Dari Manggarai Untuk Indonesia, Inilah Sepenggal Cerita Kami
Cari Berita

Advertisement

Dari Manggarai Untuk Indonesia, Inilah Sepenggal Cerita Kami

19 Feb 2016

Aktivitas Kami di SM3T Manggarai/Doc:Adit
Indikatormalang.com--Manggarai 27 Agustus 2014 adalah awal cerita kami menginjakkan kaki pertama kali di Bumi Manggarai, salah satu Kabupaten di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini hari yang sangat spesial buat kami,  Program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) telah memerikan jalan kepada kami untuk mengabdi dan mengenal lebih jauh tentang wajah pendidikan di Indonesia, tentunya saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari program SM3T, sebuah program yang bertujuan untuk pemerataan pendidikan dalam rangka mengejar 100 tahun kemerdekaan Indonesia atau disebut Generasi Emas Indonesia.

Nama saya Arif Setyo Adi atau akrab dipanggil Adit, saya alumni PGSD UMM.  Melalui Pendidikan Profesi Guru Universitas Negeri Malang saya mendapatkan kesempatan mengabdi  di SD Katolik Golo Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai NTT. Untuk pertama kalinya SD ini memiliki guru muslim yang mau mengajar di pedalaman pulau Flores dan tentu saja berlatar belakang yang beda.

Perasaan saya tertegun tak kala dihadapkan dengan realitas yang timpang, tak bijak memang membandingkan pembangunan di tanah kelahiran saya dengan tempat saya mengabdi, tapi inilah yang membuat saya menjadi lebih paham mengapa SM3T itu penting, mengapa saya sampai ke bumi Manggarai, disini banyak jalan-jalan menuju kecamatan masih  berupa jalan tanah dan jalan yang tidak rampung dikerjakan. Secara budaya, masyarakat Manggarai umumnya tidak banyak menguasai bahasa Indonesia dan tutur bahasa keseharian adalah bahasa suku Manggarai dengan berbagai dialek.

Hari pertama di penempatan tidaklah mudah, saya harus menempuh perjanan 12 km untuk sampai ke sekolah dengan medan yang sulit. Sesampainya di sekolah para guru menyambut dengan upacara “Kapu Adat” untuk pendatang dikampung kecil yang memiliki 112 penduduk itu. Perbedaan bahasa membuat kesulitan komunikasi hingga memerlukan penerjemah dari guru yang di sekolahan. Masyarakat di Manggarai terkenal dengan keramahannya di seluruh Flores.

Potret pendidikan di Manggarai memang masih jauh dari harapan ideal. Banyak angka putus sekolah terutama di SMP dan angka gizi buruk serta gagal panen adalah berita setiap tahun di Flores. Sekolah Dasar Katolik Golo merupakan sekolah naungan Keuskupan Manggarai yang berdiri tahun 1950. Sekolah ini memiliki bangunan dari kayu dengan jumlah murid 63.

Setiap senin pagi saya membawa bekal lauk dan beras untuk menginap selama 6 hari di sekolahnya. Urusan sayur bisa mencari di hutan karena alam disana masih perawan dan mata air dilindungi hukum adat. Tidak ada listrik, jalan mulus, sinyal selulerpun jam-jam’an. Namun tak pernah menyurutkan tekad saya untuk turut membangun pendidikan di Indonesia Timur sana.

Pagi sekali siswa-siswa yang mencari air sudah menyambut hangat kedatangan saya dengan teriakan yang ramai, mereka tanpak senang dengan kedatangan saya, pertanda ada teman belajar setiap malam meski berbekal lampu tenaga surya yang kecil. 3 malam sekali disel menyala untuk 2 rumah, dan 43 rumah lainnya memakai penerang dari api sebagian dari lampu tenaga surya yang kecil. Ironis memang betapa banyak dana untuk memajukan Indonesia timur namun 70 tahun mereka di tanah Flores masih sama saja belum ada peningkatan yang baik. Banyak ditemui pejabat disana adalah dikuasai segelintir dinasti saja dan angka korupsi serta penyelewengan adalah rahasia umum yang kerap dikatakan “sama-sama cari makan…”

