Makam
Cari Berita

Advertisement

Makam

15 Agu 2016



Camar menukik membawa pesan tangkas. Sayapnya mekar cakarnya tumpul matanya buta kanannya. Terbangnya linglung. Dia tergatung diatas mata yang menyala nyala di bawahnya. Gagak hitam telah lama terusir mencari sorban untuk di ikat di lehernya. Halaman yang penuh tumbukan tanah berpatok tulisan empunya nama hanya menjadi hafalan gagak dan bunga cempaka. Camar tak akan hinggap. ketika sore menyingkap rasa dan penasaran penghuni gundukan tanah.

Bising-bising parau gemersit reranting yang tumbuh penuh ego dan mati dalam ketidak mengertian adalah satu dari hikayat halaman dengan sejuta masa. Namun tak terpakai. Dengan patok-patok bisu bertulis huruf dan angka, angin mulai mengeja nama mereka buat disiarkan kepada sang hidup yang masih hidup.

Pak rahbini sang penjaga gundukan tanah yang sejak zaman bahuela telah mengenal sekat gerak kaki tanah yang telah menghidupinya dengan keluarganya. Baju safari dengan sarung yang mengikat lehernya tak ubahnya kain kafan yang menjadi pandangan asik camar putih dan  gagak hitam. Beribu-ribu kali pupil matanya menuliskan nama mayat yang datang untuk tumbal rezekinya. Baginya kematian merupakan kebahagian bahkan sebelum kematian itu dibuat untuknya. Kematian merupakan kebahagian dan dirayakan layaknya kelahiran kehidupan.

“Pak tolong buatin makam dengan panjang 17.8. cm . dan jangan lupa buatkan di area yang tanahnya paling bagus disini” perintah lelaki dengan jas hitam berkerah.

Muka pak rahbini mulai bergelombang sedang gerak jarinya masih dengan sepuntung rokok kretek. Dia mulai linglung di tengah pancaroba politik bangsa saat ini aroma naïf mulai masuk dalam ketenangan pemakaman. Tak terkecuali pak Rahbini yang mulai anomi dengan kehidupan yang berdauat. Baginya kini sebuah Negara lebih nyaman jika diatur dengan ketenangan makam yang telah lama dia dalam kedamaian. Tak ada saling tuduh dan hujat menghujat antar nisan. Tak ada tanah yang diserobot oleh kontraktor, tak ada illegal loging mereka sangat puas dengan satu patok nancap di ubun-ubunnya.

Kuasa hatinya muncrat di keharibaan kesunyian,” perasaan negeri ini baru merdeka…”. Tak puas dengan deruh hasrat lelaki berkerah. Camar putih  mulai mengoceh dengan nada tak ramah mendendangan pada tangkai dan dedaunan. protes atas jasad baru yang akan menghuni jembatan tanah kirap akhirat. Namun gagak hitam kegirangan mendengar seloroh sang jas hitam. Kicau poya gagak menggelontorkan dedaunan cempaka simbol kearipan.

“ingat pak jangan sampai ada  yang cacat, sebab ini merupakan pejabat besar Negara. Itu sebabnya harus mendapatkan tempat yang layak dan bagus”. Tekan si jas hitam.

Gagak hitam makin tertawa lebar dengan terikan kegembiraan, terlihat sangat senang karena lingkungannya akan kedatangan orang besar. Sorak soray suaranya mencemari langit sore. Sang camar putih berkeliling ,mencari sokongan penolakan terhadap mayat penghuni baru. Bagi camar, makam bukan tempat investasi melainkan pengukuran jejak kelakuan semasa hidup jadi tak ada mendua baginya. Namun sayang, camar juga kembali tertunduk lesu karena di luar sana suara kecil telah banyak mengabdi pada kehendak suara besar.

