Soliter dan Opera Senyap
Cari Berita

Advertisement

Soliter dan Opera Senyap

29 Jul 2016





Tidak ada tulisan yang aku  sukai selain dituliskan dengan darah” Neitzsche dalam Also Sprach Zarathustra sebagai pemikiran aforisme nya yang pada merupakan ungkapan akan kekecewaan terhadap berbagai hal di dunia nihilisme nya yang menurutnya sudah tidak mengasikkan sehingga manusia harus banyak berpikir lagi. Kehidupan yang telah berubah dari jalur konvensi logis sosial telah menjadi konvensi pasar, pasar bukan saja ruang gerak material perdagangan tetapi ajang pertukaran kategori logis  mengolah pengalaman kehidupan manusia.

Manusia pasar telah menciptakan kegemuruhan yang gaduh tanpa menuliskan keabadian apapun selain kegaduhan dan saling menindas tidak ada banyak nilai luhur dan pergulatan pasar, meminjam istilah A la Derrida “darah yang tak memberikan gairah berdansa”. Kebebasan manusia telah diberangus perhitungan pasar, mereka dilanda kekhusukan yang mencurigakan karena dilingkungi kepentingan dan lenyaplah siapa dirinya. Dalam tafsiran lepas Neitzsche pasar sebagai forum  sebagai mana dia menisbatkan pada perilaku zaman  klasik. St. Sunardi menjelaskan Forum dalam pengetian Neitzsche yang terpenting dalam sebuah Forum orang melakukan pertukaran kurtural dan politik, seorang orator Cicero besar dalam forum, pegulatan poltik romawi tumbuh di Forum (pasar). Jelasnya, pasar sudah menjadi titik simpul persuasif sendiri dimana, aktor satu menggulingkan aktor lainya demi sebuah “kekuasaan”.

Gemuruh pasar menyebabkan pengakuan akan pribadi melemah, pertanyaannya mungkinkan kita masih menjadi imitator dan aktor dalam sebuah pasar? Ataukah menjadi pribadi yang mampu mengembangkan pasar secar produktif tanpa melemahkan daya dan akal? Hal ini menurut Goenawan Mohamad “ merupakan jalan membedah kesendirian dari kesenyian menuju kesunyian yang lain”. Dalam sebuah pasar kita tidak pernah sendiri dan tujuan baik menyempurnakan “kehendak berkuasa” diri kita tidak mudah. Di zaman Zarathustra dan zaman sekarang sudah menganggap hidup memasarkan, pasar bukan lagi kategori spasial tetapi kategori kultural. Masihkan kita bisa menghiduppkan kesunyian dalam dalam keramaian pasar?. Menurit Umberto Eco “mampukah kita mengambil kesunyian sebagai sebuah kategori kreatif atau rohani?”.

Memang kehendak berkuasa menurut Neitzsche  harus berhadapan dengan kuasa lain lembaga negara, sosial, dan agama. Sehingga kehendak berkuasa tersebut berbenturan. Akan tetapi semangan individualisme yang merupakan bagian zaman moderenisme juga harus dilihat pokok-pokoknya pakah individualisme merupakan kebebasa  keratif ataukan menjadi kungkungan yang menjejali. Ketika orang menjunjung individualisme maka hasil budaya yang diciptakannya akan merusak individu tersebut, orang akan kehilangan gairah atas pribadinya. Apa yang dialami kita mungkin banyak mengahasilkan kebisingan pasar tanpa pengertian kebaikan apapun pada diri kita.

