pada tetua tetang sebuah panutan, panduan kebudayaan bangsa dari kaum tua mereka. Kemajuan seraya memberikan pengetahuan dan terbukanya dunia lebih luas. Sekali lagi, bangsa ini sangat berbeda dengan negara penganut demokrasi lainya di dunia. Ada tali-tali nilai yang terus dijaga sebagai perekat kebangsaan. Kaum muda kita justeru menggelar budaya baru mereka dengan menabrak budaya sebelumnya  yang terbilang ajeg sekalipun. Nampaknya Sukarni, Wikana dan kaum muda lainnya saat menculik Soekarno-Hatta ke Rengas Dengklok bisa dikatakan bentuk perlawanan kaum muda atas kaum tua kala itu. tapi penolakan kaum muda berdasarkan perbedaan pandangan politik kala itu, lebih rasional karena akan menciptakan proses dialog yang terbuka diantara kedua kelompok. Tapi, kenyataan sekarang kaum tua dilawan oleh kaum muda dengan sikap yang mengarah pada apatisme dalam berbagai hal. Siapa yang mau bertanggung jawab?

Benedict Anderson dalan Imajined Community menegaskan bahwa nasionalisme sebuah bangsa dibangun atas khayalan yang tentang sebuah cita bangsa dalam negara. Dengan merujuk Durkhemian, Ben menjelaskan bahwa nasionalisme merupakan prodak yang berakar dari budaya masyarakat yang tidak saling mengenal satu dengan lainnya. Gagasan yang dihasilkan kemudian dikonstruksi menjadi sebuah angan yang disebut Negara. Di mana, kaum pribumi, petani, terdidik menyatukan sikap menguji bahwa kenyataan negeri kita bukanlah “Indonesia was invented by the Dutch”. Suatu usaha dengan kesadaran sempurna hasil residu penindasan. Mungkinkah masa sekarang penindasan telah terkubur. Untuk hal ini penulis tidak mau panjang lebar karena dengan menjelaskan semata tidak akan mengurangi sakit atau penderitaan atas penindasan itu sendiri.

Pemerataan kesejahteraan di kemerdekaan ke-71 seperti fatamorgana saja. Kemajuan di kota besar tak banyak yang dihasilakn selain jumlah populasi dan sentralisasi praktik kemajuan sedang desa dan pedalaman masih dengan wejangan lama mereka. Kita masih bisa tersenyum setelah lembaga penelitian Australia Free Walk 2013 menetapkan masyarakat Indonesia sebagai negara ketiga terbaik di dunia yang bahagia kehidupannya. Entar kita bisa berdebat secara kritis soal metode yang mereka gunakan dalam penelitiannya. Yang pasti penampakan sangat berbeda dengan sebuah realitas, inilah yang sulit dipahami. Alat material yang menempel, reklame mewah bukanlah acuan sesungguhnya. Mayoritas masyarakat Indonesia bahagia karena tidak punya alasan lagi bagaimana menangani kesedihannya.

Kemenagan orang bodoh akan semakin bertambah banyak jika kenyataan hidup hanya dibiarkan pada ketamakan. Ketika kita sudah melihat demonstrasi segelintir mahasiswa di ibu kota terlihat seperti wara-wiri bayaran disikapi dengan tak acuh oleh masyarakat. Maka, kita harus bertanya perjuangan apalagi? Jawaban yang ditawarkan ialah ekonomi berdikari. Tapi mungkinkan kita dapat bersaing kapitalisme global dan lokal yang semakin mesra di negeri kita. Mereka yang tak menghormati univesalitas nasionalisme ialah mereka yang sebenarnya bodoh dan menolak berbagi kamajuan bersama. Perilaku kesenangan sendiri, sembari memberikan acuan nilai Indeks angka merupakan keseharian budaya sosial kaum intelektual kita. Orang bodoh akan selalu menang jika pedagogis tidak juga digandengkan dengan demagogis. Hal tersebut akan memisahkan perjuangan kaum pelajar dengan akademisnya serta masyarakat dengan gerakan local wisdom-nya. Orang akan selalu berusaha mencari peruntungan dengan menumbangkan nasehat baik dan membiarkanya sebagai wacana. Karena itu, tawaran kemerdekaan kita membebaskan dari orang bodoh semacam ini harus diprioritaskan dalam semua aspek sosial, politik, dan budaya.



Penulis: Hendro Nugroho
(Aktifis Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Universitas Indonesia)