Masyarakat Terbuka dalam Pertaruhan Ideologis di Indonesia
Cari Berita

Advertisement

Masyarakat Terbuka dalam Pertaruhan Ideologis di Indonesia

10 Jul 2016



Karl Popper (2006) mengutarakan tentang masyarakat terbuka, menurutnya gagasan dalam masyarakat terbuka mereka telah mampu menggunakan nalar akal budi dan pengetahuan dalam mempertimbangkan perubahan-perubahan. Pengetahuan sifatnya tidak berhenti dan selalu berkembang berdasarkan dinamika masyarakatnya. Di dalam masyarakat terbukan sekat untuk mendiskusikan hal- hal yang kritis harus dilakukan untuk menjamin kelangsungan pengetahuan mengenai nilai, rasionalitas, mekanisme pengetahuan yang telah mapan sebelumnya.

Masyarakat terbuka memunculkan multikulturalisme, dimana persemaian kepercayaan, nilai-nilai dicoba disejejarkan agar berjalan dialektis. Kecenderungan masyartakat terbukan untuk menerima sesuatu yang baru merupakan keniscayaan yang tak ubahnya mendesak untuk dilakukan. Demokrasi merupakan bagian dari praktek diterimanya ideologi yang tak berakar secara politik praktis di indonesia hanya bisa dilacak berdasarkan sejarah dan antropologis lah kenapa demokrasi kemudia dirasakan cocok, di dalamnya kemudian titik temu coba dibangun agara masyarakat bisa sepaham dengan apa itu demokrasi (McVey:1996). 

Masyatakat terbuka lebih mementingkan toleransi dan rasionalitas akan sisi kehidupan, tetapi pada dasarnya rasionalisasi pada budaya justeru mematahkan beberapa unsur nilai yang lain misalnya kedudukan perempuan, rasionalisasi kultural pada gilirannya membuat perempuan perempuan mengidap suatu jaringan rasa ketakutan mencekam. Umar Kayam (1995) rasionalisasi sistem Feodal Aristolratik telah menetapkan perempuan untuk memiliki peran “penjaga nilai-nilai adiluhung “ di dalam rumah. Toleransi dengan kesadaran total dari praktek agama dari tekstual ke konstekstual memberikan sumbangan kesadaran tersendiri sekaligus memunculkan fusidari mereka yang menentangnya.

Masyarakat terbuka dan kenyataanya di indonesia merupaka persoalan yang berbuah diskursus tersendiri, keterbukaan masyakat juga belum tentu disusul oleh keterbukaan berbagai hal misalnya budaya dan politik. Sejarah bangsa ini menyebutkan proses akulturasi memang memunculkan suatu kelompok sosial saat perdagangan berlangsung akan tetapi kenyataan lainya tidak dengan pergeseran nilai-nilai dan pedoman politik nusantara pada saat itu untuk tetap bersikap pada sepakat. Masyarakat terbukan memang menggunakan konsensus sebagai wadah guna menyambungkan keperluan membuka jalan pendangan baru. Namun, nilai-nilai bersama yang dilihat oleh kaum fungsionalis sebagai pemersatu bukanlah hasil hasil konsensus yang sesungguhnya. “Konsensus” tersebut merupakan ciptaan dari kelompok atau kelas dominan untuk memaksakan nilai-nilai aturan mereka terhadap semua orang lewat unit-unit sosial keluarga, negara, agama, dan sebagainya (Dahrendorf; 1959).

Masyarakat tebuka juga membutuhkan sokongan dalam hal ini ideologi berdasarkan kemauan keras menerima perbedaa sekaligus menanamkan perbedaan pada yang lainnya. Ideologi dalam pengertian ini dipahamai sebagai “kepercayaan, makna , dan tindakan yang kita pikirkan dan lakukan”. Idi Subandy Ibrahim (2007) mengatakan ideologi selalu hidup dalam konflik, ideologi tak akan eskis tanpa dihadapkan pada ideologi lain. Itulah sebabnya untuk mempertahankan suatu kekuasaan dan rezim yang korup selalu mencari kambing hitam ideologi untuk membinasakan  lawan-lawan politiknya. Kasus di indonesia ideologi juster menjadi peperangan hebat, terkuburnya komunisme oleh penumpasan 1965 Orde Baru mengakhiri abad pemikiran Marxis Stalin (Komunis) dan berganti Demokrasi yang dikehendaki akan mewakili keterbukaan sepenuhnya. 

Masyarakat terbuka dan wacananya merupakan pancangan ideologi yang mencoba merobohkan kalangan masyarakat yang tertutup dengan mengandalkan kekuasaan. Masyarakat terbuka juga tidak lepas dari apa yang dinyatakan oleh Karl Manheim dalam bukunya Ideologi dan Utopia nya juga bisa menyebabkan kehancuran sisi yang lain jika ditempatkan oleh golongan-golongan tertentu sebagai pembeda. Masyarakat terbuka juga tak bisa memungkiri walaupun tidak menonjolkan sisi penerapan radikal pada pembentukan  kosep terbuka tetapi tak bisa dipungkiri juga menutupi dan menumbangkan kelopok yang masih berpegang pada nilai yang cukup konservatif.

Pada nyatanya praktek menuju masyarakat terbuka juga diimbuhi oleh pengaruh ekonomi politik, yang didalamnya komoditas, Trend Popular Culture dan ekonomi terbuka berkalamin Neoliberalisme juga bercokol sebagai pendorong yang justeru dikehendaki untuk diterima secara “sadar” oleh masyarakat indonesia sebagai respon rasionalitas, kemajuan keilmuan yang menerobos nilai-nilai tanpa sadar juga menhancurkan sendi budya kita sendiri. Jika kita hendak menolak model masyarakat terbuka semacam ini cap sebagai bangsa tertinggal dilekatkat secarav politis. Tanpa sadar masyarakat yang dinyatakan oleh Popper justeru dipraktekkan secara salah. Masyatakat terbuka pad nyatanya sangat perlu di dalam kehidupan masyarakat indonesia, walaupun dalam beberapa perhitungan juga harus bisa menjelaskan apa yang harus dibuka. Masyarakat yang menerima secara budaya dengan nilai-nilai adiluhungsudah sejak lama dipraktekan di dalam bangsa ini, tinggal bagaimana mencari format baru konsep masyarakat baru bukan lah ajang saling menjatuhkan dan menyalah atas dasar rasionalitas yang tak beradasar nilai-nilai norma kehidupan bangsa indonesia. 


Penulis : Milki Amirus Sholeh
(Sekjen Civil Society Network Jakarta)