Model belajar yang digunakan seperti model 90’an dimana masih banyak ditemui main fisik dalam mendidik anak. Listrik yang belum tersedia kadang membuat kesulitan administrasi sekolah dalam mengerjakan perihal penting, kebanyakan tulis tangan dan untuk urusan print harus jauh ke pusat kecamatan, itupun bila ada listrik sebab listrik tak selalu menyala di pusat kecamatan. Apalagi corak penduduk dengan emosi tinggi, kerap ditemui banyak tawuran antar desa karena persengketaan. Budaya mereka juga menunjang keburukan bagi anak-anak. Memang tidak bisa disalahkan karena minum saopi, moke ( sejenis arak ) adalah bagian dari adat mereka. Para wali murid lebih tertarik dengan pesta dan tarian dengan meminum arak daripada harus membayar uang sekolah anaknya. Dan kebiasaan itu terawatt turun temurun.

Saya memiliki 10 murid di kelas 4 SDK Golo, seperti laskar pelangi, hanya saja mereka dari timur jauh. Melewati hutan setiap pagi untuk ke sekolah sudah tradisi mereka dan pulang membawa kayu bakar, kebanyakan sepulang dari sekolah mereka memilih ke sawah dan mencari kayu. Anak-anak disana terampil dalam memegang golok dan memanjat, mereka masih alami.

Biasanya sepulang dari hutan mereka mandi di sumber air lalu masak dan belajar ke rumah kayu tempat saya tinggal. Mereka kerap bertanya-tanya tentang Jawa yang mereka pikir adalah Tempat yang bagus. Kebanyakan mereka tidak tahu benda-benda yang ada di buku pelajaran karena buku dari pemerintah hanya meliput tentang jawa saja, dan guru-guru beranggapan Indonesia itu Jawa. Rata-rata anak-anak bersekolah dengan seragam yang sudah lama dan kusam. Dengan membawa kantong plastik  berisi peralatan sekolah.

Sesak memang mengetahui kenyataan bahwa kebanyakan Indonesia Timur tak tersentuh kebijakan pusat. Banyak pulau dikontrakkan di gugusan kepulauan komodo. Dan sebagian dijual kepada turis untuk resort, mereka memakai uang asing sebagai alat transaksi di pulau itu.

Kembali lagi ke Golo , anak-anak biasanya sering melihat ketika saya berdo’a dan bertanya “Siapa Dewa Pa Adit…?” . mereka belum tahu Islam dan belum tahu tata peribadatan Muslim. Disana tempat alami, dimana anak anak masih bermain dengan permainan tradisional lempar kayu, lempar kemiri dan main cambuk. Biasanya saya membawa lauk dari kecamatan atau pulang jum’atan dari kabupaten dia belanja untuk bekal . ya… setiap jum;at saya mengajar sampai jam 9. Lalu ke kota sejauh 40 km untuk ibadah jum’at. Bila hari raya saya menuju ke perkampungan bugis di pesisir yang mayoritas muslim untuk merayakan Idul Fitri bersama. Jauh dari keluarga dan sebagai minoritas saya mengambil banyak pelajaran tentang toleransi dan bersyukur dalam keadaan apapun meski setiap hari makan dengan daun ketela atau saung daeng dalam bahasa Manggarai.

Program SM3T telah memberikan pengalaman yang baik buat saya, pengalaman yang serasa mengIndonesikan kembali jiwa kebangsaan saya,  cerita tentang program peduli siswa manggarai dengan setengah ton buku dari jawa, bantuan seribu paket alat sekolah, penanaman pohon untuk daerah rawan kekeringan di manggarai menjadi bagian kisah yang tak akan pernah terlupakan, ya inilah sepenggal cerita sederhana kami, dari Manggarai untuk Indonesia yang lebih baik. Salam

Penulis: Arif Setyo Adi, S.Pd
Guru Program SM3T & Ketua Panitia Program Peduli Siswa Manggarai