Puasa, Piala Eropa dan Semangat Multikulturalisme
Cari Berita

Advertisement

Puasa, Piala Eropa dan Semangat Multikulturalisme

20 Jun 2016

Menikmati identitas nyatanya sebuah kesadaran apologetik ditengah pertentangan dan retas budaya yang semakin tipis. Saat Piala Eropa 2016 bergulir bertepatan dengan hari di mana umat islam juga melanggengkan euporia bulan ramadhan sebagai jalan pengasihan dan ampunan. Puasa dan Piala Eropa memang tidak berhubungan langsung, dua fenomena ini mempunyai pengertian yang khas. Jadi jikalau ada pikiran bahwa piala eropa ditumpahi dengan pemikiran konservatif peri-peri bahwa ada upaya barat untuk melemakan ibadah puasa umat islam dengan menayangkan piala eropa tepat bersamaan dengan bulan puasa, suatu pemikiran yang sedikit sempit melihat bulan puasa tidak hanya dimiliki oleh manusia non eropa yang sedang dilanda demam Piala Eropa. Ada sebagian warga muslim sedang berjuang sebagai pemain atau pendukung sambil lalu berpuasa dengan mempertaruhkan negaranya yang nyatanya bukan negara mayoritas muslim, misal Paul Pogba (Perancis), Mezut Ozil (Jerman), Maroune Fellaini (Belgia), Taulant Xhaka (Albania), Stephan El-Shahrawy (Italia), Xherdan Shaqiri (Swiss), Zlatan Ibrahimovis (Swedia) dan pemain lain yang diembankan nasionalisme di pundaknya. 

Seharusnya umat islam juga melihat bahwa dalam pentas Piala Eropa semangat multikulturalisme dalam sikap politik dan budayanya benar dihidupkan. Setelah jazirah arab terkoyak rahim peradabannya, dan melahirkan totalitarisme kepemimpinan dan ashabiyah nan radikal menggoyak kemanusiaan, justeru eropa lah negara yang justeru menengadahkan tangannya walaupun tidak semuanya dikarenakan persoalan isu ekstradisi ekstrimis dan aksi teror bom yang marak di konflik arab. Walaupun demikian eropa memahami benar hutang sejarah dan resiko akan semangat politik untuk saling terbuka akan kemanusiaan. Semangat multikultralisme apa yang dipraktekkan barat hari ini tidak lain merupakan cerminan dari gagasan kelompok liberal demokrat dalam mempromosikan kesamaan etnis dan tidak rasial. 

Apa yang didambakan umat manusia tidak akan berbeda yaitu ingin hidup nyaman dan damai, namun kenyataan politik dan identitas yang menegang diantara berbagai kelompok etnis, budaya dan agama makin mengkusutkan titik temu dalam merangkai tujuan tersebut. Multikulturalisme seperti apa yang dinyatakan Chris Barker seperti dikuti Trias Kuncahyono (Kompas/19/06/2016) ialah upaya menunjukkan toleransi kepada berbagai keanekaragaman praktik-praktik budaya dalah konteks negara dan bangsa. Multikulturasi tidak hanya berbicara hibridasi tetapi perkumpulan identitas yang saling mengisi tanpa sikap dominan pada satu sisi lainnya. Piala eropa merupakan kaca pembanding di mana muslim dan nom muslim, negara Balkan bisa berbaur negara bangsa Nordik, kulit hitam dan putih atau sejarah antar negara pasca Perang Dunia II tidak lagi menjadi hambatan. Hal ini merupakan rasioalitas yang dipilih bahwa adanya multikulturalisme tak lain pengakuan akan postmoderenisme, di mana menurut Ricard Rorty (1980) bahwa setiap filsafat dan kerja rasional tidak perlu diberikan privilese dan ini berlaku pada multikultutalisme. 

Multikultaralisme tidak akan mendarat lembut, banyak hambatan yang dipikulnya di mana kerentanan kelompok lama terdominasi, persaingan kelompok menegang atas perbedaan budaya, kandasnya budaya luhur. Namun, eropa sebagai negara yang secara alami tumbuh tidak dari suku asli, di mana setiap bangsa eropa tersebar berdasarkan wilayah yang kemudian hari ini dibatasi oleh wilayah yang berbeda politik. Ini kemudian, bisa ditilik saat perhelatan Piala Eropa 2016 yang mana negara Perancis sebagai tuan rumah menjadi saksi saat suporter fanatik (Ultras) Inggris dan Rusia bentrok di Vieux Port dan Stadion Veldrome Marseille, pembentangan spanduk “Neo Nazi” oleh suporter Spanyol atas pendukung Turki menjadi hambatan tersendiri bagi penegakan multikulturalisme yang tengah berlangsung. 

