Pengaruh "Bully" Bagi Masa Depan Remaja
Cari Berita

Advertisement

Pengaruh "Bully" Bagi Masa Depan Remaja

29 Jul 2016


Belakang ini, kita tak asing mendengar istilah baru dalam perbincangan atau obrolan di dunia maya (internet). Netizen punya cara tersendiri dalam mempergunakan istilah, pada saat mengaktifkan perangkat dan akun media sosial miliknya. Seperti di Facebook, Twitter, Youtube, Instagram dan sebagainya.

Bully menjadi salah satu istilah dari banyak ucapan yang dipergunakan untuk "memberondong" seseorang melalui komentar di sebuah akun media sosial. Karena itu, apakah "membully" akan berdampak positif bagi masyarakat pengguna jerjaring sosial maupun keterbukaan informasi publik?

Pertanyaan berikutnya, apakah "Bully" juga berlaku di kehidupan sosial sehari-hari? Lalu apa saja yang bisa dikategorikan ke dalam bully itu sendiri. Nah, secara umum "Bully" sebenarnya bermacam-macam dan terbagi empat yakni bullying fisik, bullying sosial, bullying verbal dan cyber bullying (seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini).

Ternyata, dari survei yang dilakukan Latitude News ada 40 negara dengan permasalahan "Bully" terbesar, terutama cyber bullying atau kita kenal bullying dunia maya. Selain Jepang diurutan pertama, Indonesia masuk nomor dua disusul Kanada dan Amerika, serta Finlandia diurutan kelima dari lima besar kasus cyber bullying di dunia.

Terdapat pula anak-anak dan remaja yang memanfaatkan akun jerjaring sosial dengan pengertian yang salah, dan Indonesia menjadi pengguna akun jejaring sosial tertinggi, yaitu Facebook dan Twitter terbanyak dalam hal kasus "Bully" anak-anak serta remaja.

Cyber bullying bisa berdampak buruk. Hal ini dialami korban pengguna akun jejaring sosial, terlebih remaja. Seperti sulit membangun kepercayaan diri, pesimistis, depresi (stres) dan lain-lain.

Selain dampak traumatik korban akan merasa kurang nyaman dengan lingkungan sekitar, bahkan menjauhkan diri dari keramaian dan rangkulan keluarga.

Beban  psikis dan perlakuan yang dialami oleh remaja korban bully, berpengaruh bagi masa depannya. Karena belum mampu mengontrol emosi secara dewasa, bahkan cenderung memberikan pandangan sendiri dalam menyikapi relasi antar Netizen.

Disamping segi negatif terhadap perkembangan remaja, cyber bullying akan menimbulkan aspek pelanggaran hukum. Apabila tidak mencermati ketentuan yang berlaku sesuai tertera didalam Undang-undang informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) nomor 11 tahun 2008, yang mengatur tentang informasi dan transaksi elektronik atau teknologi informasi.
 
Meski bullying tidak diperbolehkan, bahkan dapat melanggar hak asasi dan hukum. Pentingnya pengawasan oleh orang tua maupun guru harus dilakukan secara optimal. Sehingga sanggup mewadahi terciptanya suasana yang nyaman dalam penggunaan internet di kalangan remaja. 

Penulis : Heri Kiswanto
(Pegiat indikatormalang.com)