Meng-Islam-kan Puasa
Cari Berita

Advertisement

Meng-Islam-kan Puasa

14 Jun 2016

Kata di atas tidak berupaya mendekonstruksi pemaknaan puasa sebagai mana umum diterima oleh kalangan umat islam. Juga tidak upaya mencampur adukkan antara puasa sebagai isi dari ajaran islam itu sendiri. Islam dalam etimologi sederhananya berasal dari kata aslama yang berakar pada salama. Kata islam merupakan masdar (infinitif) dari kata aslama yang berarti keselamatan juga bisa penyelamat atau menyelamatkan. Meng-islam-kan puasa tak lain proses reinventing puasa atau menyelamatkan untuk meluruskan lagi pemaknaan puasa bulan Ramadhan ini. Di mana dalam kaca mata penulis, masyarakat kian terjebak pada bentuk pemujaan bulanan dan seremonial khas periklanan. Di mana pemahaman citra kosmologis puasa dicampur adukkan dengan masalah populer tentang gaya hidup dan konsumsi. 

Parahnya lagi, ibadah puasa sebagai “pembakaran” semua bentuk tindakan diskriminatif, hegemoni dan keliaran hasrat pasar justeru seakan masih disediakan tempat di bulan penuh rahmat bagi agama Islam. Tindakan pengamanan bulan puasa yang harus dibarengi dengan perlakuan dalam bentuk kesalehan sosial tidak muncul. Penutupan secara paksa kedai makanan kaki lima di bulan puasa tanpa rasa asih oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) beberapa waktu lalu ialah bentuk yang apa dikatakan oleh Arkoun (2002: 285) Pembiaran atau pengabsahan terhadap pola-pola represif. Hal tersebut akan menjungkirbalikkan realitas kebenaran yang hakiki. Masyarakat akan terperangkap dalam kepalsuan pengetahuan yang oleh Arkoun sendiri disebut instutisionalized ignorance kebodohan yang melembaga. Mereka akan digiring kepada semacam aksioma bahwa kebenaran itu hanya milik kelompok tertentu yang tidak boleh dipertanyakan kembali tentang hakikatnya (A’la; 2012). Menyelamatkan bulan puasa dari perilaku yang merugikan sekalipun objek masalah juga bisa dianggap tidak layak ada dalam puasa, juga disikapi dengan perasaan tunduk dan hanif. Bulan puasa di mana sebagai kawah candradimuka menempa manusia dari nafsu-nafsu al-ammarah menuju citra al-muthma’innah belum terlihat perubahan luasnya. 

Arkoun dalam The Unthought in Contemporary Islamic Thought menjelaskan point penting bagaimana instutisionalized ignorance tersebur terkait dengan pola kebijakan politik, sosial, dan agama yang membatasi ruang bagi berkembangnya kritisisme dalam masyarakat. pertama kekuasaan diciptakan dengan membentuk logosphere yaitu bidang mental linguistik yang menentukan sesuatu dapat dipikirkan (thinktable), dan apa yang dapat dipikirkan (untrought) dalam kehidupan ini dan hal ini dimiliki oleh kelompok tertentu dari agamawan, akademikisi, politisi dan kelompok lainnya. Abd Al’la menjelaskan apa yang dimaksud Arkoun bahwa sejumlah ide, nilai, eksplanasi, horizon suatu makna dan semacamnya dibuang, atau ditolak sehingga suara-suara dan bakat-bakat yang kreatif diabaikan atau harus dipinggirkan, serta tidak boleh ditoleh. Sedangkan pemikiran yang mendukung pandangan mereka dikembangkan dan diapresiasi. Pada saat yang sama, ide-ide hegemonik disebarkan dan dijadikan satu-satunya kebenaran yang tidak boleh dilawan, atau dibantah. Konstruk kehidupan dipolakan dalam suatu kerangka pemahaman ketat yang tidak memberikan ruang sedikit pun untuk terjadinya dialog yang kreatif. Pemikiran tersebut hanya dapat memuat satu pilihan, yaitu harus diterima, dan tidak boleh diperbincangkan atau diperdebatkan. Kondisi seperti itu membuat masyarakat dipaksa untuk menerima akal hegemonik tersebut sebagai sesuatu yang given. Pada gilirannya, jika hal tersebut berlanjut terus, maka masyarakat –sadar atau tidak sadar –akan menganggap hal tersebut sebagai semacam suatu ajaran yang harus dijalani, dituruti, dan tidak boleh dipertanyakan lagi dari berbagai dimensinya, ontologi, epistemologi, dan aksiologi. 

Menyelamatkan bulan puasa adalah ajang yang seharusnya menjadikan sisi relegiusitas yang terlanjur terpolusikan meminjam istilah Ali Asghar Engineer sebagai teologi pembebasan. Di mana kaum miskin yang tidak mampu membela diri akibat repsesi hegemoni kekuasaan yang terlanjur menutup suara kebebasan kaum tertindas sudah semestinya dibela. Proses historis juga sangat diperlukan dalam Islam. Engineer dalam Teologi Pembebasan-nya menjelaskan bahwa Sejarah bukanlah mitos, bukan pula suatu proyek arbitrer yang sama sekali tidak mempunyai kausalitas sosial. Al-Qur'an memang mempunyai pendekatan teleologis sebagaimana kisah nabi-nabi yang diceritakan dengan penggambaran yang jelas, tetapi kausalitas tidaklah diabaikan begitu saja. Kemurkaan Allah kepada suatu bangsa atau seseorang diberlakukan ketika mereka mengabaikan proses kausalitas sosial dan berbuat menyimpang dari sunnah-Nya, baik secara fisik (hukum alam) maupun moral (hukum-hukum etik yang mengacu pada hudud Allah dalam Al-Qur'an). Penegasan Engineer memaksudkan bahwa sesuatu permasalah tidak lepas dari di mana dia berada, lalu di manakah peran agama sebagai pembebas. 