Lintingan rokok kretek terus dia pelintir demi mendapatkan sebuah teman. Malam-malam pak Rahbini berniat sendu bulan separuh. Karena setiap purnama dia pulang kerumahnya untuk bersama dengan keluarganya. Namun purnama berganti berkali-kali dia tak ingin kembali. Baginya kebersamaan di bulan purnama tak lebih indah dengan teman-teman damai di hadapannya. Pak Rahbini mendapatkan alunan sendawai angin dari kepiluan pemakaman. Lampu pernak-pernik baginya tak mengisaratkan sebuah tujuan hidup. Sepintas radio kuno 70-an mengusik telingannya yang tenang, sebuah siaran terkini yang di bawakan dengan nada pelan memberitakan kematian pejabat Negara yang wafat akibat serangan jantung. Dalam berita tersebut di bacakan satu demi satu jasanya demi menghormati ataukah sebuah kehormatan.  Hal itu di sebutkan ketika dia mati. Pejabat Negara tersebut dalam petikan berita akan di makamkan secara hikmat di pemakaman umum pahlawan Kali Bata. Berita yang menggema seatero negeri tersebut hanya di tanggapi dengan segumpal asap rokok kretek hasil buatannya dan bukan mengimpor dari negeri lain.

Makam pahlawan kali bata bagi pak Rahbini sudah tak asing lagi. Di sana dengan cangkulnya yang bengkok dengan mata pacul yang mengarat dia gali istana pahlawan-pahlawan Kali Bata. Dia sangat hafal setiap pangkat yang di galikan olehnya. Mulai Jendral, Menteri, anggota Legislatif, bahkan keluarga Presiden juga numpang untuk besar walaupun  lewat gundukan tanah makam pahlawan.

Banyak motif meninggalnya mereka, ada yang sakit, ada yang mati karena terlalu tamak memegang jabatan sehingga tak mempedulikan masa usianya yang tak seimbang lagi, ada pula yang mati menuggu surat Kepres Presiden bahwa di merupakan pahlawan yang patut di kenang padahal mereka tak ada tanda peluh di tanah pertiwi. Semuanya tumpah ruah di tanah yang tak berdosa namun harus menanggung kepalsauan. Namun pak Rahbini tak mau berpikir jauh tentang mereka semua. Karena diantara mereka juga ada yang wafat secara terhormat tanpa harus mengikutkan nama gelar dan pangkat ketika mereka mati. Mereka dimakamkan tanpa diarak bahwa terkadang tak ada orang yang tau bahwa yang wafat pahlawan.

Pak Rahbini melihat lagi bulan. Tanpa di suruh angin tangannya memutarkan pulir channel radio bosan mendengar rengek kematian. Setiap malam baginya merupakan sebuah penghargaan karena telah menjalankan amanah menjaga dan mengawasi makam-makan para pahlawan. Baginya itu satya lencana tak berbintang yang di panggulkan kepadanya. Senyumnya mulai menari, ujung pita bibirnya yang menghitam oleh asap rokok. Matanya selalu tertuju pada satu titik fokus. Entah apa yang dicoba di terkanya, bulir matanya memang tak setajam dahulu tetapi untuk melihat apa yang terjadi saat ini dia tak perlu mnedatangi kota dan bertanya apa yang terjadi. Baginya keluh kesah malam arwah pahlawan akan kegusaran yang melanda negeri ini cukup menggetarkan nuansa jasad bernyawa. Pelajaran yang cukup santer layaknya demikian pak rahbini mensyukurinya. Baginya keluhan almarhum pak Jendral dan pak Menteri yang semasa hidupnya benar-benar tunduk akan haluan Negara memberikan pembelajaran pada pak Rahbini.

Kabar yang didapat olehnya dijadikan informasi tunggal yang terbebas dari kepentingan dan kontaminasi pribadi yang saat ini menjadi pola konsumsi baru di negeri ini. Tak ada pula yang mengagumkan mendengarkan teguran dari kematian dan nasehat dari kuburan.

Selama ini masyarakat melihat pak Rahbini sering berbicara sendiri dan tak peduli dengan desas desus orang di sekelilingnya yang membicarakan apa yang ia lakukan. Banyak orang menyebutnya tukang gali kubur gila. Masyarakat kurang kerjaan menyulut perkataan tak amoral kepada pak Rahbini dengan mengumpat orang tak waras. Hingga saat ini pak Rahbini sendiri sangat senang dengan predikat demikian. Menjadi gila di tengah-tengah orang, cukup menenangkan dirinya ketimbang menjadi gila di tengah kerumunan masyarakat tak berdosa serta mengambil hak mereka untuk di jadikan hak milik pribadi mereka. Para koruptor bagi pak Rahbini lebih gila dari pada penghuni rumah sakit gila. Mereka sepatutnya menjaga tetapi dengan mata terbuka mereka meraba-raba kantong wong cilik dan menggasak milik mereka sehingga mereka harus menjual masa depannya demi sesuap nasi.