Menjadi manusia  Soliter atau sendiri bukanlah penentangan akan pluralitas dan keabsolutan ego, tetapi inilah masalah ketika dikaitkan dengan moderenitas dengan antroposentrisme nya yang menempatkan kembali kepada manusia walaupun terkadang hal ini justeru bebas nilai, semua perhitungan harus dilalui dengan epistimologi rasional. Seni kebudayaan kita pada masa moderen memang menumpulkan apresiasi gairah pribadi, Nietzsche mendorong sikap kontra pada seni pada zaman “melempem” saat ini, jika tidak maka hanya tumpukan abu buka api semangat yang diwarisi. Gerakan seni adalah menghidupakan kembali arte yunani, Virtu Renaissance dan sosok layaknya “Zarathustra”. “agama, filsafat dan moral kira hanyalah sasmita dekadensi manusia. Gerakan-kontra: seni” begiru ucapnya Neitzsche tulisan Dew Willer Zur Macht nya.

Dengan dibangunya semangat kebudayaan dalam seni maka jiwa pribadi akan bebas untuk menalar daya kreatifnya. Dengan sendiri seni membangun masa nya begitu juga moderen yang kering masukan akal budi. Tetapi dalam hal ini seni tidak lah sekedar seni, dia (seni) harus mewakili jiwa bebas yang kreatif tanpa kungkungan, sehingga akan banyak melahirkan seperti zaman Renaissance seperti kelahiran venus karya Sandro Botticelli (1444-1510) seorang pelukis dari Firence, venus tidur karya Giorgione (1478-1510) dari Venesia. Memang Neitzsche selalu meletakkan tangan kirinya dahulu sebelum menyapa, artinya kritiknya pada zaman moderen tidak hentinya, menurutnya dalam kebudayaan moderen musikalitasnya kehilangan ritme musikal yang menggairahkan “kehidupan untuk hidup”. kehidupan stick orkestra telah direbut oleh aktor dari tangan “Konduktor”. Untuk situasi di indonesia St. Sunardi memberikan gambaran “gamelan sudah terlalu mahal karena direbut oleh aktor untuk memagari pagar istana”.

Memang situasi moderenitas hanya menhasilkan konfrontanitas ya dan tidak. Kebebasan telah terlembagakan, perputaran situasi saat ini menyebabkan dinamika seni dan manusia-manusia Soliter bergerak ke gerumunan pasar untuk memuaskan kepuasan kekuasaan dan aktor pemeran tunggal bukan lagi kepada hidupnya. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa pada abad 20 saat ini masih bagian dari kelajutan abad 19 dimana, kebudayaan musik masih terjebak pada instrumentnya yaitu irama bukan pada “manusianya” dalam hal ini musik “romantis dan nasionalistik” hanyalah pelarian hidup tragis yang Khaotik. Zaman moderen sedang gemparnya meproduksi romantisme sebagai bahan konsumerisme “pasar” bukan memberi tuntunan kepribadian untuk menjadi Soliter membela jiwa raganya untuk lebih kreatif. Hal ini sama saja dengan opera ramai diluar tetapi senyap di dalam. Zaman merupakan wadah Produksi Kebudayaan itu istilah Pierre Bourdieu lebih tepatnya demikian.

Pribadi yang bebas merupakan bentuk penghargaan yang menggugah bukan saja memutus nalar pasar yang mengharu biru namun senyap akan tetapi perilaku kreatifitas unggul berasal dari penghayatan sepenuh hati akan adanya keberanian memutuskan. Karya merupakan kehendak berkuasa dalam hanya bukan mengakusisi semua kehendak banyak tetapi menjadi Solitariat merupakan kehendak banyak yang seharusnya mampu dilahirkan oleh diri yang unggul. Hal ini pernah dibuktikan di abad 19 dengan mempertaruhkan situasi yang sebenarnya masih penuh perdebatan tetapi lingkungan demikian justeru menjadi gua-gua sepi untuk para soliter memikirkan dan merumuskan pembangunan. Menang kita saat ini masih terjebak “generasi strawberry” yang serba romatis yang hanya mau manis entah dari kekuasaan ataukan bentuk hasil pemikiran utuh. Yang pasti pribadi bebas mereka yang berbudaya .



------------------------------------------------------------
Penulis: Mahesa Saswita
(Koordinator Sofis Academia Jakarta)