Baldatun tayyibatun
Cari Berita

Advertisement

Baldatun tayyibatun

29 Jul 2016



I

Tertulis di nisan putri maimun
11 abad kita berbalut berkah
Dari lalim menjadi beradab
Dari beradab menjadi terididik
Dari tedidik menjadi pemipin

Lautan adalah layar terkepak
Awan bak semilir tarikan tasbih
Angin hembus syukur swarna dwivva
Manusia kita tersenyum bersama

Tak kurang-kurangnya
Gemah ripah loh jinaweh kita punya
Suku hidup di sendawa desa teduh dan cerah
Ladang dan kebun penuh hikmah

II

Jangan ada dusta diantara kita
Sampai cerita kita terkah bersama
Diantara dongen para tetuah
dan cerita orang cendikia

malam lekas gelap
tapi hati kita harus terang adanya
siang silau cahayanya
tapi kita tak boleh terpukau dan lupa bekerja.

Ladang-ladang kita tersohor seantero belanda
Memuntahkan biji hidup dan butir mati
Mengalirkan emas dan minyak di mana-mana
Hingga kita hampir lupa pada diri kita

Pemuda dan wanitanya menjadi perbincangan tokoh bangsa
Anggun dan sopan cintraan baik melati bangsa
Jangan ada dusta lagi diantara kita
Hingga kecantikan terjuan sebagai ganti bangsa

III

Sudah terlalu dewasa untuk menjenaka
Arifkah kita untuk menjaga ini semua
Sebelum angkara murka bermuka eropa datang kedua kalinya
Dan mengambil emas anting milik tetua kita

Bijaksanakah kita untuk merendah
Setelah congkak ditontonkan sebagai pelepas dahaga
Dan lupa dimana kita telah memulai semula
Hingga ditutup dengan jual berharga milik kita

Jangan ada kebencian diantara kita
Pembunuhan ribuan manusia
Persengkataan tanah
Judul dari hitungan dekade kita

Menguras habis amal ibadah
Menuntaskan air tangis taubah
Mengganti baris geram gigi geraham
Saling sikut tidak lupa sedikit baku hantam

IV
Jujurkah kita Jika selama ini menelan ludah kita
Sambil lalu menunjuk salah dari sana dan sini
Dan lupa koreksi jejak tingka langkah kita
Hingga menjadi antagonis baru yang sama tingkah nya

Atau sudah lukisan jarah menjarah
Menjadi hiburan untuk wisata fantasi ketakutan nostalgia belanda
Gadai menggadai urusan ummat
Seperti berbicara subtansi hilang esensi
Dipentaskan bertubi-tubi
Lewat pentas atraksi bergengsi di televisi

V

Celakalah kita
Tetua kita goyah menyaksikan anak cucunnya
Hormat kebangsaan di pinggir jalan
Sambil lalu memarkan hasil jiplakan rumusan budaya baru miliknya

Hantarkan semua paceklik bangsa ini
Dengan syukur dan sujud
Sambil berusaha menjaga  lumbung-lumbung harapan itu ada
Bukan untuk siapa tapi demi cerita yang hendak diteruskan esok jua




Penulis:Aryadhuta Wicaksana

(Pegiat Sastra Famplet Bandung)