Pagi pun tiba tak ada salam dari matahari mereka terburu buru berpacu dengan semangat manusia untuk mencari nafkah. Pak rahbini tak kaget sedikitpun dengan kebiasaan masyarakat yang menggilai etos kerja mereka. Setiap pagi dirinya duduk di bawah pohon beringin tua yang dari tahun ke tahun lebat tangkai serabutnya menguat bagai akar. Namun sayang beringin tua tak lagi bertuah panas dan gerah mulai masuk dalam kedamaian. Daun daunnya ikut berhamburan. Entah apa yang coba dikabarkan oleh beringin pada pak Rahbini.

Camar putih sejak tadi mengintip malu karena suaranya tak di dengar oleh siapapun.  Mata kecilnya memandang pak rahbini yang mulai menggarisi tanah galian untuk penghuni baru makam pahlawan kali bata. Camar putih itu ingin meneriaki pak Rahbini untuk tak melanjutkan galiaanya tetapi lagi-lagi kuasanya tak sampai pada pak Rahbini. Kelakuan camar putih di tertawakan oleh gagak hitam yang sejak petang mematung di atas nisan, tak sabar menunggu mayat yang datang.

“Pak beberapa menit lagi jenazahnya akan tiba, jadi makam ini harus siap, karena kasian jika mayatnya kepanasan menunggunya,” pesan lelaki dengan kopyah hitam.

Patok pengukur telah diangkat oleh pak Rahbini. Dia masih sibuk menggali tanah di pinggiran tepinya agar mayat mudah masuk tanpa prasarat berat layaknya pejabat yang bisa masuk di manapun asal bawa jabatan dan gelar.

Gerutu penghuni makam sudah tak segemuruh ketika malam.mereka diam tanpa jawab. Camar putih mulai kebingungan bagaimana caranya mayat tersebut jangan sampai dimakamkan. Dia kawatir pejabat yang mati merupakan buronan koruptor yang kemudian mati, masih saja mendapatkan belas kasih dari masyrakat.

“Siapa nama yang wafat pak, apakah dia negarawan, budayawan, ataukah makelar?”. Tanya pak rahbini dengan lantang dari dalam kuburan yang belum selesai.

“ Wah..hati-hati kalau bicara pak. Dia mantan pejabat pajak. Dia sangat di hormati seantero negeri. Jasa-jasanya pun terbilang banyak bagi bangsa ini. Jadi kami pikir, dia berhak di sandangkan sebagai pahlawan.” Jawab lelaki berkopyah.

Pak Rahbini nampaknya tak senang dengan ungkapan lelaki tadi. Diapun tak ingin melanjutkan perbicangan yang penuh kenaifan itu.

Namun pak Rahbini melontarkan kata “Apakah kau mendapatkan hasil dari kepahlawanan dia semasa hidup?”. Pertanyaan pak rahbini kini menjadi belunder di kepalanya. Mulut yang tadi tangkas melonglong kepahlawan jenazah kini dia tertunduk lesu memikirkan entah apa yang akan dijawabkan kepadanya.

“jika engkau tak mendapatkah kepahlawanan dia, masihkan kau berkelakar dia masih pahlawan bagi kesejahteraanmu?” lanjut pak Rahbini.

Lelaki tadi pergi meninggalkan pak Rahbini dengan  sekujur tubuh menggigil. Nampak dari jauh di memutar haluan dari jalan awal dia datang. Cangkul makin lama makin kencang mengayuh. Pak Rahbini naik dari liang lahat  menjemput udara segar dari pengatnya alam kubur bakal rumah sang pejabat.

