Kemiskinan Menjerat Buruh Nelayan Jawa Timur
Cari Berita

Advertisement

Kemiskinan Menjerat Buruh Nelayan Jawa Timur

7 Apr 2016

Indikatormalang.com--Kemiskinan seolah menjadi harga mati bagi para nelayan. Setidaknya bayang-bayang ketidakpastian hidup selalu menghantui kehidupan mereka. Mungkin suatu saat mereka mendapat penghasilan dalam jumlah lumayan besar, sedang di saat yang lain sangat mungkin tidak memperoleh pendapatan sama sekali. Ketidakpastian ini makin diperkeruh dengan kawasan perairan yang sudah dalam kondisi overfishing, degradasi ekosistem pesisir-laut, dan lemahnya pemihakan kebijakan pembangunan untuk kaum nelayan. 

Selain itu, keterpurukan nasib nelayan juga disebabkan oleh keterbatasan sarana dan masih rendahnya sumber daya manusia. Hal tersebut merupakan rangkaian permasalahan yang tidak bisa dipisahkan begitu saja. Sebab, minimnya pengetahuan dan rendahnya tingkat pendidikan, maka sangat berpengaruh pada pendapatan dan kesejahteraannya. Penderitaan buruh nelayan diperparah lagi dengan adanya bagi hasil yang tidak adil dan tidak transparan lebih menguntungkan para pemilik modal. 

Potret kehidupan para nelayan semacam itu banyak dijumpai di beberapa pesisir pantai di kabupaten banyuwangi, salah satunya di kecamatan muncar di mana para nelayan yang hanya bermodalkan tenaga untuk melaut, selain harus mengeluarkan tenaga, nelayan juga tidak mempunyai kekuatan dalam memperjuangkan hak-haknya, semua itu dikendalikan oleh pemilik modal. 

Terjepitnya nasib nelayan di tangan pemilik modal tersebut tentu saja sangat menyulitkan dan membelenggu keinginan buruh nelayan dalam memperjuangkan hak-haknya untuk meningkatkan kesejahteraannya. Demi memutus mata rantai permasalahan nelayan, pemerintah perlu turun tangan untuk mengelola program jaminan sosial dengan memberikan bantuan modal, pembinaan, penyuluhan, pembangunan sumber daya manusia dan berbagai kebijakan lainnya. Di sini diperlukan pemikiran-pemikiran alternatif guna menjawab segala persoalan yang dialami oleh para buruh nelayan. 

Potensi sumberdaya perikanan di banyuwangi yang sangat berlimpah itu belum bisa mendongkrak taraf kehidupan yang layak bagi sebagian besar masyarakat nelayan. Padahal di hadapan mereka terbentang lautan emas berupa melimpahnya potensi perikanan. Konon didaerah pesisir itu tempatnya uang dan masyarakatnya kaya-kaya karena potensi perikanannya. Toh kenyataannya nasib buruh nelayan didaerah pesisir muncar masih terpuruk hingga--misalnya--harus menggadaikan sarung dan piring untuk mengepuli asap dapur. 

Banyuwangi yang memiliki potensi perikanan tetapi ironis. Pasalnya, potensi perikanan tidak bisa menghadirkan kemakmuran kecuali bagi para pemilik modal, dan kesejahteraan cuma jadi impian orang kecil seperti buruh nelayan. Kemiskinan yang kian melilit para buruh nelayan bagaikan sebuah lingkaran setan yang seolah tak pernah putus. 

Mengharap Komitmen Pemerintah 

Melihat realitas di atas, pemerintah sudah saatnya melakukan instrospeksi menyeluruh dan menata kembali prospek potensi kelautan dan perikanan. 

Hal yang sangat urgen sekarang ini adalah menggiatkan pemberdayaan terhadap masyarakat nelayan sekaligus kesejahteraannya antara lain: Pertama, guna meningkatkan produksi dan produktivitas usaha nelayan, pemerintah perlu memberikan bantuan permodalan dan sarana kerja yang memadai, sehingga mereka dapat mengembangkan usaha sebagaimana yang diharapkan. Bantuan tersebut selain harus melalui prosedur sederhana, juga bunganya harus lebih rendah dari yang diberikan rentenir agar masyarakat nelayan itu bisa lepas dari jeratan rentenir. 

Hal yang tidak kalah penting adalah perlunya dilakukan rehabilitasi lingkungan pesisir yang rusak. Jika hal tersebut dibiarkan, dikhawatirkan dapat berakibat selain semakin rusaknya lingkungan pesisir laut, sumber daya perikanannya juga akan semakin berkurang, padahal jumlah nelayan justru terus bertambah banyak. 

 Kedua, pembinaan dan penyuluhan yang diberikan kepada masyarakat nelayan harus disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga apa yang disuluhkan benar-benar bermanfaat dan bisa diaplikasikan. Hal ini sangat penting untuk lebih meningkatkan kemampuan dan kemandirian para nelayan. Selain pengetahuan praktis seperti penanganan pascapanen dan pengolahan hasil laut, hal yang tidak kalah penting dalam memberdayakan nelayan, khususnya anak-anak dan generasi muda adalah perlunya pemerintah mendirikan tempat belajar dan perpustakaan di lingkungan tempat tinggal masyarakat nelayan, sehingga mereka tetap dapat belajar dan membaca. 

Harapan itu bisa terwujud dengan melibatkan instansi terkait lainnya seperti Dinas Pendidikan untuk sarana belajar dan perpustakaan, Kalau saja upaya pemberdayaan di atas dapat dilakukan, maka program meningkatkan sumber daya manusia dan budaya membaca di lingkungan nelayan pun bisa tercapai. 

Di sisi lain harapan akan terjadinya peningkatan kesejahteraan dan kemampuan pada masyarakat nelayan pun akan semakin nyata. Jika saja peningkatan kemampuan sumber daya manusia masyarakat nelayan bisa dilaksanakan melalui program yang baik, konsisten dan berkesinambungan, diharapkan dalam waktu tidak terlalu lama para masyarakat nelayan yang serba kekurangan bisa naik kelas menjadi nelayan modern yang sejahtera. 

Selain berharap pada keseriusan pemerintah, berbagai pihak termasuk para pemilik modal, politisi dan ekonom, kalangan akademisi, penggiat gerakan sosial dan lingkungan, serta praktisi pendidikan agar berperan aktif dalam memetakan potensi masyarakat nelayan dan kawasan pesisir-laut sebagai basis konseptual dalam merumuskan kebijakan tentang pembangunan masyarakat pesisir yg lebih baik. 

Lingkungan pesisir dan sumber daya kelautan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat nelayan, sesungguhnya tidak hanya sarat dengan berbagai persoalan krusial yang kompleks, tetapi juga menyimpan potensi dan harapan masa depan yang menjanjikan, asal dikelola secara profesional dan penuh tanggung jawab. 

Penulis : Satori, S.Sos
Pemerhati Masalah Sosial Maritim sekaligus Aktivis Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Jawa Timur