Amin Maalouf dalam The Name of Identity merefleksikan pandangannya dengan sikap berlebihan yang sering perdebatkan dalam melihat identitas kebudayaan, agama, dan manusia. Kecenderungan kita menaruhkan agama di atas kebudayaan dan manusia. Hasilnya, kita sering menunjuk satu pembenaran tanpa kebenaran. Dalam kaca masyarakat islam dengan pola pikir sempit, akan melihat bahwa Piala Eropa merupakan pesta yang penuh mudharat, atau bentuk tidak menghargai atas umat islam di bulan puasa. Tetapi kerangka pikran ini justeru akan jadi permasalahan. Fernand Braudel mengasumsikan setiap sejarah berjalan dengan pola syncrhonics (ketersambungan) dan diachronic (keterputusan), di mana beberapa abad silam telah berlangsung sebuah ornamen kebudayaan islam di eropa, pada tiap momen sejarah terdapat berbagai ekspresi peradaban Islam yang saling berbeda dan tidak pernah sama, walau tetap dihubungkan oleh warisan simbol, khasanah tradisi, dan keyakinan khas. Inilah mengapa pelanggar asas multikulturalisme di barat adalah masyarakat yang tanpa sadar menyepakati keterputusan sejarah (minoritas) seperti perlakukan pendukung tim Spanyol atasn Tim Turki. walaupun peran kerajaan islam di Cordova Spanyol lewat Dinasti Ummayah begitu kentara dalam pembentukan budaya dan arsitekur negara eropa selatan tersebut. Di samping itu, bagi para pengkritik tentang perehelatan Piala Eropa, mungkin harus melihat bagaimana mana potret terbalik arab secara khusus di mana pernah berlangsung peradaban keilmuan dan masyarakat inklusif namun berganti dengan negara bangsa yang begitu tertekan akan konflik yang tak berkesudahan.

Multikulturalisme merupakan ornamen sesungguhnya di Indonenesia yang seharusnya harus didirikan melihat kemajemukan kultur dan agama yang mengisinya. Akan tetapi, permasalahan intoleransi yang sejatinya prodak dari multikulturalisme masih jauh dari kenyataan. Keberadaan bangsa kita yang menepi dan berkumpul denan berbai’at untuk kemudian berhimpun menjadi suatu negara merupakan semanagat yang justeru tidak ditemukan dalam pendirian negara-negara eropa di mana kebanyakan dimulai dari tindakan penaklukan kerajaan yang kemudian mencair. Di tambah lagi, mayoritas warga negara umat islam masih terjebak dalam istilah agama yang mengarahkan pada pandangan sempit seperti jihad yang diartikan sempit. Padahal sejumlah khazanah islam dilihat dari statistik kehidupan Nabi Muhammad bahwa, dari 8880 hari masa kenabian hanya 80 hari yang digunakan sebagai perjuangan beliau di medan perang sebagai bagian bentuk jihad selebihnya berkelut dalam perbaikan masyarakat yang multi kultur dan agama agar berkehidupan damai. 

Multikukturalisme melahirkan toleransi yang mana digunakan komunitas hidup dengan wacana lokal dan dengan rasionalitas lokal masing-masing yang selama ini sudah "jalan" sebagai bentuk kehidupan yang diakrabi, menjadi custom atau tradisi. Malahan kerja ilmiah sebenarnya juga "tradisi" semacam itu dengan "rasionalitas lokal" masing-masing yang oleh Kuhn disebut sebagai "paradigma". Juga di antara paradigma ilmiah sebenarnya perlu ada toleransi yang oleh Feyerabend dikalimatkan menjadi anything goes (Lakatos and Musgrave, 1970). Menurut Choirul Mahfud (2005) secara teoritik, multikulturalisme mengandaikan adanya kesadaran internal yang inklusif dan mengejawantah dalam perilaku sosial. Ritual puasa, idealnya mengantarkan para pelakunya menemukan kesadaran hati nurani yang bersifat universal sehingga memiliki daya pandang egaliter terhadap sesama. Sebuah kesadaran yang mengikat kecerdasan emosi seorang hamba dengan Tuhannya dan menjadi landasan bagi terbangunnya kecerdasan relasi-rasional antar-sesama. Maka refleksi-esoteris dan kesadaran-eksoteris harus tumbuh sebagai manifestasi dari proses internalisasi nilai-nilai ketuhanan yang berlangsung selama Ramadhan. Inilah sebuah proses yang oleh filosof Kierkegaard (1813-1855) disebut sebagai proses dari aesthetic stage menuju religious stage. Maksudnya, puasa bukan sekadar firman (perintah) yang bersifat personal, tetapi juga amal (aktualisasi) yang bersifat sosial. 

Apa yang dilakukan oleh Paul Pogba dkk yang beragama islam, di mana puasa seharusnya tidak hadir di saat perhelatan sepak bola yang menyedot tenaga dan dahaga, apa lagi instruksi ketat pelatih yang begitu memaksa berlatih saat haus menjadi beban. Serta menjaga sabar di antara kawan satu tim berbeda agama yang justeru bisa minum atau makan kapanpun. Rasa puasa yang dialami mereka justeru lebih berat dari apa yang kita pikirkan saat ini mengenai ujian Piala Eropa yang serba tak masuk akal atas ibadah puasa kita. Di samping itu, rasa mengalah dan toleransi akan perbedaan mereka yang ditunjukkan tanpa harus menegur dengan keras. Pikiran universalis dalam para pemain muslim di Piala Eropa mereka telah dirancang menghadapi tekanan yang justeru bukan dari luar dirinya tapi datang langsung dari dirinya. Pirikan universalis inilah yang seharusnya subur bahwa realitas dan waktu berbeba juga membentuk karakter dalam ber-paradigma. Piala Eropa telah mementaskan di mana muslim eropa lebih egaliter dalam menapaki pikirannya, hingga hari ini pun belum terdengar kabar peristiwa pemain dan pendukung muslim sejak bergulirnya Piala Eropa melempar “suar” dan “petasan” akibat diskriminasi dan godaan atas puasa yang mereka jalankan. Suatu fenomena amat langka di negera kita. 

Penulis : Melqy AS
(pegiat Civil Society Network (CSN) Jakarta)