Idul Fitri dan Rebiosasi Perdamaian
Cari Berita

Advertisement

Idul Fitri dan Rebiosasi Perdamaian

10 Jul 2016

Perayaan lebaran telah berakhir, ummat islam merayakan dengan berbagai macam cara menyambut perayaan penting 1 Syawal ini. Idul Fitri merupakan momen dari sebuah ornamen  kebudayaan di mana manusia satu dan lainnya saling berusaha meniadakan pangkat jabatan dan status sosial dengan kesimpulan maaf dan memaafkan. Istilah saling memaafkan tidak hanya diartinya bagaimana menjaga hak-hak atas tuhan-Nya tetapi juga hak-hak atas hamba-Nya. Memaafkan merupakan peniadaan secara sadar atas pribadi yang salah, keliru, dan melanggar. Kata maaf sebenarnya senarai dengan aforisme Alfred Lord Tennyson (1892) “Tidak sekedar berbuat, lalu mati. Tapi,  Anda mesti tahu ! Mengapa?”. Pada kenyataanya lupa dan khilaf lebih besar dari kesadaran murni yang dijadikan rujukan pengambilan keputusan penting dalam hidup bagi manusia. Egosentrisme yang dijadikan pandu bisa jadi menjadi hal penting yang menjadikan baik, namun justeru dijadikan berhala yang semakin kokoh sulit qonaah atau sedekar tunduk pada kemanusiaan.

Idul Fitri dan peristiwa saling memaafkan hanyalah bagian kecil dari usaha membenahi perkara pribadi dalam diri manusia. Yang mana usaha itu juga harus terus dirasakan tidak hanya pada konteks mikro (pribadi dan keluarga) tetapi juga harus kearah makro (politik, sosial dan budaya). Memaafkan hanya mampu dilakukan oleh mereka yang benar tau ajaran agama dan cinta pada tuhannya. Konteks memaafkan pada aspek sosial lebih menjadi pekerjaan rumah yang cukup dianggap “gagal” setiap tahunnya, di mana lebaran masih terlihat aspek kealehan sosial terbengkalai misal kebersial dari koran bekas sholat Eid yanf berserakan atau ulah ekstrimisme atas nama agama yang masih bercokol. Bom bunuh diri belakangan marak terjadi, apa yang terjadi di bandara internasional Attarturk Tukri yang menewaskan 42 orang, bom bunuh diri Madinah Arab Saudi dengan 5 korban tewas, atau haraqiri konyol dengan meledakkan sambil bunuh diri di kantor Polisi Resort (Polres) Solo Jawa Tengah, menimbulkan dengung di kepala kita apa yang kira mereka anggap  salah atau salah apa yang kita idap. Tentu hal ini sangat subjektif jika kita paksakan dijawab. 

Masih terasa rupanya bahwa terkadang salah tafsir dalam paradigma justeru merupakan alasan kuat untuk mengeksekusi mati dari pada salah yang diakibatkan oleh fisik. Kesalahan paradigma dalam menafsirkan pesan kebaikan agama dibunuh oleh dorongan kuat akan hasrat politik yang disandarkan oleh pesan-pesan tuhan yang dibelotkan (ISIS). Ekstremisme telah membacakan kebaikan secara terbalik, hingga perkaran memaafkan hanya dipat ditempuh dengan cara memusnahkan. Dehumanisasi bukanlah prodak ajaran agama atau dijalankan oleh penganut agama yang baik, di dalamnya merupakan kebencian atas nama perbedaan dan saling perebuatan kebenaran. Khaled Abou El-Fadl ada benarnya “kebenaran jauh lebih berbahaya ketika didapat dari pada saat dicari”¸ maka maaf bagi kaum ekstremis hanyalah utopia yang difahami secara sempit dan terkoptasikan bagi golongan tertentu saja. Pengeboman di lingkungan masjid Madinah, di mana masjid tersebut menjadi lokasi paling vital bagi umat islam. Sayyed Hossein Nasr dalam makalahnya yang berjudul panjang, The Contemporary Muslim and The Architectural Transformation of the Urban Environment of The Islamic World menyebut “Lingkungan luar yang diciptakan manusia untuk dirinya sendiri tak lebih dari satu cerminan keadaan batinnya”, pengeboman di areal tempat suci menjadi indikator pelaku miskin batinnya.

Gilles Kepel, The Revenge of God: The Resurgence of Islam, Christianity, and Judaism in the Modern World menyatakan bahwa identitas keagamaan telah mengalami perubahan luar biasa antara tahun 1975 hingga kini. Kita bisa melihat fenomena mutakhir mengenai terorisme yang dikaitkan dengan agama. Gerakan ini muncul di dunia yang telah kehilangan kepastian akibat kemajuan sains dan teknologi sejak tahun 1950-an. Seiring dengan kendala kemiskinan, penyakit, dan kondisi pekerjaan yang tidak manusiawi, ledakan penduduk, penyebaran AIDS, polusi dan krisis energi yang merebak ke permukaan. Semua momok ini membuat manusia ingin kembali bersandar pada penjelasan-penjelasan apokaliptik.

Pembelaan yang tak berdasar hanya akan menyebabkan perseteruan dan perlombaan yang sering tidak masuk akal yang didorong obsesi politis oleh golongan-golonan tertentu. Semangat Idul Fitri semakin kehilangan fitrahnya dengan kemajuan teknologi serta perubahan sosial yang diakibatkanya. Di mana Idul Fitri masih dianggap seremonial hanya untuk eksistensi umat islam dan isu silaturahmi yang kian dimaknakan sempit, harusnya isu kepedulian lain dan peratian penting tidak tertanggalkan, yang mana radikalisme atas nama agama masih mendapatkan tempat di bulan ramadhan dan menyisakan kepedihan mendalam saat Idul Fitri.

Maaf merupakan jembatan yang di dalamnya ada dialog interaktif guna membangun hubungan baik dan penyubur nilai-nilai kedamaian. T.K. Oommen,sosiolog asal India dalam bukunya Religion as Source of Violence misalnya, menyimpulkan dalam penelitiannya terhadap semua agama besar dunia, termasuk Islam dan hindu bahwa kekerasan agama bukan hanya disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti ekonomi, politik, dan psikologi, tapi juga karena agama sendiri menyediakan rujukan yang cukup banyak untuk perilaku semacam itu. konsep memaafkan semestinya pula juga berusaha mendamaikan penafsiran yang gagal dan mesti dikenal lebih ramah. Selama ini, perdamaian menjadi doktrin yang tak terpikirkan (allamufakkar fihi). Perdamaian dipahami sebagai “doktrin langit” yang hanya dimiliki Tuhan belaka. Tuhan disebut sebagai pencipta kedamaian, sedangkan manusia adalah makhluk yang ditakdirkan untuk berperang dan bermusuhan. Ironisnya, berperang atau berjihad dianggap sebagai perintah Tuhan yang paling otentik untuk menyelesaikan problem kemanusiaan. Doktrin yang kontradiktif. Di satu sisi Tuhan disimbolisasikan sebagai pembawa kedamaian, tetapi di sisi lain, Tuhan juga mengajarkan pada peperangan (Mizrawi;2002).

Ada sejumlah masalah yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan konteks maaf dan memaafkan. Pertama, masih terjebaknya pemahaman bahwa maaf hanya soal perkara salah antar individu dan selesai dalam perkara kata tidak juga dimanifestasikan dalam dimensi kehidupan lainnya. Kedua, perkara maaf masih dianggap kewajiban sesama kaum tertentu sehingga masih ditemukan saling salah faham. Ketiga, masih ditemukan pemahaman bahwa maaf hanya sebatas terpokus pada ritual seremonial pasca ramadhan. Ketiga kendalam ini menurut penulis begitu kentara dirasakan hingga detik ini. oleh karena itu, perlu upaya yan lebih serius bagaimana sebenarnya menfungsikan “maaf” sebagai sarana dialog antar individu ke dialog lebih luas menuju pewujudan perdamaian itu sendiri.

Maka dari itu, maaf dan memaafkan harus ditafsirkan dari sekedar perilaku yang seremonial pada tataran yang lebih filosofis. Karena pada kenyataanya seseorang yang berani memaafkan demikian mereka yang mengerti dengan baik ajaran agamanya. Pengeboman sebelum Idul Fitri merupakan manusia yang secara langsung dinyatakan gagal memaafkan dirinya sendiri dan berani memaafkan orang lain, karena memaafkan secara baik ialah memelihara bukan memusnahkannya.  Idul Fitri kali ini terasa begitu berbeda, harusnya kemenangan ini dirayakan dengan bahagia, namun akibat ulah saudara kita terjebak dalam sudut pandang sempit, kata maaf sungguh kian terasa jauh dan hanya melahirkan kutukan semata, sayang.




Penulis : Bayu Setiawan
(Koordinator Forum Muda OPSI+ 47 Ciputat)