Menagih Kembali Sumbangsih Pemuda Indonesia untuk Kemerdekaan
Cari Berita

Advertisement

Menagih Kembali Sumbangsih Pemuda Indonesia untuk Kemerdekaan

24 Agu 2016

Pemuda sejatinya tombak dari sebuah peradaban, ketika keberadaaan pemuda merupakan eksistensi adanya perubahan dalam mengisi kemerdekaan, tentunya dibutuhkan adanya peran penting guna untuk mencapai tujuan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Dalam hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan UUD 45 dan pancasila. Adalah keharusan bagi pemuda untuk mengerti akan peran dan fungsinya dalam mengisi kemerdekaan. Karena bagimanapun sejarah Indonesia tidak lepas dari perjuangan pemuda.

Sejarah panjang mencatat peran pemuda Indonesia tidak lepas dari organisi Budi Oetomo yang lahir pada tanggal 20 mei tahun 1908, sejak saat itu organisasi ini membangkitkan semangat Nasionlisme di kalangan pemuda. Semangat Budi utomo menular ke berbagai pelosok negri. Spirit yang di usung Budi Utomo banyak melecut tumbuhnya organisasi-organisasi kepemudaan, diantaranya Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon dan lain sebaginya. Kemunculannya memberi semangat untuk mengokohkan persatuan pemuda di berbagai belahan bumi Nusantara. Kehadirannya menandai kebangkitan Nasional untuk mewujudkan Negara yang berdaulat bebas dari kolonialisme.

Semangat perjuangan pemuda tidak hanya sebatas dalam perkumpulan berdasarkan kedaerahan, mereka membuat konsepsi dan pemahaman bersama bahwa lahirnya organisasi daerah ataupun suku tidak cukup untuk melawan kekuatan kolonialisme dan imprealisme. Ketertindasan, perbudakan, dan keterjajahan melahirkan kesadaran bersama untuk berhimpun mewujudkan satu kesatuan perjuangan demi tercapainya Negara yang merdeka. Semangat itu terus digalang meskipun mereka dalam ancaman dan bahaya.

Peristiwa 1928 menjadi titik tolak penyatuan anak bangsa atas persamaan nasib yang terjajah, meraka mengesampingkan ego sektoral, budaya, suku, ras dan bahasa. Sebuah impian anak bangsa untuk menyatukan keberagaman dalam wujud nyata Bangsa Indonesia. Sebuah jalang perjuangan yang panjang sebelum akhirnya Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Sepenggal sejarah di atas telah melahirkan sejarah pergulatan anak bangsa dalam memerdekakan bangsanya. Menyitir pendapat orang bijak bahwa Setiap zaman melahirkan cerita untuk masa depan. Pendapat itu seakan menjadi sebuah keharusan bagi setiap pemuda menciptakan sejarahnya masing-masing dalam tiap-tiap zaman yang mereka lalui.

Pada zaman kolonialisme,  pemuda berhasil menggagas dan melatakkan pondasi Negara dalam bentuk satu kesatuan atas dasar tumpah darah satu, bahasa satu dan tanah air satu yaitu Indonesia, sehingga Bangsa ini merdeka. Kemerdekaan tersebut menjadi kado terindah yang diwariskan dalam sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada era Orde Lama pemuda mewariskan sebuah tatanan Negara dengan dengan semangat Nasiolisme yang luar biasa. Semangat tersebut masuk ke dalam semua bidang baik itu ekonomi, politik, dan sosial budaya. Meskipun pada ahirnya dalam perjalanannya semangat Naionalisme para pemuda harus terjebak dan terkotak dalam ideologi-ideologi global.

Masuk medio 1998, pemuda dihadapkan dengan kondisi sosial politik yang dramatis. Pemuda harus menerima kenyataan sistem pemerintahan yang otoritarian. Gerakan pemudapun harus terbungkam dalam kungkungan tirani bernama rezim orde baru. Kondisi tersebut mau tidak mau memaksa para pemuda harus pasang badan dengan segala konskuensi logis yang akan diterimanya. Lahirlah Reformasi yang menumbangkan sistem diktatorian 32 tahun ala orde baru. Pemuda kembali membuat sejarah dengan membangun konsepsi bersama bahwa Indonesia harus merdeka dari segala hegemoni kekuasan, dan tidak ada lagi diskriminasi. Sejarah panjang perjalanan pemuda negeri ini mampu menjadi ikon perubahan. Disadari atau tidak, ini merupakan prestasi tersendiri terhadap perjuangan pemuda karena telah mewariskan semangat perjuangan bagi generasi selanjutnya.

Menelusuri kembali jejak reformasi 18 tahun silam hingga hari. Kehadiran pemuda semakin terdistorsi dan terpolar dalam ragam kepentingan. Peran pemuda belum menunjukkan perannya yang signifikan, mereka seakan tenggelam dalam ueforia kebebasan. Semanagt daya gedor untuk mendobrak tembok rezim 18 tahun silam hari ini seakan menjadi catatan sejarah manis tentang kegemilangan semangat pemuda. Budaya untuk kritis berubah menjadi Perilaku konsuntif dan elitis, menyebabkan pemuda berada pada kondisi titik nadir. Miskin karya, miskin gagasan dan miskin semangat juang. Keadaan ini sepertinya Selaras dengan apa yang dikatakan Yasraf Amir Piliang dalam bukunya "Perjalanan optimisme masa depan yang tiba-tiba berubah menjadi pesimisme masa depan". Sebuah komedi pembangunan yang tiba-tiba berubah menjadi tragedi pembangunan. Sebuah ueforia kesenangan, keterpesonaan dan kegairahan yang tiba-tiba berubah menjadi histeria kepanikan, kekerasan dan kebrutalan.

Semangat reformasi dalam mengisi kemerdekaan seharusnya mejadi angin segar bagi pemuda untuk mewujudkan bangsa Indonesia pada tataran yang ideal. Apalagi kemerdekaan bangsa ini sudah mencapai usia yang ke- 71 tahun. Tentu banyak sekali pelajaran yang bisa di ambil. Pemuda harus kembali ke jalannya sebagai jalan perubahan. Bengsa ini rindu akan sentuhan ide dan gagasan brillian para pemuda seperti apa yang dilakukan oleh Budi Utomo dulu. Konsistensi untuk selalu berpihak pada perubahan dan selalu semangat untuk membangun perubahan.

Pemuda harus keluar dari euforia  reformasi. Pemuda harus kembali menafsirkan ulang tujan reformasi. Tentang cita-cita dan harapan perubahan. Kondisi hari ini pemuda lebih cenderung dengan dunianya sendiri, berfantasi dengan dunia maya ketimbang dunia nyata. Sebagai generasi yang Mewarisi semangat sumpah pemuda dalam era reformasi, mewujudkan masyarakat madani adalah tugas utama yang harus diperjuangkan. Gerakan pemuda harus kembali berorentasi pada semangat Nasionalisme seperti yang dimimpikan oleh Budi Utomo.


Penulis : Miftahul Arifin
(Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemuadaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang)