Isti Nugroho; Negeri Kita Tak Ubahnya Maling Kundang
Cari Berita

Advertisement

Isti Nugroho; Negeri Kita Tak Ubahnya Maling Kundang

15 Agu 2016


Indikatormalang.com - Saat menjelang reformasi, nama ini tak asing bagi para veteran polisi dan aparat militer. Aktivitasnya yang dianggap menentang, subversif dan kegemarannya membaca buku studi kritis mengahantarkannya pada petapaan selama delapan tahun (1988-1998), yakni sebagai orang yang Sering nyantri di dalam pesantren Orba saat itu

Dalam usianya yang ke-54 dia masih menjadi orang yang sangat diperhitungkan dalam dunia pergerakan mahasiswa.  Isti Nugroho atau disapa Bang Isti, bagi teman-teman Kamerad-nya dikenal supel dan hangat. Jumlah temannya lebih banyak dari pada harta bendanya. Ia beredar di berbagai lini dan atmosfer budaya. 

Dibalik badannya, yang saat ini tak cukup kuasa untuk mengangkat tangan kirinya seperti tempo silam. Setidaknya dia masih mampu menggertak bahwa pergerakan untuk menentang Si Lalim dengan kuasanya yang menindas masih bisa dilakukan. ”Pergerakan itu ada, dan selamanya harus ada, bagaimana caranya,” tandasnya, Rabu (14/8). Tarekat politik merupakan jalan yang ia pilih, demi terwujudnya  masyarakat berkeadilan dan sejahtera (Merdesa). 

Selepas dari penjara dia kembali kemedan laga Tadjid  juang dan tetap berada dipinggiran sebagai aktivis berkapasitas pejuang. Bersama Soedabio Sastrosatomo ia kemudian mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI)  yang sama-sama gigih mewalan Soeharto kala itu. 

Menurutnya, adanya mahasiswa merupakan simbol akan adanya kontrol pada perkembangan politik, sosial dan ekonomi masyarakat indonesia. Saat rezim Orba menjadi pusat target perjuangan, mahasiswa lah yang mengkoordinasikan pesan itu. Aktifis 80-an yang terkena langsung refleksi politik orba juga tak segan untuk ikut mendukung terbukanya jalan reformasi. Tak ada sekat golongan, semua satu bendera reformasi. ”Tuntutan reformasi harus sejalan dengan nilai reformasi yang kita perjuangkan” ketus pendiri Komunitas Budaya Guntur 49 Jogyakarta itu.

Budayawan sekaligus Seniman ini, sangat menyayangkan kondisi mahasiswa masa kini. Di matanya, ke-egoisan dengan berjuang secara individual yang dipertontonkan para mahasiswa. Mereka tak lagi mampu melihat perkembangan politik makro dan hanya sibuk dengan ideologinya masing-masing. Di samping itu menurut beliau pemahaman tentang ekonomi, sosial dan politik dikalangan mahasiswa sangat kurang. Jika dibandingkan dengan masa 80-an, untuk sekedar membaca dan belajar politik saja, rezim Orba menerapkan jam belajar bagi mahasiswa agar supaya mahasiwa lemah dalam kabar perkembangan politik serta mematikan pergerakan mahasiswa tempo silam. ”Dulu solidaritas sebagai ideologi survivalnya, sekarang berubah Gadget,” lontar bung Isti.

Menjelang sewindu sebagai tahanan, Isti Nugroho keluar bersyarat hingga bebas 6 Desember 1996. Dia seorang buruh, Mirip Wiji Thukul yang juga bukan bersal dari kalangan Intelek Kampus. Asupan gizi radikalisme terpelihara baik, baginya penjara sama seperti puasa, selepasnya sama saja. 

Getol berdiskusi mulai kelompok studi sosial Palagan Yogyakarta, forum Indemo hingga komunitas politik guntur 49. Kebanyakan kawan aktifis sebayanya sudah berkepala “Lima”, sudah berhasil menapaki langkah ke atas mendaki kemapanan kelas sosialnya. Tidak demikian dengan Isti Nugroho, kesehariannya terus beradu badan dengan kolektif bersama aktifis muda, dan tetap menjaga hubungan baik dengan Hariman Siregar aktor penting dalam meletusnya Tragedi Malari 1979, Emha Ainun Nadjib, dan termasuk gerakan gerakan kiri indonesia lainnya.

Bung Isti belakangan ini melihat ada hal yang menarik, setelah reformasi dilepas dari sangkarnya. Nilai dan tuntutan reformasi belum juga hinggap. Kisruhnya parlemen dan pelaku korupsi yang masih bisa cengar-cengir di media massa semakin menambah akut negeri ini. Politik bukan lagi tujuan yang harus dijaga melainkan dipasarkan sebagai tontonan seperti reality show yang dipertontonkan oleh salah satu televisi dengan melibatkan mahasiswa hanya untuk jadi juru tawa dan komentator pasif. 

Sikap politik mahasiswa hari ini menurutnya semakin abu-abu. Dampak dari desakan pertumbuhan ekonomi kapitalis dan politik liberal, sehingga mahasiswa mudah diasingkan dari tugas yang seharusnya. ” Politik sekarang itu seperti Politaiment,” sergahnya.

Semua kekacauan dan menjuhnya cita-cita kebangsaan, membuat Isti Nugroho mensimbolkan indonesia sebagai “Malin Kundang”, larinya dari konstitusi dan nilai proklamasi melahirkan penghianatan pada masyarakatnya. Kepentingan pribadi seperti yang dilakukan Si Malin dengan ketamakannya sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh para pemimpin kita yang tak lagi sejalan dengan janjinya. “Inilah puncaknya Si Malin Kundang itu,” banding Bung Isti.

Setelah reformasi lewat kemanakah perjuangan bung Isti Nugroho dilanjutkan?. Selain aktifis dia juga merupakan budayawan dan sastrawan kenamaan. Dia bukanlah seonggok daging yang menua. Namun justeru lewat perjuangan dengan kesenian saat inilah ia meremajakan pikiran dan gagasan kritisnya dalam dalam kerja kesenian. Jika kebanyakan eks aktifis 80-an kini hadir  memanfaatkan peralihan momentum pemilihan demokrasi liberal, naik ke panggung orang,  terseret pusaran arus pilihan pragmatis, maka nampaknya tidak bagi Isti Nugroho, dia membuat panggung sendiri. Sekalipun Komunitas Budaya Guntur 49 sangatlah kecil, tapi disitulah arenanya. Yuridis wilayah keseniannya ko-eksistensi berproses dan melawan lupa. 



Pewarta : Melki
Editor : Dekki