Puasa harusnya menjadi pemprakarsa transformasi sosial, di mana signifikansi masyartakat sosial yang semakin terpolarisasikan kekuatan-kekuastan sosial. Puasa bukan pula idiom-idiom spiritualitas perkotaan (globalisasi) yang menutupi kesadaran untuk membebaskan belenggu meterial, di mana puasa meruapakan alat antithesa-nya. Menjadikan puasa sebagai alat analisis diri atas realitas, di mana sebuah realitas meruapakan hasil dari ¬–hasrat-hasrat rendah¬ dianggap sebagai ilusi dan realitas palsu (pseudo reality). Realitas palsu yang tersebar dalam tindakan yang jauh dari kata baik, di mana akan terbentuk suatu simuclarcum realitas, yaitu realitas yang telah menyimpang dari kehendak tuhan. Hasrat yang tidak bisa ditinggalkan dalam bulan puasa atau pun sesudahnya hanya menggiring manusia pada Culture of narcissism, di mana manusia mencari ketenaran, popularitas dan publisitas semata (Piliang; 2011).

Puasa sebagai bentuk sarana melatih diri untuk melihat diri pribadi secara sadar, berani koreksi dan memaafkan kesalahan pribadi yang jauh dari predikat baik. Tetapi puasa kita tidak akan begitu muda ter-islam-kan jika dalam spirtitualitas kita masih dikelilingi oleh polusi. setidaknya ada empat polusi spiritual yang diidap manusia moderen. Pertama, polusi mata atau polusi penglihatan sebagai akibat produksi berlebihan citra dalam media postmoderen. Hyper vission akan memunculkan permenungan tentang wacana media. Hal ini sangat merugikan mengingat puasa ialah situasi pemuasaan raga dan permenungan aku dan diriku bukan aku dan bagaimana diriku. Kedua, polusi kebendaan yaitu produksi berlebihan akan barang-barang di dalam masyarakat konsumer yang melampuai kebutuhan substansial. Belanja dan dorongan untuk memperbaharui kebutuhan primer merupakan kebiasaan yang justeru menguap di bulan puasa, promo dan diskon Mall seperti undangan untuk ajang memuaskan. Ketiga, polusi informasi yaitu kegemukan informasi akibat komunikasi dan informasi yang melampuai batas. Keempat, polusi gaya hidup. dunia konsumerisme adalah ruang sosial, tempat di mana konsumer dikosntruksi kehidupan sosialnya sehingga mengikuti arus tanda, citra dan penampakan luar yang tersegmentasikan. Kelima, polusi tubuh di mana penyinkapan tubuh berlebihan yang juga melekat dengan budaya media kontemporer. Keenam, polusi ruang dan waktu, pada saat tempo kehidupan yang dibangun kapitalisme telah menimbulkan kondisi panik. 

Maka sudah puasa-kah kita sebenarnya, Sudah islam-kah puasa kita?Suatu pertanyaan di mana pada ukuran terendah masyarakat postmodern masa kini harus mengakui hal ini. lalu perjuangan apakah yang dikibarkan oleh kita dalam puasa yang lapar dan haus. Atau jangan-jangan haus dan lapar hanya pengganti tren kekenyangan dan jadi ajang istirahat sejenak sembari menghormati aturan agama kita. Atau dalam skala lebih besarnya siapakah yang kita bebaskan belenggu kemanusiannya dari tirani kemiskinan dan hegemoni lainnya. Apakah benar dengan santunan dan hajatan massal A’la Ramadan beraroma segmentasi sudah layak dikatakan puasa kita sudah benar. Kita harus juga melakukan dalam puasa kita. Pertama, ajaran diet pengliatan (diet of visson) di abad ini manusia terjebak kondisi keharusan melihat. Kedua, ajaran minimalisme material (material minimalism), dalam islam dilakukan dengan sedekah tetapi jauhnya berusaha memberikan solusi pada semangat saling mensejahterahkan. Ketiga, ajaran pembatinan (inner orientation), bisa kita istilahkan sufisme pekotaan sebagai upaya mengembankan simplisitas gaya hidup yang telah dikelilingi hutan rimba benda, tetapi tanpa makna spiritual. Keempat, ajaran keserasian (harmony) dalam upaya berani menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tanpa harus mematahkan cara pilihan kehidupan manusia masing-masing. Kelima, ajaran kesimbangan (equibilirium) manusia harus mengambil alan kesimbangan di mana waktu material dan waktu spiritual benar dikerjakan dengan kesadaran yang substantif. 

Puasa merupakan bulan yang menciptakan manusia bebas berkesadaran dengan amal salih dan rasa empati tinggi. Bulan puasa yang berbeda dalam kacamata kita dan ukuran penghargaan tuhan pada ummat manusia tidak juga diharuskan pada ummat islam saja. Karena risalah puasa adalah beban amaliyah guna dikberikan pada semua manusia, di sanalah rasa toleransi harus berdiri, rasa kritis pada ketimpangan dibangun tidak melihat bagi siapa itu dilakukan. Keberadaan tuhan harus berdiri dan dirayakan di bulan puasa ini atas rasa humanisme sosial dengan semangat relegius dan rendah hati bukan atas nama melindungi orang puasa dengan senang hati memutus mata rantai kehidupan seseorang, maka Islam-kan puasa kita dan rayakan hari fitri sebagai kemenangan bersama. 

Penulis: Milki Amirus Sholeh 
(Pengurus Sanggar Ideopol Stratak Jakarta Raya)
.