Dari jauh iring-irngan mobil dengan plat merah dengan angka kecil mencoba memamerkan bagusnya merek mobil dan setara gengsi yang disuguhkan di matanya.  Mereka berjalan dengan serangkaian bunga dan foto jenazah semasa hidup dengan lencana dan kasta gelar yang di menempel di jas bajunya. Di dalam bingkai foto tersebut Nampak bahagia sumringah. Entah apakah dia bisa tertawa lebar di ruang kerja barunya yang baru yang tak ber AC dengan meja dan kursi menyatu. Di belakangnya aransement lagu sedih coba dipikatkan untuk menambah nuasa kelabu padahal matahari menertawainya.

Pak Rahbini menyingkir karena baginya tugasnya sudah kelar. Dia berdiri di bawah pohon beringin. Di dalam dadanya berdengung hebat. “Kasian istri dan anak-anaknya”.

Proses penguburan di hadiri oleh petugas keamanan yang berbaris di pinggir kuburan dengan senapan mengarah keatas. Dengan hitungan moncong laras panjang memuntahkan isi keluhnya. Pejabatpun perlahan masuk ke liang lahat. Dari jauh camar putih berteriak menolak atas di masuknya pejabat tadi.

Lain pula dengan burung gagak yang pongah nya menari di atas nisan, dia tak bisa melepaskan momentum ini. Sang gagak akan sangat berterima kasih jika setiap malamnya akan di temani aungan kegelisahan penghuni makam baru dan siapa lagi jika bukan pahlawan kesiangan. Akhirnya dia terbang melanglang buana mengabarkan ke semua benda hidup yang telah dibunuh nuraninya, bahwa pejabat pajak tanah telah mendapatkan tanah yang benar-benar layak .

Pak Rahbini menurunkan songkok nasional nya yang lusuh memerah di bakar matahari. Sebagai rasa hormat pada jenazah. Dia melihat istri dan anaknya yang berpakaian hitam duduk di samping kuburan menuangkan air melati dan kemudian  bunga. Bahkan untuk terakhir kalinya dia akan mencium wewangian. Kemudian sang anak membacakan mantra agama sebagai penyejuk yang tak mungkin pula dia mengharap udara kantor ketika hidup.

Para petugas keamanan mulai menarik diri mereka dari pemakaman yang menghitam bukan saja karena pakaian namun semua penghuni makam menatap kelabu. Udara yang dibawa angin mengucapkan salam terakhir kepada sang pejabat tinggal nama.

 Pak Rahbini mulai melangkah kakinya untuk menghilangkan pengat dari nuansa lumrah baginya. Dia ingin menunggu malam tiba karena  baginya malam adalah keluhan atau keindahan pertama sang mayat yang masih diguyur melati.

“ Aku menunggu kehadiranmu nanti malam wahai pejabat” ketus hatinya sambil merangkai tawa kecil. Dia berkeliling mengitari luasnya makam tanpa tujuan jelas hanya sepintas menghadirkan malam.

Sang camar putih sudah tak betah mengintip dari tangkai ke tangkai. Dia memberanikan dirinya terbang dan hinggap di atas nisan. Dia mengeja namanya dan dia menemukan gelarnya semasa hidup ikut dalam teka teki barunya. Camar putih kemudian diam tanpa suara seakan dia sudah lelah akan penolakanya dan diapun rela.

Di malam hari pak Rahbini sudah duduk di pinggir kuburan. Menunggu jawaban kebisuan sang pejabat dari dalam kuburan. Gagak hitam menertawakan pak Rahbini dengan bunyi khasnya yang parau. Kemudian dia mengeja nama sang pejabat yang di tulis dengan huruf tebal. Di bawahnya tertulis angka kematian 17 agustus 2016. Dalam benak pak Rahbini berkecamuk Tanya. Benarkah kemerdekaan telah mati bersama sang pejabat lalim ini. Ataukau kemerdekaan sedang menunggu darah dan nyawa lagi. Beberapa waktu kemudian dia tak dapatkan jawaban sedikitpun dari dalam kuburan. Hanya beberapa kata yang keluar dari mulutnya “semoga engkau merdeka disana wahai pak pejabat”.



Penulis: Melqy AS.
(Penikmat Buku dan Kopi)